Selasa, 31 Desember 2013

Membaca Perempuan Lain (4)

"Lubuk hati manusia itu dalamnya tiada terduga-duga. Kita sangka sudah tiba pada dasarnya, akan tetapi masih lebih dalam lagi." 
Barangkali tidak salah jika Mochtar Lubis mendeskripsikan perasaan perempuan seperti itu dalam cerpennya yang berjudul "Perempuan". Mungkin begini, kebanyakan perempuan memilih untuk memaafkan laki-laki yang sangat dia cintai meskipun sudah berkali-kali disakiti tapi tidak laki-laki. Bisa saja seorang perempuan menunggu sang Kekasih sampai puluhan tahun tanpa ada laki-laki lain disisinya, tetapi sulit bagi seorang laki-laki jika hanya hidup dengan menanti satu perempuan saja sepanjang hidupnya. Saya katakan sulit, bukan berarti tidak mungkin. Saya baru paham hal semacam ini setelah akan menikah, karena seringnya laki-laki itu kelimpungan setengah mati jika harus menghadapi hasrat seksualnya yang  tinggi, yang mana sebetulnya merupakan anugerah tiada tara yang pernah diberikan Tuhan kepada manusia-para lelaki, hal yang patut mereka syukuri.

Bulan Desember ini, kota Yogyakarta menjadi semakin sulit dikenali. Terkadang hujan deras, namun hawa tetap panas. Terkadang langit terang, namun hujan datang tiba-tiba. Terkadang langit begitu mendung, namun rintikan hujan tak kunjung datang. Saat itu pula, entah mengapa jalan hidup ini juga semakin sulit dikenali. Kita tentu harus pandai mengenali diri sendiri sama seperti kita mengenali kehidupan kita. Namun ternyata membaca kehidupan itu lebih sulit dari yang pernah aku duga. Hujan deras telah berlalu, kini yang bersisa hanya rintikannya saja. Jika bukan karena hujan, mungkin aku tak akan punya waktu untuk berbicara dengan perempuan cerdas yang ada dihadapanku ini, Pembicaraan kami bermula karena menunggu hujan reda, sehingga kami dapat pulang ke rumah tanpa perlu berbasah-basah.  

Awalnya aku menceritakan kepada perempuan itu bahwa mungkin aku akan segera menikah. Dia sama sekali tidak kaget bahkan tidak terlalu antusias. Seolah-olah dia membaca keraguanku akan keputusan untuk segera menikah. Perempuan itu sudah berkepala tiga dan masih belum menunjukkan tanda-tanda keinginan untuk menikah. Ada sekelumit penasaran dalam kepalaku tentang keputusannya itu. Dia cantik dan menarik, aku bisa melihat dari kepribadiannya ketika pertama kali bertemu, tidak akan terlalu sulit untuk mencari laki-laki yang mau dengannya. 

Kemudian dia melayangkan imajinasinya tentang pernikahan dan apapun yang dia benci tentang laki-laki yang selalu menjadikan pernikahan sebagai hal menyelamatkan mereka dari kebutuhan seksual. Hanya saja memang dia perempuan aktivis sekaligus aktivis perempuan. Dosenku pernah menjelaskan secara detail tentang apa perbedaan 'perempuan aktivis' dan 'aktivis perempuan'; perempuan bisa sekaligus menjadi keduanya jika mereka memperjuangkan hak-haknya sebagai seorang wanita, tetapi laki-laki bisa menjadi aktivis perempuan jika mereka mau. Lagi-lagi gender. 

Kami pun membicarakan tentang kasus seorang penulis sekaligus sastrawan yang terlibat skandal dengan mahasiswinya yang sedang menulis tugas akhir di kuliah yang kebetulan tentang karya sastranya. Kemudian sastrawan itu justru memanfaatkan mahasiswi itu. Begitulah yang ditulis di koran-koran online dan majalah bulanan. "Kenapa mahasiswi itu mau ya? Bukankah dia sudah tahu bahwa sastrawan itu sudah beristri apalagi beranak pinak?" tandasku menanggapi obrolan kami. 
"Sastrawan itu pasti mempesona bagi dunia mahasiswi yang masih terlampau hijau itu" jawabnya dingin. 
"tapi tetap saja, melibatkan hubungan seksual hanya demi pengalaman penting dalam hidup tanpa ada komitmen yang jelas? aku tak pernah mau mengorbankan diri sejauh itu?" Lebih jauh lagi, agama melarang itu dengan jelas. batinku.
"Begitu ya? Masa' sih?"
Aku hanya diam saja melihat mukanya yang masam.
"Aku pernah mengalami hal yang sama seperti mahasiswi itu. tapi pengalamanku tak berakhir seburuk itu. tetap saja itu buruk dalam perjalanan hidupku".
Perempuan adalah makhluk yang mengandalkan emosinya. Jelas sekali bahwa dia tidak akan melakukan hal-hal tertentu yang membahayakan kehidupannya jika dia tidak mengalami hal yang menyeret emosinya lebih dalam. Sedalam apa? itulah yang masih menjadi pertanyaan bagi saya, yang mana seorang perempuan dan juga Mochtar Lubis yang seorang laki-laki yang sangat ingin mengerti tentang perempuan. 
Saya sebetulnya tidak heran mendengarnya berkata demikian. Pengambarannya sudah sangat jelas, dia seorang perempuan yang berasal dari keluarga yang memiliki budaya patriaki tinggi. Menjadi resisten, feminist dan frontal sedemikian rupa pasti merupakan wujud sikapnya acuh tak acuh terhadap masyarakat yang menekan dan melibatkan emosinya begitu dalam. 

"Barangkali Direktur sendiri akan kaget jika mengetahui aku pernah menjadi perempuan simpanan" sambungnya dengan penuh kemenangan. "akan lebih baik jika tidak ada yang mengetahui tentang itu di kantor".
Bagaimana bisa? batinku sedikit penasaran.
"Laki-laki itu terlampau mempesona dengan segala yang dimilikinya" lanjutnya. "Sehingga perempuan seperti aku, yang kala itu masih polos dan lugu menjadi buta dan sangat rapuh--fragile." 
Perempuan menyangkut pengalaman buruknya terkadang bisa menjadi permisif jika melibatkan emosi yang mendalam. 
"Sekarang kita analogikan dengan mahasiswi itu, kita sama-sama setuju kan dia adalah 'korban'?" 
"Ya, ya" jawabku yang berarti setuju bahwa dia juga merupakan 'korban' dari laki-laki entah siapa. 
"Begini, untuk mahasiswi yang baru akan lulus itu, bayangkan saja jika sastrawan itu, si predator itu, membawanya ke sebuah acara khusus untuk para penulis-penulis terkenal seperti Goenawan Muhammad, Ayu Utami, bertemu dengan orang-orang seperti itu--dia seperti berada diatas angin, sambil bergumam 'betapa hebatnya laki-laki ini berkumpul dengan penulis-penulis hebat; atau mengagumi dirinya sendiri sehingga mampu mendapat laki-laki hebat dalam pelukannya kira-kira seperti itu" 
"Ya aku mengerti"
"Dan perasaan seperti itu membuatnya lupa akan realitas buruk yang dia akan alami"
"Dia tidak memikirkan resikonya?"
"Buta!"
"Ya seperti itu" kataku membenarkan analoginya.
"Aku dulu juga seperti itu, dibawa bertemu kurator-kurator terkenal, datang ke pameran-pameran khusus dengan undangan VIP, rasanya seperti diatas angin" Katanya dengan sedikit nada menyesal. "Untungnya aku cepat sadar apa yang sebenarnya dia inginkan sebelum hal buruk terjadi".
Aku hanya tertegun. 
"Dia juga punya istri dan anak lho" tambahnya "Hanya aku tidak tahu awalnya".
"Kok jadi tahu?"
"Aku telpon dia, dan istrinya mengatakan bahwa suaminya sedang ada dikamar mandi" jelasnya "betapa kagetnya aku mendengar perempuan itu menyebutnya dengan kata 'suamiku' kan?".
"Setelah itu kalian putus?" tanyaku.
"Enggak" jawabnya sambil meringis "dan itulah kesalahanku sekaligus kebodohan, bermain-main dengan api".
Aku masih ingin tahu kelanjutannya, batinku.
"Kala itu dia begitu mempesona, dan sekarang begitu menjijikan" katanya penuh kebencian. 

Kata "menjijikan" itu menyiratkan akan makna lebih dari sekedar kebencian. Dilukai, dikhianti dan terlebih lagi masih terus menerus disakiti dan dipermainkan. Jika merunut apa yang diungkapkan Mochtar Lubis tadi. Sampai tahap apa sebetulnya emosinya telah disentuh laki-laki itu, mengapa begitu traumatis? 

Lamunannya melayang jauh. Ada jeda panjang sebelum akhirnya dia mengatakan sesuatu tentang pernikahanku.
"Aku bahagia jika akhirnya kamu memutuskan untuk menikah dengan laki-laki baik itu. Sebetulnya begini, seorang laki-laki datang menyatakan diri untuk mengajakmu menikah itu sudah cukup baik"
"Maksudnya?"
"Sebab setiap diri laki-laki itu ada sifat predator terhadap perempuan seperti sastrawan itu. Ketika laki-laki itu menikah, berarti dia sudah mengakhiri pemburuannya ketimbang laki-laki yang terus menerus menjalin hubungan dengan perempuan-perempuan yang mereka sukai tanpa ada ikatan yang pasti, terus mengincar perempuan-perempuan. Itu sebabnya lelaki yang memutuskan menikah itu adalah lelaki yang memiliki niat baik dan ingin bertanggungjawab, he's good enough" katanya mengakhiri pembicaraan diantara kami. 

And good enough is good enough, pikirku.

M.
Yogyakarta, Desember 2013

Kamis, 19 Desember 2013

Membaca ‘Arab’ Lewat Biennale Jogja XII Equator #2

Biennale Jogja XII Equator #2 yang bertema Indonesia Encounters Arab Region dengan tagline “Not A Dead End”. Sebetulnya penuh tanda tanya. Namun bukan seni namanya jika mudah dimengerti. Arab Region dikenal sebagai tempat yang memiliki kesan eksklusif karena dibumbui oleh aturan syariat-syariat agama, terutama Islam. Bagaimanakah budaya Arab mengekspresikan dirinya dihadapan sebuah sistem penegakan syariah yang begitu ketat? Membaca pameran ini sepertinya akan menemukan banyak hal yang menjadi jeritan dari seniman-seniman Arab Region di negara asalnya. Meskipun ada beberapa karya dari seniman-seniman Indonesia yang sangat menarik untuk dinikmati. 

courtesy photos by @narastika

Benar saja, sesampai di Jogja National Museum, ada banyak karya seni yang menurut saya merupakan sebuah kritik terhadap kekuatan Arab. Bagian Arab banyak menjadi tempat-tempat suci sehingga menjadi simbol kesyakralan agama. Melanjutkan tanda Tanya, mengapa ‘Arab Region’ bukan ‘Middle East’?  padahal jika ingin menilai dari letak geografis, istilah-istilah semacam Middle East tentu terdengar jauh lebih geografis. Maka saya menduga disini ada kekuatan Arab sebagai magnet tertentu. 


Karya dengan judul "Taman Berbulan Kembar (Garden with Twin Moon)"  oleh Eko Nugroho yang berkolaborasi dengan Daging Tumbuh.

Karya Eko Nugroho yang berwujud; patung dengan menggunakan mukena (semacam alat sholat bagi perempuan) diletakkan dihadapan dinding bertuliskan Hypocrite dengan samar di tembok, sebuah kritik akan suatu sistem yang seolah religius namun secara sembunyi-sembunyi menjilat sistem itu sendiri. Maka yang terlihat oleh mata adalah keindahan dari simbol religious, sementara yang samar-samar ya 'Hypocrite'.

Kita harus bersikap bijak dalam menghadapi realitas yang kerap muncul dari hubungan mispersepsi ajaran dan problematika yang muncul di masyarakat. Tentu kerap mendengar istilah yang Arabisasi, beberapa intelektual semacam sejarawan Phillip K. Hitti atau ulama Gus Mus sering menyitir, “Islam itu bukan Arab”. Meski Islam lahir dan tumbuh di tanah daerah Arab, tidak lantas semua budaya Arab merupakan serta merta ajaran Islam, begitulah kira-kira.

 M.
Yogyakarta, Desember 2013.

Sabtu, 14 Desember 2013

Membaca Mobilitas Manusia dalam “Biennale Jogja XII Equator #2”


photos courtesy of @narastika

Ketika saya memasuki Terminal BJXII Equator #2 di Taman Budaya Yogya (TBY) satu dari lima venue Biennale Jogja, seperti biasa karya seni selalu menunjukan daya tarik tersendiri, saya melihat Tim Artistik dari perhelatan pameran seni rupa ini sengaja mendesain ruangan galeri seperti sebuah Bandara. Saat itulah saya menyadari mengapa disebut Terminal dan arti kata “Welcome to Airport” di salah satu graffiti beranda sebelum memasuki Galeri TBY. Selayaknya memasuki sebuah airport tempat dimana orang datang, pergi dan bersinggah sejenak dari sebuah perjalanan panjang, airport mungkin juga mencerminkan mobilitas dari manusia itu sendiri. Maka, saya pun menerka-nerka; kearah Gate nomor berapa saya harus menuju?



Yang paling saya suka dari mengujungi pameran seni rupa adalah selalu ada makna yang dari setiap karya seni yang dibuat oleh para seniman. Sembari menebak-nebak imajinasi sang seniman, saya hanyut dalam pesan yang muncul dari karya seni tersebut. Saya termasuk orang yang cukup awam dengan dunia seni rupa, tetapi bisa dibilang menyukai dunia tersebut. Sebut saja, penikmat seni rupa. Outliners

Karya yang cukup menarik yaitu Berjudul “Deru” karya Ugo Untoro, Kaki-kaki kuda yang sengaja di pasang di langit-langit Galeri TBY. Sedari awal saya sudah menduga kaki-kaki Kuda itu merupakan kaki asli, karena bentuknya begitu mirip. Namun teman saya mengatakan itu hanya kayu yang dibentuk kaki kuda, sampai saya menemukan sebuah artikel yang menyatakan bahwa puluhan kaki kuda itu betul-betul asli. Memang sangat mengecoh, untuk apa sang seniman harus mengumpulkan kaki-kaki itu? Kuda adalah hewan tunggangan kuat yang berpengaruh bagi mobilitas manusia di masa lalu.  Melihat kaki-kaki di langit-langit itu seperti melihat kuda-kuda kuat berlarian dalam pikiran saya. Menderu; Gedebak...gedebuk...gedebak...gedebuk. Karya seni itu cukup meninggalkan kesan yang mendalam akan keberadaan kuda dalam realitasnya. 

Karya instalasi berjudul "Deru" oleh seniman Ugo Untoro

Karya lain cukup menyita perhatian adalah adanya loker, loker, dan lagi-lagi loker dibeberapa tempat pameran Biennale Jogja XII Equator #2. Sama. Pertanyaan menarik adalah apa maksudnya? Loker-loker tersebut sebuah karya seni dengan judul “100 Moving Numbers” karya Syagini Ratna Wulan yang menunjukkan bahwa satu tempat berkesinambungan dengan yang lain. Di dalam loker tersebut juga terdapat benda-benda sederhana yang kadang muncul dalam kehidupan kita sehari-hari. Sembari ada kartu pos di dalam setiap loker yang berisi nomor dan memberikan narasi tertentu. Sekali lagi, ini semacam menumbuhkan imajinasi bagi para penikmat seni seperti saya. 


Karya seni dengan judul “100 Moving Numbers” karya Syagini Ratna Wulan


Acara ini diselenggarakan pada 16 November 2013 sampai 6 Januari 2014, bagi belum sempat mengunjungi, tidak ada salahnya jika ingin meluangkan waktunya sejenak untuk menikmati karya seni. Beberapa diantara Karya seni yang ditampilkan telah memberikan impuls; membuka mata, hati dan pikiran bagi setiap pengunjung yang menikmatinya. 

M.
Yogyakarta dan Hujan di Akhir tahun 2013.

Senin, 25 November 2013

Interfaith Youth Pilgrimage: 10 Hari Perjalanan Ziarah Penuh Makna

“Experiencing the Sacred Spaces of the others” atau merasakan ruang suci dari (agama) lain inilah tagline dari program Interfaith Youth Pilgrimage (IYP), merupakan salah satu alasan diselenggarakan program ini. Berangkat dari keprihatinan atas peristiwa-peristiwa konflik yang kerap terjadi dengan mengatasnamakan agama di Indonesia, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama di kalangan kaum muda, yang kelak akan menjadi penerus kepemimpinan di Indonesia. Para peserta IYP telah diajak untuk mempelajari mengenai bagaimana toleransi dan keberagaman dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam “ruang suci” masing-masing agama.


Belajar dari Pengalaman Live in
Program ini telah berhasil memberikan pengalaman nyata utamanya dalam menghapus stigma atau prasangka buruk terhadap agama lain, seperti yang dialami oleh Masduri, peserta dari Madura yang merasa tersentuh dengan dalamnya umat Nasrani dalam melantunkan doa-doanya. Masduri menambahkan setelah mengikuti program ini menjadi lebih terbuka kepada siapa saja, tanpa melihat agamanya, karena kebaikan bisa datang dari siapa saja, termasuk dari umat beragama yang lain. 
Salah satu peserta bernama Firman, menyatakan perasaannya dengan mengikuti seperti menemukan kembali damai yang telah lama hilang di Negeri Indonesia ini. Firman yang juga merupakan mahasiswa Universitas Pattimura datang jauh-jauh dari Ambon Manise, Maluku khusus untuk mengikuti program ini, “Saya berangkat menuju Yogyakarta dengan meninggalkan rutinitas kuliah dan aktivitas lain dikampus biruku yaitu Universitas Pattimura Ambon hanya karena satu hal yakni lewat IYP ini dapat tercipta kembali trust diantara kami anak muda Indonesia yang berbeda-beda agama dan suku bangsa”. Keluarga Firman merupakan salah satu korban dari konflik agama yang terjadi di Maluku tahun 1999. “Bagiku semua momen dalam 10 hari perjalanan bermakna ini sangatlah berharga. Namun, momen yang tak kulupakan yakni ketika saya (sebagai seorang muslim) live in dirumah jemaat GKJ Sidomukti, Salatiga. Pada awalnya, saya merasa ada yang berbeda seperti ada semacam gejolak batin dalam jiwaku. Bagaimana tidak, saya berasal dari daerah konflik yang mengatasnamakan agama kemudian cara pandang saya telah dibentuk oleh sejarah atas duka masa lalu, dengan menyatakan, diluar agama saya (Islam) terutama Kristen adalah musuh (stigma dalam komunitasku). Kini saya diperhadapkan dengan realitas yang berbeda, tinggal serumah dengan mereka (keluarga jemaat)”. Namun, Firman justru menjadikan pengalaman berharga tersebut sebagai sebuah refleksi, dengan memaafkan dan tidak menyimpan dendam dari luka masa lalu. Dia menyadari bahwa perbedaan keyakinan tidak bisa dijadikan alasan untuk memicu permusuhan dan konflik. Agama bukanlah sumber kekerasan melainkan sumber kedamaian bagi sesama dan semesta alam.
Kisah lain datang dari Susanto, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Budha (STAB) Syailendra. Susanto terkesan dengan pengalamannya live in di Pondok Pesantren, “Dari pengalaman tinggal di dua tempat pondok pesantren yang berbeda, disitulah saya mengetahui bahwa tidak semua pondok pesantren adalah sarang dari teroris atau gerakan kekerasan yang selama ini saya lihat di beberapa media masa”. Peserta yang lain, Geraldi D. Kongkoli berasal dari Poso, yang juga pernah live in di Pondok Pesantren Edi Mancoro Semarang, sangat terkesan dengan upaya transformatif pesantren tersebut dan mengubah stigma selama ini tentang pesantren dan tentang buruknya citra Islam.

Mencetuskan Petisi Perdamaian
Setelah mengikuti 10 hari perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci, berdialog dengan berbagai komunitas agama dan live in di masyarakat, 28 peserta IYP merumuskan 7 poin petisi perdamaian sebagai hasil dari kesadaran mereka. Peserta adalah perwakilan dari berbagai daerah di provinsi Sumatra, Sulawesi, Jawa, Bali, Kalimantan, NTT, NTB, dan Maluku. Petisi ini menghimbau kepada generasi muda, masyarakat dan pemerintah Indonesia untuk lebih menghargai perbedaan nilai-nilai agama, menghapus prasangka, merawat keragaman, lebih menghayati nilai-nilai agama, menolak kekerasan atas nama agama dan secara khusus mengajak generasi muda Indonesia untuk menjadi inspirator dan agen perdamaian.


Program IYP ini di dukung oleh Kedutaan Besar Amerika Sertikat melalui program Alumni Engagement Innovation Fund (AEIF) 2013, dan dengan dukungan dari berbagai lembaga seperti Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Centre for Religious and Cultural Studies(CRCS) UGM, PSPP Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), PERCIK, Peace Generation Bandung, Pondok Pesantren Edi Mancoro, Seminari Mertoyudan Magelang dan DIAN-Interfidei. IYP diselenggarakan dari tanggal 10-20 November 2013 di beberapa kota: Yogyakarta, Surakarta, Karanganyar, Salatiga, Semarang, Magelang dan Yogyakarta.
Tujuan IYP ini, seperti yang disampaikan Team Leader IYP, Elis Z. Anis, M.A. dalam pembukaan IYP (10/10) adalah untuk membangun pemahaman yang mendalam mengenai akar persoalan konflik agama di Indonesia dan menciptakan  strategi yang relevan dalam mengatasi konflik atau persoalan antar iman. Di akhir program, peserta IYP diharapkan mampu membangun komitmen dalam memperjuangkan perdamaian diantara umat beragama. Peserta menandatangani petisi perdamaian dan akan membagi pengalaman mereka melalui komunitas masing-masing dan melalui media massa.


Mazia Rizqi Izzatika,
Organizing Committee IYP Indonesia

Jumat, 22 November 2013

Menggoda


Aku tak tahu mana yang lebih benar. Laki-laki yang gemar menggoda perempuan atau perempuan yang menikmati ketika ada laki-laki yang menggoda. Entah mengapa selalu saja ada laki-laki yang iseng menggoda; Menatap malu-malu. Menyanjung dengan kata-kata romantis. Mengirimkan sajak-sajak puitis. Memutarkan lagu-lagu nostalgia. 

Sejak jumpa kita pertama kulangsung jatuh cinta.
Walau kutahu kau ada pemiliknya.
Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani.
Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini.
Maka ijinkanlah aku mencintaimu Atau bolehkan aku sekedar sayang padamu. 
Memang serba salah rasanya tertusuk panah cinta.
Apalagi aku juga ada pemiliknya.
Tapi kutak mampu membohongi hati nurani.
Kutak mampu menghindari gejolak cinta ini.
Maka maafkan jikaku mencintaimu.
Atau biarkan kumengharap kau sayang padaku.
(Kala Cinta Menggoda oleh Chrisye)

Terkadang risih. Terkadang geli.

M.
Magelang menuju Yogyakarta, November 2013.

Jumat, 23 Agustus 2013

Penyuluhan Sampah Plastik di Padukuhan Dukuh, Desa Margoagung, Seyegan

Barangkali kita memang terlampau egois jika tak mau peduli dengan sampah. Kita adalah manusia penghasil sampah. Setiap harinya saja entah itu shampoo, bungkus makanan, kertas, barang elektronik, plastik pembalut ataupun rokok, benda-benda sederhana yang begitu dekat dengan kita justru menghasilkan sampah. Namun ketika kita bersanding dengan sampah, tidak sedikit dari kita justru enggan, jijik dan 'angkat tangan', seolah-olah kita adalah manusia yang tak pernah menghasilkan sampah. 

Permasalahan sampah yang terjadi didepan mata itulah yang menggerakan saya dan teman-teman untuk mengadakan penyuluhan tentang pengelolaan sampah, baik itu sampah organik ataupun non-organik. Keinginan saya untuk mengadakan program ini sebetulnya hanya sederhana yaitu lebih kepada pengembangan ibu-ibu dasawisma. Para ibu rumah tangga di Desa ini banyak memiliki waktu luang sehingga sangat baik jika waktu yang mereka miliki digunakan untuk melakukan kerajinan, akan lebih baik lagi jika kerajinan tersebut berkaitan dengan pengelolaan sampah. Meskipun ada juga alasan lain yaitu keprihatinan saya dengan kondisi pengelolaan sampah yang ada di Desa ini. Selama ini, sampah hanya dibuang begitu saja di sungai belakang rumah, tanpa ada seorang pun yang peduli akibat dari pembuangan sampah apabila terus menerus dilakukan. Mungkin bisa banjir. Mungkin bisa longsor. Mungkin bisa menjadi sarang penyakit. Padahal di padukuhan ini sendiri sudah ada warga yang terkena virus air kencing tikus, atau leptospirosis, mungkin adanya penyakit berbahaya ini cara lain Tuhan untuk mengingatkan kita agar lebih menjaga lingkungan. 

Mengerjakan program ini tentu saya tidak bisa sendirian, selain jauh dari keahlian studi saya, dalam beberapa hal saya masih harus mempelajari tentang pengelolaan sampah terutama sampah plastik, oleh karena itu saya melaksanakannya bersama dua teman saya dari klauster sainstek yaitu Umi (MIPA) dan Daniel (Teknik). Beberapa dari kami (mahasiswa KKN) memang sangat minim akan pengetahuan soal pengelolaan sampah, namun hal itu tidak mengecilkan semangat kami untuk berhenti begitu saja, kami berusaha mempelajari mengenai pengelolaan sampah, bahkan kami mendatangi beberapa tempat yang kira-kira bisa menjadi referensi untuk mendapat pengetahuan tentang pengelolaan sampah. Salah satunya, kami sempat mengunjungi Desa Wisata Lingkungan Sukunan, merupakan Desa di daerah Gamping, Yogyakarta yang terkenal sebagai tempat percontohan pengelolaan sampah, mulai dari sampah organik dan non-organik. 

Setelah mencari tahu informasi kesana-kemari akhirnya kami mendapatkan kontak pak Iswanto, yang kemudian kami tahu bahwa beliau adalah Dosen Poltekkes yang telah menggerakkan masyarakat di Desa Sukunan untuk melakukan pengelolaan sampah secara serius. Setelah mencoba untuk menghubungi Pak Iswanto, beliau justru meminta kami untuk menghubungi mbak Harti. Pada hari Jum'at, kami memutuskan untuk berangkat langsung ke Desa Sukunan untuk menemui mbak Harti tersebut. Diluar perkiraan saya ternyata Desa Sukunan tidak serapi dan sebersih yang saya kira, namun jika dibandingkan dengan desa lain yang ada di Yogyakarta, lingkungan Desa Sukunan memang terlihat terawat dan terjaga. Di Desa Sukunan juga telah disediakan peta bagi setiap pengunjung sehingga kami bisa mengetahui tempat-tempat yang dibuat khusus untuk pengelolaan sampah. Pada awal kunjungan, tempat pertama yang kami coba kunjungi adalah Lumbung Sampah, tempat ini pada dasarnya TPS (Tempat Pembuangan Sampah) yaitu tempat pengumpulan sampah dari sampah-sampah rumah tangga. Setiap rumah di Sukunan diharuskan memisahkan sampah organik rumah tangga mereka dan memasukkannya dalam bak pengomposan. Kemudian masyarakat akan mengolah sendiri pengomposan tersebut dengan komposter sebagai alat pembuatan kompos. 

Gambar 1. Klasifikasi sampah yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Sukunan. 

 
Gambar 2. Lumbung sampah Kampung Sukunan beserta penggolongan sampah didalamnya.

Karena kami ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang Sukunan, maka kami pun pergi mencari rumah mbak Harti. Ketika kami sampai dirumah, semua mata kami langsung tertuju pada taplak meja yang terbuat dari bungkus indomie. Ternyat ambak Harti juga merupakan salah satu penyuluh tentang pengelolaan sampah terutama terkait dengan kerajinan dari sampah plastik. Maka kami pun mencoba melakukan wawancara singkat dengan mbak Harti, kami menanyakan berbagai macam masalah seputar pengelolaan sampah, serta tentang bagaimana mengubah mindset masyarakat Sukunan yang bisa bergerak bersama-sama untuk melakukan pengelolaan sampah. 

Mbak Harti menyatakan bahwa pelopornya yaitu Pak Iswanto, yang mengajak masyarakat untuk peduli melakukan pengelolaan sampah. "Awalnya sulit mengajak orang lain dan banyak yang mencibir, tapi makin lama ya yang mencibir malu sendiri, yang lain mau memilah sampah kok sendirinya tidak". Mbak Harti juga menyatakan bahwa pengelolaan sampah memang harus dimulai dari diri kita sendiri dan hal yang terkecil, sampah rumah rumah tangga, tidak bisa jika kita hanya memulainya dengan yang besar saja. Sebab sampah itu dihasilkan dari individu-individu. 

Masyarakat desa Sukunan membagi sampah menjadi 3 kategori, yaitu sampah plastik, sampah kertas, dan sampah logam. Warga memisahkan dengan cara menyediakan 3 macam karung berbeda di setiap rumah. Karung-karung tersebut dibedakan berdasarkan jenis sampahnya. Setelah karung-karung sampah yang berada di setiap rumah penuh, warga bisa mengumpulkannya ke dalam 3 drum besar yang telah disediakan di beberapa sudut desa. Dalam waktu yang telah ditentukan, drum-drum disetor ke TPS yang sudah dibangun di desa Sukunan. Jika jumlah sampah kira-kira sudah mencapai 1 truk, sampah dijual ke pengepul. Akan tetapi ternyata ada jenis sampah yang kurang diminati oleh pengepul. Sampah plastik yang berwarna dan dilapisi aluminium foil tidak mempunyai harga jual kembali yang tinggi, sehingga pengepul enggan mengambilnya. Sampah jenis ini biasanya berakhir dengan dibakar atau dikubur. Warga menyadari tindakan tersebut sangat tidak ramah lingkungan. Warga Sukunan mencoba menyikapi hal tersebut dengan mengolah sampah plastik menjadi barang yang lebih bernilai. Kemudian muncul ide-ide kreatif membuat tas, dompet, tempat ponsel, hingga tempat koran dari sampah plastik. Pada awalnya diadakan pelatihan rutin oleh ibu-ibu PKK untuk membuat kerajinan tersebut. Pada perjalanannya, hampir semua ibu-ibu Sukunan bisa melaksanakan produksi sendiri di rumah masing-masing. 

Nah ide-ide itulah yang ingin kami tularkan di Desa Margoagung, memulai pelatihan tentang pengolahan sampah plastik, penggunaannya serta pengolahannya. Awal mulanya kami mencoba mengadakan pelatihan pemilahaan sampah, sebab perilaku pemilahaan sampah memang sudah harus diterapkan sejak awal agar dapat membantu pengelohan sampah. Kami membuatkan semacam percontohan tempat pemilahan sampah, untuk rumahan melalui penyuluhan kepada ibu-ibu dasawisma di RT 01/02 di Desa Margoagung. Melalui percontohan ini kami harapkan masyarakat untuk dapat meneruskan pemilahan sampah. Pada percontohan pemisahan sampah dibagi menjadi tiga, yaitu sampah plastik, sampah organik dan sampah kertas. Hal ini sesuai dengan pemilahan sampah berbasis pemanfaatan. 

Gambar 3. Contoh pembuatan pemilahan sampah rumah tangga yang dibuat oleh Mahasiswa KKN 

Gambar 4. Penyuluhan sampah plastik dan gaya hidup go green. 

Sampah plastik dapat digunakan untuk kerajinan, sementara sampah organik dapat digunakan untuk pupuk kompos ataupun pupuk cair , kemudian saya bertanggung jawab untuk Penyuluhan tentang plastik, menggunakan model terkait dengan jenis-jenis plastik yang biasa digunakan untuk tempat makan atau konsumsi alternatif dan tidak sekali pakai. Pelatihan pengelolaan sampah ini dilaksanakan untuk memberikan ketrampilan lebih kepada ibu-ibu dasawisma agar bisa memanfaatkan sampah, khususnya sampah plastik, karena sampah plastik merupakan sampah yang sulit terurai. Selanjutnya untuk pemanfaatan limbah sampah organik, Daniel telah membuatkan dan memperkenalkan komposter, sebagai alat pengurai sampah organik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos atau pupuk cair. Ide pembuatan komposter ini dipelajari dari KP4 (Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) UGM , yang juga merupakan Mitra dari KKN SLM 21. Dimana KP4 UGM juga melakukan penelitian serupa terkait starter atau zat yang dapat membantu mengembangbiakan bakteri pengurai sampah (mikroba) agar dapat menjadi pupuk, dengan demikian kami sebagai mahasiswa KKN dapat secara langsung mengaplikasikan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh KP4 UGM. Komposter yang diperkenalkan Daniel dan teman-teman KKN lainnya cukup sederhana yaitu berupa tong plastik yang diberi penyekat sampah semacam saringan, agar nantinya cairan dari sampah yang telah terurai menjadi pupuk cair atau pupuk kompos. 

Sementara Umi mengadakan pelatihan kreasi kerajinan tangan dari sampah plastik seperti bunga dari kantong plastik (kresek) atau botol plastik. Pelatihan yang diajarkan oleh Umi ini juga didapat dari workshop pengelolaan sampah yang berkerjasama antara KKN-PPM UGM Unit SLM 20 dan KP4 UGM di Berbah. 

M.
Yogyakarta, July 2013

Kamis, 22 Agustus 2013

Pelatihan Kaligrafi with Anak-anak Dukuh

Akhirnya program terakhir TPA, untuk belajar bareng nulis Kaligrafi terlaksana :) 
dan ini beberapa dari karya terbaik mereka:



Kamis, 08 Agustus 2013

Eid Mubarak!


Dear readers, taqobbalallahu minna wa-minkum, syiyamana wa-siyamakum, minal 'aidin wal-faizin, May Allah accept our fasting, prayers, our ruku’ and sujood, devotions and obedience. And that He increase our Iman, Syukr and guide us to become the Mutaiins. Aamiin.


Happy Eid al-Fitr!

M.
Yogyakarta, August 2013

Minggu, 28 Juli 2013

Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Korupsi di Desa Margoagung, Seyegan, Sleman

Adanya penyelenggaraan program ini dimulai dengan sebuah permasalahan yaitu para pegawai kelurahan masih belum memahami jenis-jenis perbuatan yang dapat digolongkan dalam Tindak Pidana Korupsi sehingga terkadang mereka menentukan suatu kebijakan tertentu dengan niat baik bagi kepentingan masyarakat namun diketahui oleh LSM atau lembaga hukum lain yang ternyata kebijakan tersebut termasuk dalam jenis tindak pidana korupsi. Oleh sebab itu untuk memperluas pengetahuan para pegawai dan pejabat kelurahan Desa Margoagung dan mencegah terjadi perkara yang tidak diinginkan maka dibutuhkan penyuluhan atau pelatihan terkait dengan Tindak Pidana Korupsi dan Gratifikasi.


Pada tanggal 28 Juli 2013, KKN-PPM UGM berkerjasama dengan Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM mengadakan Penyuluhan Hukum tentang Anti Korupsi dan Gratifikasi di Balai Desa Margoagung, Seyegan, Sleman. Dengan pembicara Faris Fachryan S.H. yang merupakan peneliti muda di PUKAT, membuka penyuluhan dengan penjelasan terkait dengan gratifikasi.


Acara ini berjalan lancar dengan dihadiri oleh 15 orang dari pegawai atau perangkat Desa dan pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD). Bahkan beberapa diskusi menarik sempat muncul dalam sesi tanya-jawab dengan pembicara. Pertanyaan yang diajukan oleh peserta penyuluhan adalah seputar gratifikasi yang sering terbentur dengan unggah-ungguh atau sopan santun yang telah ada di masyarakat Jawa itu sendiri. Pada dasarnya, kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang tindak pidana korupsi khususnya yang terkait dengan gratifikasi dapat menjadi penyebab keterlibatan seseorang dalam perkara korupsi khususnya gratifikasi. Di sisi lain, kurangnya pengetahuan tersebut dapat juga menyebabkan timbulnya rasa ketakutan yang berlebihan pada setiap orang penyelenggara urusan pemerintahan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Untuk itu, bagi Perangkat Desa dibutuhkan pemahaman yang tepat agar dapat berdampak positif dalam pelaksanaan tugas dan fungsi yang menjadi tanggung jawab setiap perangkat desa. 

KKN-PPM Unit SLM 21 menyelenggarakan kegiatan penyuluhan hukum ini diharapkan dapat dijadikan sarana untuk mendapatkan pengetahuan yang sebanyak-banyaknya dan dapat digunakan sebagai pengetahuan dalam menghindari diri sendiri dan rekan kerja lainnya dari keterlibatan dalam tindak pidana korupsi dalam hal ini gratifikasi.


Penanggung Jawab Kegiatan:
Mazia Rizqi Izzatika
Ghina Rahmantika
Fadhil

Selasa, 23 Juli 2013

The Other Side of Us

Dinginnya malam tidak membuat kita menyerah untuk kembali ke pondokan dan membungkus diri dengan selimut hangat. Kita justru melanjutkan perjalanan untuk menghabis sisa-sisa waktu menuju tengah malam. Hingga sampailah pada sebuah cafe yang sebetulnya berada tak jauh dari campus yang telah lama kita kenal. Malam itu kita bertujuh seperti masuk pada sisi lain dari pribadi masing-masing. Hingga percakapan tentang rasa dan ketertarikan dengan lawan jenis pun tak bisa dihindari. Entah mengapa selalu ada saja rasa ingin tahu tentang perasaan orang lain. 


Jika kalian selalu bertanya; mengapa malam itu aku menjadi begitu pendiam? Sifat asliku memang tak banyak bicara, introvert dan membenci keramaian. Dulu aku lebih memilih diam daripada mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku, kemudian aku berubah, lebih baik aku mengungkapkan daripada mengganjal dan menjadi luka. Namun kini aku paham, keduanya sama saja, jika tak digunakan tepat pada waktunya justru akan menjadi luka, yang berbeda hanya waktu. Kita setiap manusia memiliki bara di dalam dirinya, yang bisa tersulut kapan saja. Kita yang harus menjaga agar perasaan itu tetap pada porsinya.

Entah itu tentang perasaan perempuan yang mudah untuk direkayasa? atau tentang perbedaan antara rasa kagum dan rasa cinta? atau tentang perjalananmu untuk mengenali karakter setiap perempuan? Aku tak peduli. Aku tak punya niat terselubung untuk mengatakan bahwa "aku sedang ingin bermain-main". Aku hanya baru saja terluka. Semua tentang laki-laki serasa begitu skeptis, hingga membuatku berpikir "semua laki-laki itu sama saja, berbagi pada siapa saja dan lupa pada semua". Tapi yang pasti, hati manusia memang sangat mudah untuk berubah.

Aku menikmati setiap percakapan yang sama-sama kita semua lewati. Tak ada salahnya memang untuk lebih mengenali sisi lain dari seseorang. Meski ada segeliat pertanyaan; bukankah lebih baik jika kita diam dan hanyut dalam perasaan masing-masing tanpa perlu mengenal satu sama lain? Sebab kita adalah kumpulan peristiwa-peristiwa yang telah kita lewati. Kita semua berbeda dalam menjalani kehidupan. Namun disisi lain, bukan berarti kita dipertemukan hanya untuk sekadar berkenalan dan berkerja sama selama dua bulan, fate did not bring us together for nothing, isn't it?

Lesson learned. Proceed onward. Life, love and work, awaits.

M.
Yogyakarta, Juli 2013.

Selasa, 16 Juli 2013

The Bliss of Innocent

“[Kids] don't remember what you try to teach them. They remember what you are.” 
Jim Henson, It's Not Easy Being Green: And Other Things to Consider


Dua bola mata lugu itu menatapku penuh makna, tubuhnya kecil dengan kulit berwarna sawo matang yang dibalut kaos berwarna biru lusuh, tanpa alas kaki anak kecil itu berlari kesana kemari. Terkadang menatapku sejenak dengan muka yang menahan tawa, seolah-olah ada hal yang benar-benar menggelikan dariku, bahkan aku sendiri tak pernah tahu apa yang ada dipikirannya. Kemudian dia memanggil temannya yang berbadan lebih gembul untuk pergi bersamanya agar mau berkenalan denganku. "Ayoo to kenalan ama mbak-mbak KKN!" teriaknya dengan logat jawa yang kental. Aku sendiri sedikit geli mendengarnya ketika aku dan teman-teman yang lain dipanggil "mbak-mbak KKN". 


Peristiwa itu terjadi pada hari pertama ketika kami hendak menjalankan program TPA di rumah Bu RT (Bu Sumarman). Saat itu aku tidak sendirian, ada beberapa teman yang membantuku meski sebetulnya hanya ada dua orang pengajar tetap di program KKN yaitu aku dan Neena (yang juga teman satu kampus di Fakultas Hukum, UGM). Sementara dua orang lainnya yaitu Umi (dari Fakultas MIPA) dan Asty (dari Fakultas Kehutanan) hanya membantu pada pertemuan pertama kami sekaligus perkenalan dengan ibu RT. 

** 
Hari pertama kami mengajar, kami memang sedikit kikuk, sejujurnya aku sendiri tak memiliki banyak pengalaman mengajar terutama dengan anak-anak, sekalipun sebetulnya aku sendiri memiliki beberapa keponakan di rumah. Kami akhirnya memutuskan untuk cukup membimbing mengaji saja. Sambil mengikuti kegiatan yang biasanya dilakukan di TPA kecil tersebut. 

Hari kedua, kami mulai mengajarkan tentang tata cara menulis huruf hijaiyah, dengan sedikit modal kemampuan tentang menulis kaligrafi, aku memberanikan diri untuk terus mengajarkan bagaimana cara menulis huruf hijaiyah yang baik dan benar, tidak mudah ternyata, dalam beberapa hal justru kesabaranku benar-benar diuji. Belum lagi ada beberapa anak-anak kecil laki-laki yang glidik (nakal dalam bahasa jawa), sulit sekali untuk diatur. Semua itu juga mengingatkan tentang diriku ketika aku masih kecil dan sesekali membuatku berpikiran "ah namanya juga anak kecil". Sebetulnya jadwal mengajar kami dimulai dari pukul 16.30 sampai 17.15, meski terkadang molor juga, sehingga ketika sampai di pondokan KKN biasanya sudah terdengar adzan Magrib. 

***


Hari-hari menjalankan program mengajar TPA berlalu begitu cepat, melihat tingkah anak-anak kecil yang semakin lama semakin bandel terkadang membuat semangatku untuk mengajar sedikit luntur. Aku berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka bahkan belajar sendiri agar semakin lama tulisan kaligrafiku semakin baik, namun ada kalanya ketika aku datang untuk mengajar ke rumah Bu RT di sana justru kosong melompong, ternyata karena siang hari hujan deras, anak-anak memilih untuk tidur dirumah masing-masing, atau terkadang mereka datang TPA tetapi tidak membawa buku untuk berlatih. Maka sedikit demi sedikit aku mulai mempelajari karakter mereka walaupun terkadang aku menyadari anak-anak memang tabiatnya senang bermain, atau mungkin hanya aku saja yang selalu menghadapi segala hal terlalu serius? 


Pernah pada suatu hari sebelum bulan Ramadhan, kami pergi mengajak anak-anak berkeliling dukuh Watukarung II (tempat kami berada). Selain itu supaya kami lebih mengenal lingkungan kami sekitar, sebab kami nantinya akan tinggal di desa ini selama dua bulan. Saat kami mulai menyusuri jalanan kampung, tiba-tiba salah seorang anak memintaku untuk terus mengenggam tangannya. Ketika kami mulai berjalan, dia bercerita dengan polosnya, tanpa rasa ragu, tentang sekolahnya, tentang tempat dia bermain-main, tentang keinginannya untuk seperti mbak-mbak KKN, tentang hewan-hewan di kandang ternak, tentang hal-hal lain yang begitu sederhana. Tanpa aku sadari aku pun larut dengan segala ceritanya. Yang membuatku heran adalah entah mengapa anak kecil yang satu ini tak mau melepas tanganku meski yang lain justru berlarian kesana kemari. "kenapa gak ikut maen-maen dengan anak yang lain, itu lo kesana?" tanyaku, sebetulnya aku sedikit risih jika tanganku terus menerus digenggam. "Gak mau, ntar mbak KKNnya diambil anak yang lain". Aku justru tertawa. Ada sebersit kebahagiaan ketika ternyata keberadaan kita mampu masuk ke dalam dunia mereka. 




Sebab entah apapun yang kelak akan kami tinggalkan di Desa ini, seberapa besar hal yang akan kami berikan pada mereka, anak-anak mungkin hanya akan mengenal kami sebagai "mbak-mbak KKN" mereka melihat sebagaimana yang terlihat tanpa ada prasangka, kepolosan mereka layaknya cermin yang menunjukkan siapa kami. Entah itu baik atau buruknya perilaku kami. 

Well the most sophisticated people I know is inside they are all children. Now I realized, there's nothing more contagious than the laughter of young children; it doesn't even have to matter what they're laughing about, there is kind of bliss, coming out from their innocent and I think, I am starting to like them. I am pretty sure that I am gonna miss their laughter someday. 

M. 
Sleman, July 2013.

Rabu, 10 Juli 2013

Viva La Sub-Unit 1

Selama mengikuti KKN saya menjadi bagian dari Sub-unit 1, yang mana personilnya memiliki keunikan masing-masing (unik dan aneh itu beda tipis bro), profil makhluk-makhluk unik tersebut sebagai berikut:

1) Ghina Rahmatika (Panggilan: Neena)
Sosok ceria namun sering geje ini adalah Kormasit (Koordinator Mahasiswa Tingkat sub-unit) dari Sub-Unit 1 tercinta, dimana Kormasit adalah jabatan paling menderita setelah Kormanit. Biasa di sapa nena a.ka Nenek. Asal Brebes dan merupakan mahasiswi Fakultas Hukum angkatan 2010. Mengaku pecinta langit (bukan pecinta pria apalagi wanita.kekeke~). Jika ingin mengenal lebih dekat dengan Nena bisa menghubungi akun Twitternya @neena_rahma , akhir-akhir ini dia senang sekali berkicau di Twitter, karna galau menerima kenyataan ditakdirkan menjadi kormasit subunit 1 :) 

2) Daniel Adiputra Kurniawan (Daniel/Niel/Daniel-la etc.)
Makhluk yang satu ini berasal dari Magelang, saat ini sedang menjadi mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan angkatan 2010 yang narsisnya kelewatan. Daniel terpaksa menjadi pria paling rajin di Subunit 1 karena dengan paksa pula telah dinobatkan menjadi Kormanit (Koordinator Mahasiswa Tingkat Unit) SLM 21, sebagaimana kita semua tahu, Kormanit adalah jabatan paling menderita di KKN. Meski demikian Daniel selalu sabar dan tabah menghadapi segala cobaan hidup #halah. Daniel juga menganut aliran anti-mainstream dan sedikit "sakit jiwa" sebagaimana diungkapkan melalui akun resmi Twitternya @AdiputraDaniel. Kegemarannya adalah memasak dan motto hidupnya adalah Life is Simple bro :) 

3) Umi Nafisah (Umi~/Mie/Nafisss)
Umi adalah mahasiswi MIPA jurusan Matematika angkatan 2010, dia juga diamanahi menjadi bendahara Unit SLM 21, maka menjadi orang paling POPULER karena sering dicari oleh anggota KKN lain untuk minta uang. Di KKN ini umi akhirnya menemukan bakatnya yang terpendam yaitu Melukis wajah orang. Umi ibarat umi bagi subunit 1 karena paling rajin beres-beres dan nyapu. Umi juga berhasil dipengaruhi oleh komplotan orang di subunit 1 untuk akhirnya memiliki akun Twitter yaitu @2Faethz :) 

4) Asti Anjelita Kartika (Astiiii~)


Asti adalah mahasiswi Fakultas Kehutanan angkatan 2010 yang sangat Unik. Sebab, banyak sekali keunikan yang telah kami temukan pada makhluk yang satu ini (salah satunya kalo sudah tidur ternyata sulit sekali dibangunkan XD). Sebagai pecinta tanaman, setiap kali pergi kemana-mana selalu saja memperhatikan tanaman dan paling tidak menyentuh daunnya sambil menebak-nebak nama tanaman tersebut (-.-)'. Asti sangat pandai membuat karikatur dan pecinta komik Jepang, hasil karikatur disamping foto para makhluk Subunit 1 ini juga merupakan buah karyanya. Di KKN ini Asti menjabat posisi tak kalah penting yaitu Sekretaris Unit SLM 21. Asti selalu dipenuhi oleh aura positif dan menyebabkan orang-orang sekitarnya kesulitan mengetahui ekspresi wajah Asti yang ambigu antara bahagia atau kecewa. Untuk bisa lebih berkenalan dengan Asti, bisa melalui akun Twitter @AstiAnjelita atau Facebooknya :)

5) Chrisal Aji Lintang aka Muhammad Qibil (Qibil/Kiwil/Killbil etc.)
Pria ini adalah laki-laki tulen (maklum sering dikira perempuan karena rambut panjangnya yang sangat indah), biasa disapa Qibil, yang merupakan mahasiswa MIPA jurusan Elektronika dan Instrumentasi (Elins) angkatan 2010. Kalau ditanya: "Kenapa sih bil kamu panjangin rambut?" jawabnya, "Gak tahu, soalnya rambutnya panjang sendiri" Ya iyalah! *sambil pengen lempar kursi*. Qibil paling ahli bermain musik, segala macam jenis alat musik mampu dimaenkannya (ngakunya sih gitu), so, don't judge a book by its cover. Qibil sedikit anti dengan med-soc di internet, oleh sebab itu komplotan subunit 1 sedang berusaha sekuat tenaga untuk membujuk Qibil punya akun Twitter. Mohon doa restu supaya kami sukses~ :) 

6) Muhammad Aprizal (Mas Ichal)
Laki-laki asal Tegal ini adalah orang yang paling dituakan di Subunit 1, biasa disapa "MAS ICHAL!". Beliau merupakan mahasiswa jurusan Perikanan angkatan 2008 yang sedang mati-matian mengerjakan skripsi dan ingin segera lulus, sebab deadlinenya 8 bulan lagi akan menikah meskipun belum jelas dengan wanita mana? -.-'. Tapi inilah kelebihan mas Ichal dari anggota Subunit 1 lainnya, satu-satunya yang sudah memiliki pasangan. Mas Ichal juga makhluk hidup di subunit 1 yang memiliki frekuensi tidur paling lama di siang hari karena semalaman lembur kerja. Beliau ini mencintai kebebasan dan konsisten menjadikan "cuci piring" sebagai lahan sengketa di Subunit 1. Beliau sebetulnya mengaku punya Twitter tetapi sampai sekarang komplotan Subunit 1 belum berhasil melacak akun resmi miliknya, ya begitulah mas Ichal~ 

7) Mazia Rizqi Izzatika (Maz/Mass/Zi etc.)
Anggota terakhir dari subunit 1 adalah pemiliki resmi blog ini, yang merupakan mahasiswi Fakultas Hukum angkatan 2010 dengan konsentrasi Hukum Internasional. Anaknya baik hati, tidak sombong dan gemar menabung, buah favoritenya adalah pisang, cita-cita hidupnya menjadi jurnalis perang meskipun masih galau juga. Di KKN, Mazia dipilih menjadi Kormater Sos-Hum. Kalo ingin kepo segala sesuatu tentang Mazia bisa dilihat di akun Twitter @maziaizzatika, gak usah malu-malu, scroll terus Tweets-nya sampai bawah yaaa~ ;) 

Ada satu lagi! penyusup Sub-unit 1, yaitu:
8) Angga Khoirrurozi
Angga adalah mahasiswa MIPA dari jurusan Kimia Murni, merupakan makhluk dari UFO alias Unit Fotografi UGM. Oleh sebab itu, siapapun yang ingin eksis di foto-foto KKN sebaiknya dekat-dekat dengan Angga. Hehehe. Sebetulnya Angga anggota personil subunit 2, yang dikirim untuk menyusup di rapat Ternak Kadang "Rukun" dimana kandang tersebut berada dibawah wilayah kekuasaan sub-unit 1, jadi terpaksa ada karikaturnya di daftar hadir rapat dengan kadang ternak Rukun. Angga yang senang bekerja sendiri sebetulnya baik hati dan gemar menolong, hal ini menjadikan dirinya sebagai salah satu korban bully paling favorite. Saat ini, Angga juga berprofesi menjadi photographer freelance, berminat menghubungi Angga bisa melalui akun Twitter @angga_khoirurozi :)

Demikianlah profil personil KKN Subnit 1 SLM 21, suka dan duka akan kami lewati bersama selama dua bulan, mohon doa restunya supaya program-program kami berjalan lancar :")
Cheers~

M.
Sleman, July 2013

Selasa, 09 Juli 2013

Membaca ART|JOG|13 : Sisa-sisa Identitas Indonesia Negara Maritim

Apa yang kau suka dari mengunjungi sebuah galeri seni? 
Terkadang mengunjungi galeri seni atau pameran seni itu dapat memunculkan ide-ide kreatif sekaligus merasakan suasana artistik, keunikan yang mengena dengan objek yang penuh makna. Para seniman terbiasa berpikir diluar normalitas, dengan imajinasinya yang tinggi, pada titik-titik itulah rasa artistik itu begitu terasa bagi para penikmat seni. 


Dan entah mengapa sejak dua tahun yang lalu saya tidak pernah absen mengunjungi JOG|ART. Karya seni yang ditampilkan di JOG|ART selalu mengena; unik dan penuh imajinasi. Bagi saya, mengunjungi galeri seni merupakan cara lain untuk menumbuhkan inspirasi. Seperti tahun-tahun sebelumnya JOG|ART selalu ingin lebih daripada sekedar pameran seni. Untuk itu mengusung tema adalah suatu hal penting agar lebih memfokuskan diri bagi para seniman untuk menyampaikan kritik melalui karya seni. Tema yang dipilih kali ini adalah tentang Laut atau Marine, sesuatu hal yang sangat dekat dengan identitas Indonesia, namun menjadi kabur dan samar-samar karena tenggelam oleh berbagai macam problematika yang menjerat negara Indonesia.
Di depan pintu masuk JOG|ART|13

Jika melihat halaman depan Taman Budaya Yogyakarta (TBY), yang dikreasikan dengan bekas drum sehingga nampak seperti dinding kapal, dan beranda atas gedung juga disulap selayaknya dek-dek kapal pesiar. Para seniman ini dengan gaya artistik seolah-olah berupaya menunjukkan "Maritime Culture" dengan halus. 


Kini disela-sela kesibukan KKN, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk mengunjungi JOG|ART|13. Sesampai di muka gedung TBY, kami disambut oleh semacam carousel atau merry-go-around yang berisi boneka-boneka putih botak, yang sekilas sebetulnya nampak menyeramkan. Karya tersebut merupakan hasil dari Iwan Effendi berkolaborasi dengan Papermoon Puppet Theatre.  Karya ini diberi judul "Finding Lunang". 

Iwan Effendi berkolaborasi dengan Papermoon Puppet Theatre,"Finding Lunang"

Karya yang ditampilkan di ART|JOG|13 bukanlah karya-karya sembarangan saja, Direktur Eksekurif Art Jog, Satriagama Rakantaseta menjelaskan pihaknya menerima 1.423 proposal karya dari 829 seniman dari 5 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Jepang, Australia, dan Amerika. Kemudian 139 karya dari 188 seniman pun terpilih untuk diikutsertakan dalam bursa pameran ART|JOG|13. Sementara karya-karya yang ditampilkan di JOG|ART|13 memang banyak mengingatkan kita akan sejarah negara kita yang pernah dikenal dengan negara Maritim.

Karya Agapetus A. Kristiandana, Surabaya
Sebuah karya unik yang tampilkan antara lain patung lumba-lumba dan buaya sedang bertarung, sehingga memunculkan legenda asal mula nama kota Surabaya, yang diambil dari kata suro dan boyo.
Borderless: Floating Islands oleh Entang Wiharso
Sebuah karya lain yaitu tentang pulau terapung dengan tema Borderless: Floating Islands karya Entang Wiharso, yang menggambarkan pergeseran generasi, dari masa muda, menjalin kehidupan bersama hingga akhirnya tua. Namun karya favorite saya adalah sebuah patung keramik polyester dengan bentuk seorang anak kecil sedang mengangkat ikan di atas kepalanya. 
Little Girl and the Fish karya Bunga Jeruk
See Through Rose-Colored Glasses karya Erika Ernawan dan Erik Pauhrizi
Atau karya Yani Mariani bertajuk "Samudra, Cakrawala, Garis Tangan", menyatir sebuah laku yang begitu dekat dengan kita "Nenek Moyangku seorang Pelaut", Yani mencoba mnegimajinasikan dalam karyanya agar kelak kita selalu mengenang bahwa kita pernah ada lahir dari garis tangan para pelaut, a tribute to the Mariners of the Archipelago.
Karya Yani Mariani bertajuk "Samudra, Cakrawala, Garis Tangan".
Teman-teman KKN :) 
Berhubung saya dan teman-teman KKN sendiri tidak memiliki banyak waktu, kami hanya sempat mengunjungi ART|JOG|13 pada pukul 21.00 sementara pukul 22.00 sendiri tempat tersebut sudah harus ditutup. Kurang puas rasanya jika harus menikmati pameran JOG|ART|13 dalam waktu yang begitu singkat. 

M. 
Yogyakarta, Juli 2013