Selasa, 07 Desember 2010

Air, Mata Air dan Air Mata


Sudah lama tidak turun hujan. Desa kami kering kerontang. Tidak ada lagi air, mata air telah kering. Hanya air mata yang terus mengalir membanjiri pelupuk mata bayi-bayi di desa kami yang semakin hari semakin keras saja tangisan kelaparan dan kehausan itu. Bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda-pemudi, anak-anak, tak kalah pula nenek dan kakek berbondong-bondong berlarian untuk berebut air ketika sebuah truk pengangkut air datang. Melihat keadaan ini memilukan. Semua pun tahu air itu tak akan cukup memenuhi kebutuhan satu desa ini. Akan tetapi ada kalimat sederhana yang mampu menyihir setiap orang untuk bertahan berebut air itu, ”Siapa cepat dia dapat!” Maka tak seorang pun diantara kerumunan itu akan mau berbagi apa yang telah didapatkannya. Semua mau air. Semua berebut air.

Begitu pula aku. Aku juga mau air. Di bawah matahari yang bersinar sangat terang tanpa menggunakan alas kaki aku ikut berdesak-desakkan dengan orang-orang itu. Dengan semangat membawa dua dirijen besar aku mengikuti aturan main mereka dengan mengantri. Bahkan meskipun sudah mengantri masih saja ada seorang ibu yang berteriak meminta belas asih semua orang yang ada disini. ”Bapak-bapak, mas-mas, tolonglah saya, anak saya lima tidak ada suami pada belum makan mau masak tidak ada air, tolonglah diringankan. Duh Gusti...”

Tidak ada yang mau peduli. Semua ingin air. Berulangkali aku memandangi ibu-ibu itu semakin aku ingat kata-kata ibuku ketika aku hendak berangkat mengambil air. Ketika seorang laki-laki berlari kencang sambil berteriak-teriak mengucapkan kalimat yang sama, ”Woi truk air sudah datang! Woi cepat! siapa cepat dia dapat!” Mendengar teriakan itu. Ibu segera membangunkanku dan menyuruhku untuk segera ikut antrian air itu sambil terus mengingatkan aku.

”Pokoknya harus sampai dapat, jangan keduluan orang lain! Dua dirigen itu harus penuh semua!” katanya. ”Aku nanti menyusul dibelakang! Ikutan mengantri juga!”
Aku pun mengangguk dan segera berlari, tak aku pedulikan alas kakiku, yang aku tahu hanya satu hal, Aku harus dapat air! Ditengah-tengah kerumunan itu tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya melakukan hal yang membuat semua orang disini memperhatikannya dengan terkejut. Dia menarik ember seorang perempuan muda dan membuang air itu ke tanah, seolah-olah dia tak membutuhkan air. Padahal semua orang disini dengan susah payah mengantri, berlarian dan berdesak-desakan hanya untuk mendapat air. Ini musim sulit dan penderitaan bagi orang-orang kami. Tetapi laki-laki sinting ini dengan tanpa dosa merebut air orang dan membuangnya begitu saja, sungguh gila! Kemudian dia berteriak-teriak. ”Hei semuanya! Inilah yang telah dilakukan tuhan pada kita, tidakkah Dia mengerti? Makhluknya hampir mati karena kehausan dan kelaparan. Untuk apa Engkau menciptakan kami, jika akhirnya Engkau bunuh pula kami dengan kondisi haus dan lapar. Kyai-kyai itu berkata: Engkau menciptakan segalanya Tuhan! Air, tanah, api, dan bahkan airmata kami. Tidakkah mudah bagi-Mu menciptakan hujan! Aku takkan berhenti menghujat hingga hujan itu tiba!”

Aku hanya terdiam menatap lelaki itu. Entah mengapa aku begitu takut, apa jadinya jika Tuhan menjadi marah. Seketika aku justru merasakan udara yang semakin memanas dan hembusan angin yang begitu kencang. Dalam hati aku berbisik, ampuni kami Tuhan.


Yogyakarta, 1 Desember


*Gambar diambil dari michelch.deviantart.

Jumat, 29 Oktober 2010

Intermezo: My Past Journey :))


Perjalanan saya ke Inggris banyak ditanyakan oleh teman-teman & kerabat. Katanya, kenapa tiba-tiba bisa ke Inggris dan gratis pula?

Semua ini bermula dari diterimanya saya di program Global Xchange, sebuah program program pertukaran relawan (volunteering) antara remaja Indonesia dan Inggris yang diselenggarakan oleh British Council. Program ini berlangsung selama 5 minggu di Yogya—Indonesia dan 5 minggu di Luton—Inggris, kegiatannya beragendakan volunteering di beberapa work placement (biasanya sebuah LSM atau yayasan milik pemerintah) yang telah ditentukan, Global Community Day (GCD) dan Community Action Days (CAD). Sedangkan agenda kegiatan lainnya seperti training dan pengenalan budaya setempat. Mengikuti program ini selain bisa belajar berkomunikasi dengan bahasa inggris dan budaya, juga menambah skill dan pengetahuan kita mengenai berbagai macam isu-isu penting. 


Proses untuk bisa diterima program ini sebetulnya sudah sangat lama, sejak dinyatakan lulus 20 besar hingga 10 besar sejak bulan Februari dan program baru dimulai bulan Juni.
Ini link Global Xchange: britishcouncil.

Sebetulnya banyak sekali tulisan saya yang diposting di Blog ini berkaitan dengan kegiatan Global Xchange, tapi karena saya orangnya sedikit tidak teratur dan moody.^^ Jadi tidak terlalu banyak dijelaskan. Contoh postingannya yaitu, birthday suprise dari teman-teman sesama volunteer GX, Global Citizenship Day (GCD) beberapa puisi seperti Mimpi dan Aku akan Baik-Baik Saja atau juga cerpen A Song terinspirasi dari perjalanan saya di Inggris.

Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang Global Xchenge, berikut ini ada pula tulisan-tulisan sesama volunteer Global Xchange yang menarik untuk dibaca:
- introduction ditulis oleh Tika, salah satu participant GX
- semua berawal dari sini ditulis oleh Tika, salah satu participant GX
- not the team A or the team B ditulis oleh Tika, salah satu participant GX
- antara bus Luton dan Yogyakarta ditulis oleh Icha, salah satu participant GX
- Terima Kasih ditulis oleh Icha, salah satu participant GX

~cheers :)

Global Citizenship Day (GCD) -- Indonesia Phase

Our idea for Global Citizenship Day (GCD) is to discuss the role of youth in peace actions. An issue of peace is popular among young people or students, but awareness is not accompanied with the consciousness of peace to avoid conflict. Sometimes we unknowingly in our society if we do the trigger actions very often that may lead to conflict. In Indonesia, conflicts often happen, such as events in Poso, Sampit, or Aceh. While in Yogyakarta, such conflicts between gangs of senior or junior high schools are also often published by the regional and national mass media. For that reasons we picked the theme "Youth for Peace" in our GCD as a basis for raising awareness of the importance of the role of youth in promoting peace. However all of the people in this world want to live safely and peacefully without any fear or resentment because it is individual rights of every human.


In this time we invited expert speakers from the community of Peace Generation. The community consist of vibrant group of young people involved in voicing issues of peace among the youth, they also try to encourage youth people throughout the city to support and become part of the real action peace. Their presence in the GCD is to help convey the message of creating peace through discussions and games that can arouse inspirations from other volunteers about the awareness of peace.


Concept for GCD was to have everybody involved in discussion on definition and meaning of peace, sharing experiences about different background in their life, games, and then we would end with a declaration of peace. We also asked the volunteers to present their own definition and meaning of peace on a piece of paper which will be bound into a book that will become a souvenir if the Global Xchange (GX) program has finished. The sharing of different experiences was also become an important aspect to the discussion. The volunteers all come from different circles and backgrounds, so they will have different experiences on the issue of diversity and peace. With the implementation of experience-sharing activity, they will also enhance their understanding of each other and appreciate difference is not a hindrance. The name of the game that will be played is "Viva la Differentia", the main factor of the conflicts usually caused by the differences, therefore this time we invent a game to test the volunteer ability to accept differences among friends who are also a working partner in a team. The programme will be closed with the declaration of peace. This declaration was made GX team by dipping their hand in paint, and then transferred onto a piece of cloth. We hope that this declaration was not just a handprint, but volunteers really believe in staying away from conflict, promoting peace and harmony.



In the end we want to convey that conflict is often triggered by insignificant issues such as differences in individuals that wrongly considered abnormal. For example, differences in ethnicity, religion, or opinion. Yet every person in the world is different, as volunteers of the Global Xchange team 101 also come from different aspects of life. It is important for us all to understand the significance of being different in order to create a true peace in the world.

M.

Jumat, 10 September 2010

Quote again^^


"People with goals succeed because they know where they are going... It's as simple as that."
- Earl Nightingale

Kutipan ini mungkin memiliki hubungan erat dengan pentingnya buat kita punya yang namanya tujuan hidup =D. Kadang sepele, tapi ternyata memang mempengaruhi kok. Gak ada salahnya kan kalo kita mulai meninjau ulang tujuan hidup kita...^^




*foto diambil ketika di bandara internasional dubai

Semarak Takbir, Semangat Menyambut Hari yang Fitri


Allahu akbar, Allahu akbar, Laa Ilaaha Illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, dan Allah Maha Besar, dan bagiNya semua pujian”. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih)




Bertakbiran bukanlah sekedar budaya dalam masyarakat Islam akan tetapi juga syariat.

Malam terakhir di bulan Ramadhan ini, masyarakakat Kotagede dihibur dengan gemerlapan lomba takbiran keliling. Peserta lomba takbiran keliling ini diikuti oleh warga Yogyakarta, mulai dari masyarakat Kotagede, Purbayan, Selokraman, Kauman, Nitiprayan, dan beberapa daerah lainnya.









Tidak hanya sekedar pawai, mereka juga menghiasi lampion dengan berbagai macam kreasi yang sangat kreatif. Juga seragam pawai yang mereka kenakan sangat bervariasi.







Ketika pawai sampai didepan pasar Kotagede para peserta juga harus menunjukkan berbagai macam atraksi sesuai dengan tema yang dibawakan oleh peserta.









Semangat yang mereka tunjukkan bukan hanya semangat kebersamaan, melainkan semangat menyambut datangnya hari nan penuh fitri, yang sudah patut disambut dan dinikmati malam keindahannya.

Semoga tidak hanya disadari dengan kata-kata akan keindahan maknanya melainkan juga dengan tindakan. Mari jadikan malam takbiran ini sebagai malam untuk sebuah perubahan diri.

Selamat Idul Fitri bagi seluruh umat muslim di dunia. Mari kita rayakan hari kemenangan ini. Eid Mubarak!!


Taqaballahu minna wa minkum minal aidin wal faidzin.
(Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mengembalikan kita sbg org yg berjuang dan kembali pd kemenangan).

Mohon maaf lahir dan batin^^

Rabu, 08 September 2010

Quotes and ideas to move and inspire you...^^


Don't follow your dreams; chase them.
- Richard Dumb

Akh, terkadang saya begitu naif pada diri sendiri, saya memiliki sejuta mimpi. Tapi entah mengapa rasa malas itu masih sering berkutat dalam benak saya. Berbagai macam cara saya lakukan untuk kembali membangkitkan mimpi dan cita-cita saya^^

Termasuk quotations atau kutipan-kutipan sederhana namun inspiratif dan mampu memotivasi.

Maka, kata-kata Richard Dumb begitu menyentuh pikiran dan hati saya dikala membutuhkan sebuah motivasi dan inspirasi.

Terkadang satu kesempatan emas itu datang bukan dengan hal yang besar melainkan dengan sesuatu hal yang sederhana, sangat simple.

Meskipun mimpi kita adalah sesuatu yang besar tapi jalan menunju mimpi itu selalu berawal dari kesempatan yang tidak pernah kita duga.

Always keep your dreams alive,
Always keep they coming true.





*Gambar diambil di Dunstable Downs, Bedfordshires, Inggris.

Senin, 06 September 2010

A Song



“Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.”


Lagu itu terus mengalun dalam benak Kirana. Sambil menatap monumen tua yang hampir sepuluh tahun meninggalkan memori penting dalam hidupnya. Dipandanginya bunga-bunga yang berjejeran mengelilingi monumen itu. Beraneka warna bunga yang mereka persembahkan. Kirana tetap memilih mawar putih tak berduri, baginya bunga itu adalah simbol ketulusan akan perjuangan hidup. Diletakkan bunga itu berjejer dengan bunga yang lain. Diucapkannya sebuah permohonan. Setelah selesai, segeralah Kirana meninggalkan tempat itu. Dia berlalu untuk mencari seseorang yang tinggal dengan alamat dalam kertas lusuh yang disimpannya lebih dari lima tahun terakhir.

“Kau akan menyesal seumur hidupmu jika tidak menemukannya” batinnya.

Kirana masih ingin menanyakan masa lalu hidupnya, bukan hanya untuk memuaskan keingintahuannya tapi juga untuk masa depannya. Meski tak satu pun mampu menjawab apa yang dikehendakinya. Kirana tak pantang menyerah. Hidupnya akan tetap sama jika dia tak mampu menemukan jawaban itu.


Hembusan angin lembut yang menyibakan rambutnya, mengingatkannya pada padang rumput yang kini tak ada lagi. Hanya ada bangunan-bangunan baru yang berderet sepanjang jalan menuju kota. Kirana tak bisa lagi membohongi pada dunia bahwa dia begitu merindukan tempat itu.

“Ini adalah penantian panjang” ucapnya suatu hari pada kekasihnya.
“Maksudmu?”
“Aku akan segera mengetahui siapa ibuku sebenarnya?”
Lelaki itu terdiam. Menghela nafas panjang.
“Apa?” sahut Kirana menantang kebisuan sang kekasih.
“Dia meninggalkanmu begitu lama, kau masih ingin mencarinya?” Tanya sang kekasih tanpa pikir panjang.
“YA” jawab Kirana dengan tegas. “Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya hidup tanpa seorang Ibu”.
“Tapi wanita seperti itu tak pantas kau sebut ibu” tandas sang kekasih.
Kirana tersentak kaget. Dipandanginya wajah sang Kekasih yang terlihat sangat kesal.
“Cukup! Kau bukan siapapun tak berhak mengatur hidupku lagi” Teriaknya sambil berlalu.

Kirana tahu betul lelaki itu mengejarnya. Amarah tak tertahankan membuatnya tak ingin kembali pada sang kekasih. Itulah awal mula perpisahannya. Kirana tak ingin menemuinya lagi. Tidak lagi.

Ayahnya meninggal sejak Kirana berumur 12 tahun. Baginya tak banyak yang dia ingat dari sang Ayah. Hanya satu memori itu, sang Ayah yang sering menyanyikannya lagu Que Sera Sera. Selebihnya hanyalah cerita dari orang-orang terdekat. Bukan kesalahan siapapun jika semua itu terjadi pada Kirana. Dirinya tahu bahwa sang Ayah begitu mencintainya. Kirana tak akan hidup jika tanpa kerja keras sang Ayah.

Kehidupanlah yang membimbing menjadi dewasa. Kirana tahu kerasnya hidup sebelum saatnya untuk tahu. Kirana merasakan pahitnya hidup sebelum rasa pahit itu ada dalam hidupnya. Hidup dengan belas kasih orang bukanlah hidup yang menyenangkan. Kirana tak butuh retorika tentang makna hidup, yang dia tahu hanyalah bagaimana untuk tetap hidup. Meski kini tujuan hidupnya berubah. Kirana masih ingin mencari sosok ibu yang telah lama hilang dari hidupnya.



Sampailah kaki ini pada alamat yang dicarinya. Tak seperti yang dibayangkan. Rumah itu begitu mungil. Bunga-bunga indah bermekaran di halaman rumah. Batu-batu tertata rapi membentuk jalan setapak. Sebuah lampu taman berbentuk angsa melengkapi nuansa keindahan taman sederhana yang dibatasi dengan pagar putih bersih.

Tiba-tiba tak sedikit pun keberanian muncul dibenaknya. Matanya tertuju pada pintu depan rumah itu. Dirinya hanya mampu memandangi rumah mungil itu dari seberang jalan. Kebingungan muncul dihatinya. Kekuatan yang mendorongnya berjalan hingga sejauh ini pun hilang sia-sia.

Satu jam telah berlalu. Keberanian itu belum muncul juga.

“Kau akan menyesal seumur hidup” gumamnya.

Dua jam telah berlalu. Matahari sudah mulai bosan menyinari. Kirana masih tetap berdiri dan memandangi rumah itu. Entah mengapa, rasa takut itu muncul. Mungkin saja alamat ini salah. Bagaimana bisa Kirana tahu jika dirinya pun tak mencoba masuk kerumah itu.

Kirana pun teringat sang kekasih yang sudah dicampakkannya.

“Mungkin dia ada benarnya” desahnya kemudian.

Saat itu Kirana memutuskan untuk menyerah pada kenyataan, hingga terdengar sebuah lagu yang tak asing lagi bagi telinga Kirana, lagu itu mengalun perlahan dari rumah itu.

“When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be”.


Sebuah senyuman muncul dari bibir Kirana. Dengan segenap kekuatan didatangilah rumah mungil itu. Sambil terus mengucap doa dalam hatinya, semoga itu ibu.





Yogyakarta, 20 Agustus 2010.

*Lagu “Que Sera, Sera” (Whatever will be, will be)
Apa yang akan terjadi, terjadilah.

“Aku akan baik-baik saja”

Dan aku tetap akan pergi
Waktu yang tak mau menanti
Kau mendekapku, mendorongku menuju bis yang tengah menanti
Dekapan itu melonggar dan pintu bis pun terbuka
Dengan mata berkaca-kaca dan sedikit amarah
Aku berkata, “Aku baik-baik saja”.
Tetapi tetap saja, air mata ini tak mau berhenti
meski semuanya
akan
baik-baik
saja
.













Aku menghela napas.
Cukup sudah cerita itu. Tak perlu diulas kembali.
Kulepas engkau dengan satu impian; tuk kembali.
Meski sepertinya
Hati ini mungkin lelah

Kupejamkan mataku dalam-dalam
Kuingat senyum itu perlahan
Kurekam pula saat terakhir bersamanya
Selagi aku mampu menyimpannya,
Aku pun menangis sepuasnya

“Aku akan baik-baik saja”
Gumamku.

Minggu, 05 September 2010

Mimpi


.....
Satu waktu di Wardown Park,
Kulihat sepasang kakek dan nenek bernostalgia,
Mungkin tentang kisah mereka yang telah lalu.

Sementara aku, termenung kaku menatap kemesraan itu,
Sebuah romansa abadi yang begitu nyata.

Tetapi,
Suaramulah yang memecah hening lamunan indah itu

Sore yang sama di Wardown Park
Dimana aku selalu berjalan tertinggal dibelakangmu,
Yang kulihat hanya pundak itu

Andai saja kau tahu,
Kaki ini juga ingin berjalan cepat.
Agar menyatu dengan bayangan kakimu yang begitu semu.

Kala itu di Wardown Park,
Burung-burung merpati, angsa-angsa
Dan semilir angin barat yang begitu menusuk kulitku.

Ingatanku melayang jauh entah kemana bersama
mimpi-mimpi yang tak menentu.

Hanya saja aku terbangun
Ketika mimpi itu hendak mendekati bayanganmu.

Dan kutemui diriku tak ada lagi
Burung-burung merpati, angsa-angsa
Dan semilir angin barat yang begitu menusuk kulitku.


Aku pun menyadari,
Aku akan segera tiba di Jakarta.

.....
…..
…..

*Gambar diambil di Wardown Park, Luton, Inggris.

Rabu, 14 April 2010

Cerpen: Wall of Love



Aku telah menunggu gadis itu lebih dari dua jam namun dia tak kunjung datang. Kami berjanji akan bertemu pukul empat sore, sedangkan saat ini langit sudah mulai gelap dan gerimis. Bagaimana pun aku tetap akan menunggunya. Aku tak tahu sampai kapan aku akan menunggunya, mungkin karena aku sangat yakin dia pasti datang. Ketika hujan benar-benar menjadi deras. Keraguan pun mulai menyelimuti hatiku. Apakah dia masih tetap akan datang? Penampilanku juga sudah tidak sebaik dua jam yang lalu, hanya bunga mawar merah yang terbuat dari plastik ini saja yang masih terlihat segar. Anehnya, tak ada sedikitpun kekecewaan yang aku rasakan meski dia telah membuatku menunggu lebih dari dua jam ini, mungkin karena perasaanku yang mendalam terhadap dirinya.
Tepat pukul tujuh malam, saat dimana aku sudah hampir putus asa. Dia muncul dengan mata sembab. Awalnya aku sama sekali tidak tahu bahwa itu akan menjadi hari terburuk dalam kisah cintaku ini. Kumunculannya malam itu saja sebenarnya telah membuat perasaanku lega dan bahagia. Sampai aku menyadarinya beberapa saat kemudian. Jeda diantara dia muncul dan aku mengetahui raut wajahnya yang sedih serta matanya yang sembab itulah seketika perasaanku mulai berubah menjadi gelisah, apakah dia menangis? Ketika dia sudah ada didepanku, aku pun menjadi linglung. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Tubuhnya yang basah kuyup akibat menerjang hujan deras juga membuatku semakin tak karuan. Aku benar-benar tidak tahu kalimat apa yang harus aku ucapkan bahkan aku melupakan setangkai mawar yang seharusnya aku berikan di awal pertemuan, sebagaimana skenario yang jauh-jauh hari aku persiapkan. Akhirnya dialah yang memulai pembicaraan diantara kami.
“Maaf aku terlambat”
“Tidak apa-apa, kamu juga kehujanan”
“Yah, aku tak apa-apa kok mungkin pertemuan kita ini tidak akan lama”
Aku benar-benar gelisah kali ini.
“Ya, itu juga tidak apa-apa sebaiknya kamu segera pulang dan ganti baju, aku senang kamu mau bertemu denganku hari ini”
“Bukan begitu dit, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan tentang hubungan kita”
“Katakan saja, apapun itu asalkan membuat perasaanmu lebih baik” kataku memberanikan diri.
Dia terpaku dan sedikt ragu-ragu untuk mengatakan perasaannya.
“Aku mencintai laki-laki lain” ucapnya dengan lirih.
Aku terdiam. Kulihat air mata itu mulai mengalir dari matanya yang indah.
“Maafkan aku” ucapnya sambil menyeka air mata yang semakin deras.
Itu merupakan kalimat terakhir yang aku dengar. Kemudian dia berlari menuju hujan, aku hanya mampu melihatnya semakin menjauh dariku hingga hilang ditelan oleh kegelapan. Sedangkan aku terdiam menyaksikan semua itu. Kegelisahanku beralasan, hatiku mungkin akan tahu bahwa saat itu aku akan benar-benar kecewa. Hatiku seperti ditusuk. Aku menatap bunga mawar plastik yang ada digenggamanku. Ingin aku katakan pada bunga mawar itu, “Tahukah engkau wahai bunga mawar, keberadaanmu dalam genggaman tanganku kini sudah tiada artinya, gadis yang seharusnya memilikimu kini meninggalkan aku dan mungkin untuk selamanya”.
Aku pun meninggalkan tempat ini. Perasaanku begitu kacau balau antara kekecewaan dan ketidakpahaman. Mungkinkah selama ini dia tersiksa harus menjalani hubungan dengan seorang laki-laki yang tidak pernah dia cintai? Aku benar-benar tak mengerti. Mungkin saja dia menangis karena dia tahu akan melukai hati seseorang yang tulus mencintainya. Seperti inikah rasanya patah hati tuhan? Sungguh menyakitkan. Aku berjalan dibawah hujan seperti mati rasa, tidak dingin dan tidak pula panas.Mungkin tempat ini akan menjadi saksi mati betapa aku mencintaimu meski pada akhirnya aku harus mengalah karena ketidakberdayaanku akan cintamu pada lelaki lain.
Aku terus berjalan hingga sampai disebuah persimpangan jalan, dimana disanalah pertama kali aku melihat gadis yang aku cintai itu. Dia berdiri begitu indah menanti angkutan kota melewati jalan ini. Tempat ini adalah jalan yang sehari-hari aku lewati ketika berangkat ke sekolah. Aku melihatnya disana lebih dari tiga kali dalam seminggu. Aku selalu memperhatikan dia. Hingga saat itu, hujan turun begitu deras. Aku tawarkan payung yang aku miliki dan membiarkannya membawanya, sementara aku rela hujan-hujan pulang kerumah. Keesokan harinya terpaksa aku tak mengenakan sepatu dan tas ranselku ke sekolah karena basah kuyub dan paginya belum kering. Aku pun terpaksa mengenakan sepatu kulit milik pamanku yang kebesaran dan kantong plastik hitam untuk menyimpan bukuku. Sesulit apapun hal yang aku alami saat itu, tetap saja indah kurasakan. Mungkin itulah saat dimana aku jatuh cinta. Aku tatap tempat dimana dia biasa berdiri dengan indahnya, kini yang ada hanyalah dinding putih yang sudah mulai kusam. Kosong tak bernyawa. Seperti hatiku saat ini.
Aku tidak tahu aku mendapatkan ide ini dari mana. Tapi aku menuliskan sebuah kalimat di dinding itu agar tak menjadi kosong seperti hatiku. Aku hanya ingin suatu saat dia akan membacanya, saat dimana mungkin dia akan kembali berdiri ditempat ini. “Hari ini aku telah patah hati oleh seorang gadis yang amat kucintai.” Kutuliskan pula inisial namaku disana “R. S.” yaitu Raditya Sastra. Mungkin aku terlalu berharap akan perasaanmu padaku, mungkin pula aku terlalu memaksakan perasaan ini. Seharusnya aku sadari perasaan itu sejak awal, hingga aku tak perlu menyakiti hati ini terlalu dalam. Aku masih tak bergerak menatap tulisan dengan tinta hitam tipis yang ditorehkan ditembok itu. Semoga suatu hari nanti engkau membacanya. Suatu saat engkau harus tahu.
Kutinggalkan bunga mawar plastik itu disana, di depan tembok itu kemudian aku pergi dari tempat itu dengan langkah goyah. Sepanjang jalan menuju ke rumah aku hanya mampu bergumam, “Sungguh menyakitkan patah hati itu”.


Keesokan harinya badanku panas dan betul-betul demam. Aku tidak tahu ini efek psikologis dari aku yang sedang patah hati atau memang karena aku membiarkan tubuhku diguyur hujan semalaman tanpa mengunyah sesuap nasi pun. Semalam ketika aku pulang, ibuku mengomel-ngomel karena sikapku yang tidak peduli dengan diri sendiri dengan memilih hujan-hujanan. Sekata-kata ibuku mengomeliku tetap saja makian itu tak terasa sakit dihati. Karena saat itu hatiku seperti mati rasa akibat patah hati. Begitu pula pagi hari ini ketika badanku demam dan aku terpaksa tidak pergi sekolah. Ibuku kembali memaki-maki dan mengungkit sikapku semalam. Aku tetap tak bergidik. Badanku memang sedang sakit tapi itu tak seberapa ketimbang sakit yang ada dihati. Sungguh memilukan.
Siang harinya sahabat karibku Karina yang juga tetanggaku satu kampung datang menjengukku, karena dia menanyakan kenapa hari ini aku tidak hadir dirapat pertemuan organisasi sekolah yang aku dan dia ikuti. Aku pun telah melupakan hal penting itu. Ibuku mengantarkan Karina ke kamarku namun ketika ibu telah meninggalkan kami untuk bercakap-cakap mengenai tugas-tugas kami disekolah. Karina justru mengatakan hal lain. Bukan tentang organisasi ataupun tentang tugas-tugas sekolah.
“Aku dengar kamu putus dengan Putri, dit?” pertanyaannya sungguh mengagetkanku.
“Dari mana kamu tahu?”
“Karena aku juga dengar kalau Putri hari ini jadian dengan kakak kelas kita, kelas tiga”
“Siapa?” tanyaku penasaran, tak kusangka sudah banyak nyebar gossip disekolahku. Padahal sekolah kami dengan sekolah Putri berbeda meskipun tempatnya sangat berdekatan.
“Kak Yordan” jawab Karina dengan suara rendah.
Aku hanya terdiam. Sungguh sangat miris kenyataan yang diungkapkan Karina. Kini aku tahu alasan Putri meninggalkanku. Yordan kakak kelas kami bukanlah murid yang biasa saja. Selain tampangnya yang mempesona para gadis, dia juga jagoan tim basket sekolah kami. Belum lagi sederet prestasi yang dilainnya. Aku dibandingkan dengan Yordan sungguh sangat ironis. Meninggalkan aku demi Yordan pun bukan hal yang aneh, justru semakin wajar. Kini aku tahu alasan itu yang diinginkan Putri. Kenyataan itu menjadikan titik balik akan perasaanku terhadap Putri, gadis yang semalam membuat aku terlunta-lunta dengan cinta. Apa yang dimiliki Yordan adalah apa yang selama ini dia harapkan dariku.
Pertanyaan Karina membuyarkan lamunanku.
“Itu sebabnya kamu sakit, dit?”
“Mungkin” jawabku sambil memalingkan muka.
“Seharusnya aku memberitahu kamu sejak awal” katanya tiba-tiba.
“Maksudmu?” tanyaku menatapnya.
“Aku tahu Putri menyukai kak Yordan sejak dulu”
“Apa?”
Aku sungguh kaget dengan perkataan Karina.
Dia mengulangi kalimatnya dengan suara lebih rendah,”iya dit, Putri sudah lama menyukai Yordan. Aku tak mengatakannya padamu karena aku hanya ingin menjaga perasaanmu dit” ungkapnya.
“Na, seandainya kamu mengatakan padaku lebih awal mungkin hatiku gak sesakit ini”
“Maaf” ucapnya sambil menitikkan air mata.
“Sebaiknya kamu segera pergi dari tempat ini” kataku dengan perasaan sangat kesal, aku merasa seperti ditipu oleh sahabatku sendiri.
Mendengar perkataanku, dia sangat terkejut. Kemudian dengan cepat dia segera pergi dari kamarku dengan langkah terburu-buru. Aku sadar, memang seharusnya kata-kata itu tidak terlontar dari bibirku. Aku pasti telah menyakiti perasaannya. Aku hanya kalut. Akan tetapi tak seharusnya aku melampiaskan kemarahanku pada Karina. Dia adalah sahabatku.


Paginya ketika aku datang kesekolah. Ternyata teman-temanku juga telah banyak mendengar berita tentang putusnya hubunganku dengan Putri. Setiap kali aku temui mereka diluar kelas. Pertanyaan yang terlontar adalah tentang Putri dan Putri. Berbagai kalimat iba ataupun semangat untuk kembali bangkit dan mendapatkan cinta yang baru terlontar dari beberapa temanku. “Sabar dit, mungkin emang takdirnya lo harus putus ma dia. Cewek banyak kok!” atau “Sia-sia dong kamu kejar dia, bukan jodohnya kali dit, kamu ama Putri!” Aku hanya bisa meringis mendengar semua itu. Itulah mereka dengan pikiran mereka.
Teman-temanku itu mungkin memang mengatakan perjuangan panjangku untuk mendapatkan cinta dari Putri telah sia-sia. Tapi bagiku tidak, semua kisah itu adalah miliku. Ketika aku jatuh cinta padanya, mungkin memang benar itu sebuah takdir. Namun ketika dia telah memilih untuk meninggalkanku itu bukan lagi menjadi takdir. Itu telah menjadi keputusannya untuk meninggalkanku dan memilih mencintai laki-laki lain. Saat itulah aku sadar mengapa dia menangis ketika meninggalkanku. Mencintainya dan ketika aku tahu dia menerimaku untuk berada disisinya, bagiku semua itu seperti mimpi. Kini aku sadar, ini bukanlah mimpi dan putusnya hubungan kami juga bukan takdir. Itulah yang diinginkan Putri, yang mungkin bisa membuatnya bahagia. Sebagaimana dia telah membuatku bahagia, walaupun dalam sekejap.
Ketika aku pulang dari sekolah. Aku kembali melewati persimpangan jalan yang tak pernah aku lupakan itu. Aku kembali menatap sejenak tembok itu. Kulihat samar-samar, coretan tulisanku ditembok itu telah bertambah atau mungkin Putri telah menyadari aku yang telah menuliskan sebuah kalimat disana sehingga dia pun membalas kata-kata cintaku. Segera aku dekati tembok itu. Perlahan sebuah kalimat telah muncul disana. Sebuah kalimat yang membuatku tersentak. “Hanya seseorang yang telah jatuh cinta yang mengerti; bagaimana indahnya cinta itu dan hanya seseorang yang telah patah hati yang mengerti; bagaimana rasa perih itu”. Kalimat itu tertulis begitu rapi dengan tinta warna merah seperti darah hingga membuatku berpikir bahwa yang menulis ini pastilah seorang gadis. Segera aku keluarkan pulpenku. Kubalas kalimat itu, “Cintalah yang membuatku tersadar akan indahnya kehidupan dan terkadang cinta pula yang membuatku sulit menghadapi kehidupan” Aku tuliskan kalimatku disana tanpa peduli keesokan harinya dia akan membaca tulisan ini atau tidak namun aku berharap dia membacanya.

Keesokan harinya ternyata dia membalas kalimat cintaku. Aku pun juga membalas kalimat-kalimat cinta yang dituliskan disana. Begitulah seterusnya hingga berhari-hari.



Aku terus membalas kalimat-kalimat cinta dengan tinta merah itu hingga tanpa sadar, tulisan-tulisan kami hampir memenuhi tembok putih itu. Aku tidak pernah tahu, siapa wanita disebrang sana. Walaupun sebetulnya rasa penasaran itu selalu ada. Pernah suatu hari aku bersembunyi dibalik kotak-kotak bekas yang bertumpuk di dekat tembok itu, aku hanya ingin menunggu sang penulis denga tinta merah itu. Namun penantianku tak kunjung tiba hingga malam hari, orang itu tak datang.
Sebenarnya tak banyak gadis yang tinggal di daerah ini. Aku juga pernah membuat daftar nama-nama anak perempuan yang mungkin aku kenal. Namun ketika aku bertemu dengan orang-orang itu aku singgung sedikit mengenai tembok itu, tak satupun dari mereka mengerti apa maksudku. Mereka sepertinya bukan penulis itu, tidak mungkin. Beberapa gadis yang mungkin aku kenal di daerah kampung sebelah juga sepertinya tidak tahu menahu, kecuali orang-orang yang tinggal di sebelah jalan raya itu. Namun aku cukup meragukan jika seseorang yang selalu berbagi kalimat cinta denganku itu berasal dari daerah itu. Mereka adalah orang-orang kaya yang tak mungkin mau melewati persimpangan jalan ini, karena tempat ini adalah tempat yang agak kotor dan becek jika turun hujan. Mungkin hanya beberapa orang saja yang mau naik angkutan kota menuju ke pasar yang biasa berada di tempat ini. Bahkan Putri pun tidak pernah lagi datang ketempat ini, mungkin sejak peristiwa itu dia lebih memilih menunggu angkutan kota ditempat pangkalan yang lain agar tidak bertemu denganku.
Saat ini aku juga mengkhawatirkan hubunganku dengan Karina. Sudah hampir lebih dari lima hari aku tidak bertegur sapa dengan Karina. Sekalipun kami bertemu di sekolah. Dia selalu menghindariku. Tentu saja ini sangat mengangguku, aku memutuskan untuk meminta maaf kepadanya. Aku memang menyadari bahwa aku telah memperlakukan Karina dengan tidak adil. Aku telah melampiaskan kemarahanku pada dirinya. Aku seperti akan kehilangan sahabatku.
Banyak juga yang aku ingin tanyakan pada Karina, terutama mengenai seseorang yang selama ini selalu berhubungan denganku melalui tembok itu. Aku ingin tahu identitas sebenarnya seseorang itu. Sekalipun aku mungkin akan menyesal mengetahuinya, jika seseorang yang menulis ditembok itu tidak sesuai dengan apa yang selama ini aku pikirkan. Besok aku memutuskan untuk menemui Karina. Aku harus meminta maaf padanya.

Hari ini aku tahu dimana seharusnya Karina berada. Setiap hari Selasa dia memiliki jadwal piket menjaga kantor OSIS. Sepulang sekolah aku sengaja mendatangi kantor itu. Tapi disana tidak ada siapapun. Kosong. Aku pun memutuskan menunggunya disini. Tak sampai setengah jam Karina muncul. Aku melihat raut wajahnya yang sedikit kaget ketika melihatku berdiri didepan pintu kantor OSIS. Segera aku mengatakan permintaan maafku padanya.
“Na, maafkan aku. Aku tahu aku salah.”
Dia menatapku sejenak kemudian hanya mengangguk dan berkata, “Aku juga salah dit, harusnya aku kasih tahu kamu dari dulu”
“Gak apa-apa, biarkan aja semua berlalu. Aku memutuskan untuk segera melupakan Putri. Mungkin memang aku tak pantas untuknya”
“Kamu pantas kok” kata Karina pelan. “Hanya saja kalian tidak ditakdirkan untuk saling mencintai” sambungnya.
“Mungkin saja”
Setelah itu, hubungan kami menjadi membaik kembali. Aku juga menceritakan padanya mengenai seseorang yang selama ini berhubungan denganku melalui tembok itu. Aku katakana padanya bahwa seandainya orang yang berbagi kalimat-kalimat cinta denganku itu seorang perempuan, mungkin aku akan mencintainya. Aku menyukai setiap kalimat yang dituliskannya disana. Karina begitu terkejut mendengar pernyataanku.
“APA?”
“Iya, tembok itu ada dipersimpangan jalan menuju kampong kita. Kamu juga bisa baca disana kalau kamu mau, Na. Kamu pasti akan kagum dengan semua kalimat-kalimat tentang cinta itu”.
“Kamu pasti akan kecewa suatu saat nanti mengatakan hal itu”
“Gimana kamu tahu? Bertemu dengan orangnya saja belum pernah”
“Tapi kamu gak perlu buat pernyataan seperti itu kan dit?”
“Na, kalimat-kalimat itu begitu indah disana” kataku meyakinkannya. “Kamu perlu membacanya, nanti sepulang sekolah kamu harus membacanya”.
“Tidak mungkin”
“Kenapa?”
“Hari ini aku akan pergi kerumah nenek di Bandung, kata ayah nenekku sakit dan kami sekeluarga diminta menjenguknya”
“Aku ikut sedih mendengarnya, berapa lama kamu akan pergi?”
“Mungkin tiga sampai empat hari”
“Baiklah kalau begitu, sepertinya aku sudah harus pulang”
“Yah sampai bertemu minggu depan”
Aku pun meninggalkan Karina. Hatiku begitu lega Karina mau memaafkan aku. Sepulang sekolah seperti biasanya aku melewati persimpangan jalan itu. Aku selalu mampir dan memastikan tulisan-tulisan yang baru akan muncul. Begitu pula kali ini. Hari ini dia menuliskan subuah kalimat yang tak pernah aku sangka. “Tak ada lagi kalimat yang lebih indah untuk aku sampaikan padamu selain, AKU MENCINTAIMU Raditya Sastra”
Kalimat itu begitu jelas menyiratkan perasaannya. Dia tahu namaku sementara aku tak pernah tahu siapa dia. Bagaimana mungkin aku juga mencintai orang yang mungkin aku tak pernah tahu. Aku tak mengerti hal sepeerti ini bisa terjadi. Aku tak berniat membalas kalimat-kalimat itu. Aku hanya akan menunggu saja siapa yang akan datang menemuiku, jika memang gadis itu benar-benar mencintaku. Mungkin saja ada orang yang sengaja iseng mengerjaiku dengan semua ini. Benar seperti kata Karina, jika mungkin suatu saat aku akan kecewa dengan kalimat-kalimat cinta di tembok itu.


Sudah berhari-hari tulisan ditembok itu tak lagi bertambah. Aku enggan menuliskan sesuatu ditembok itu, setelah sang penulisnya menyatakan perasaannya padaku. Masalahnya mungkin aku tak pernah tahu, siapakah gerangan sang penulis itu?
Hari ini pula aku dikejutkan oleh berita dari ibuku.
“Diiiiitt!” panggil ibuku.
“Ada apa bu? Kok teriak-teriak?”
“Kamu sudah dengar kabar kalau Karina kecelakaan?”
“Hah?”
“Iya, ibu juga baru dengar!”
“Terus?”
“Keluarga Karina kecelakaan, tapi katanya yang paling parah ya justru Karina”
“Ibu baru dengar dari ibu-ibu arisan hari ini, padahal kecelakaannya sudah dua hari yang lalu”
“Sekarang Karina dirumah sakit mana, bu?” tanyaku khawatir.
“Katanya sudah dirawat dirumahnya”
“Jadi sudah pulang?”
Ibuku mengangguk. “Kalau kamu mau ke rumahnya sampaikan salam ibu pada keluarganya, mungkin besok ibu akan kesana”
“Yah bu” sahutku sambil bersiap pergi kerumahnya.
Bagiku, Karina adalah sahabat terbaikku. Kami berteman sudah sangat lama. Keluarga Karina juga sering membantu keluarga kami jika sedang daalam kesusahan terutama dalam masalah finansial. Bukan hanya kami yang bersahabat tapi juga keluarga kami. Sesegera mungkin aku pergi kerumah Karina, meski kami tinggal disatu kampung tapi rumah kami terpisah beberapa blok oleh rumah-rumah tempat pabrik kerupuk. Berjalan kaki dari rumahku menuju rumah Karina mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Aku berlari secepatnya agar segera sampai di rumah Karina.
Sampai di depan rumah Karina. Ibu Karina yang membukakan pintu untukku, aku melihat juga didahinya yang dibalut oleh perban putih. Aku katakan padanya, jika kedatanganku karena aku ingin menjenguk Karina. Beliau mempersilahkan aku masuk dan mengantarkannya ke kamar Karina.
“Karina mengalami gegar otak” katanya lirih sembari membukakan pintu kamar Karina.
Aku melihat tubuhnya yang kecil terbaring lemah tak berdaya. Selang infuse masih membelit di tangannya. Tapi diruangan itu, ada hal lain yang membuatku tertegun. Aku melihat setangkai mawar merah plastik yang tidak asing lagi bagiku, disebelahnya juga terdapat sebuah spidol berwarna merah. Kulihat pula berbagai tulisan kalimat yang ditulis di kertas warna-warni, kertas-kertas yang telah ditempelkan pada tembok-tembok didepan meja belajar Karina. Kata-kata yang ditulis disana adalah kata-kata cinta yang aku tuliskan setiap hari ditembok itu. Kini aku mengetahui siapa sang penulis kalimat-kalimat cinta yang indah itu.
Kutatap wajah Karina yang pucat pasi. Ku genggam tangannya dengan erat. Saat itu inginku bisikan melalui telinganya, “Karina, maafkan aku yang tak pernah memahami perasaanmu, kelak jika kau terbangun aku akan katakan padamu bahwa aku juga mencintaimu” .






Yogyakarta, 13 April 2010
“Raditya & Karina, tetaplah bahagia dalam mimpi-mimpiku…”

Sabtu, 10 April 2010

Bermain Bersama...^^ (kotak lama)

Sometimes we cannot deny that in middle of our routine of lectures, we still need a refreshing ...A few weeks ago precisely March 16, 2010,
i am playing together with my friends (ana, astri, and hani) in KIDSFUN...enjoy children's games!!!

Awalnya sempet takut masuk karena dikirain bayarnya mahal,wkwkwkw
Ternyata gak mahal-mahal banget kok…25ribu gitu?? Lupa-lupa ingatlah…but not for all games…^^



Berlagak di negri dongeng..uhm...



Maen bom-bom car..wkwkwkwkw




I was really tired with this game ... pfiuuhh,, but its fun .. ^ ^



when I play this game, my boat isn't really good and finally do not move too much, it makes me drift in middle of the pond ...hikz...

Pada akhirnya kita kecapean sendiri...truz makan-makan snack sambil ngeliat anak-anak kecil bermain-main.heu FUN!

Rabu, 07 April 2010

Kekasih dalam Kata-Kata


Sebetulnya aku tidak mencintainya. Setidaknya aku tahu bahwa perasaanku padanya bukanlah perasaan cinta. Aku mencintai semua tulisan-tulisannya tapi tidak penulisnya, begitulah. Aku pun menyadari perasaan ini cukup lama, menerima kenyataan bahwa aku tidak mencintai istriku sendiri. Sejujurnya aku menikahi dia karena apa-apa yang dituangkan dalam kertas-kertas itu berupa puisi-puisinya, cerpen-cerpennya, dan novel-novelnya. Tapi tidak dirinya dan tidak pribadinya. Aku pun merasa tidak terganggu dengan segala perasaan ini asalkan aku masih membaca semua karya-karyanya. Kenyataan terindah yang aku alami adalah aku selalu menjadi orang pertama yang membaca karya-karyanya. Aku sangat menikmati semua itu. Oleh sebab itu cintaku bukanlah cinta bertepuk sebelah tangan.

Awalnya mungkin aneh. Seperti mencintai hal yang tidak nyata. Absurd. Coba bayangkan, aku hanya mendekati istriku jika dia telah mulai beranjak dari mejanya dan mengerak-gerakan badannya melepas penat sambil tersenyum riang, itu merupakan pertanda bahwa dia telah menyelesaikan karya terbarunya. Kebiasaan istriku yang satu Inilah yang selalu kunanti-nanti.
Kemudian aku mulai mendekatinya sambil bertanya, “Apa yang kau tulis? Novel? Cerpen? Atau Puisi?”
“Cerpen” jawabnya singkat.
“Sudah selesai?”
Dia mengangguk perlahan.
“Boleh aku baca?”
Dia kembali mengangguk.
Seketika perasaanku berubah menjadi berbunga-bunga, bahagia tiada tara. Semakin aku mendekati laptop istriku, hatiku semakin berdetak tak karuan. Luar biasa. Perasaan cintaku ini begitu mendalam. Aku membaca tulisan itu dengan seksama, sekejap perasaanku mulai bergejolak, mataku menyusuri kata demi kata, cerita itu segera mengalir lembut diantara sel-sel otakku membuat hatiku semakin berdegup gencang. Cerpen magis dengan gaya kesusastraan tingkat tinggi. Gaya bahasa yang begitu aku kenal, ide cerita yang brilian, aku begitu mencintainya, aku begitu mencintai karya-karya sastra istriku, sekali lagi hanya karyanya bukan pribadinya.
Setelah membaca karya terbaru istriku, cerita-cerita dalam karya itu selalu terbawa dalam mimpi-mimpiku, yang kemudian membawaku kedalam dunia baru. Dunia yang jauh lebih indah. Yang jauh dari dunia nyataku, yang jauh dari kehidupanku, dan yang jauh dari istriku. Namun kebahagiaan yang ada dalam mimpiku ini hanya terasa sekejap saja. Karena bisikan-bisikan suara wanita itu, tepatnya suara istriku yang membangunkanku untuk kembali berangkat ke kantor. Aku selalu kesal. Kebahagiaan yang hanya dirasakan beberapa saat saja. Hilang begitu saja oleh suara-suara wanita itu. Sialan!
Begitulah aku menjalani kisah cintaku. Unik. Tapi aku pun tak bisa menepis perasaan cintaku yang begitu mendalam ini. Aku membiarkan cintaku ini tetap tumbuh dengan sendirinya. Karena aku pun begitu menikmati setiap episode kehidupan cinta yang aku jalani. Sampai suatu ketika istriku kembali menulis, kali ini dia mengarang sebuah novel yang membuat perasaan cintaku ini semakin gila. Perasaan cintaku dengan karya-karyanya sekali lagi bukan pada penulisnya secara pribadi.

***

Hari itu aku pulang lebih awal dari biasanya, kudapati rumahku sangat sepi. Hening. Kupanggil nama istriku berulang kali namun dia tak menyahut. Aku pun masuk kamar dan berganti pakaian. Kemudian aku mendatangi ruang makan, kubuka tudung saji diatas meja makan, disana telah tersedia nasi putih hangat, lauk pauk dan sayuran. Tentu saja semua itu adalah makan siang yang disediakan untukku oleh istriku. Dia tahu betul hari ini aku akan pulang lebih cepat dari biasanya, batinku. Segera aku mulai menyantap hidangan yang ada dihadapanku, perutku sudah tidak tahan setelah setengah hari ini berkerja dikantor menghadapi setumpuk nota-nota yang harus dibuat menjadi laporan keuangan berlembar-lembar. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai pekerjaanku namun ini adalah pekerjaan yang cukup menjanjikan. Sayup-sayup aku mendengar bunyi seseorang sedang memencet keyboard dengan cepat. Seseorang sedang mengetik. Wanita itu kembali menulis! Istriku kembali menulis!
Segera aku datangi ruang baca, tempat dimana istriku biasanya menulis semua karya-karyanya. Aku mengintipnya dari balik celah pintu, wanita itu terlihat begitu fokus menatap layar laptop, jari-jarinya yang lentik tak berhenti bergerak terus memencet tuts-tuts keyboard dengan begitu tangkasnya. Matanya melotot menatap huruf-huruf yang mulai bermunculan dilayar dengan rapinya. Sedangkan aku, hatiku justru mulai berdegup, semakin lama semakin kecang. Ini pertanda bagus, wanita itu benar-benar mulai menulis lagi, itu berarti aku akan kembali membaca dan menemui kekasihku! Aku tersenyum bahagia.
Tiba-tiba wanita itu menghentikan aktivitasnya, dia menoleh kearahku. Dia menyadari aku memperhatikannya. Dia menatapku sesaat dan tersenyum. Mungkin keheranan melihatku senyum-senyum sendirian dibalik pintu.
“Sudah pulang?”
Aku mengangguk.
“Maaf aku tidak tahu kamu sudah pulang, aku keasyikan menulis sebuah novel sampai aku tidak sadar ternyata kamu sudah pulang sedari tadi”
Sebuah novel!
“Sudah makan? Aku sudah menyiapkan makan siang di atas meja makan” tambahnya.
Aku hanya menunjukkan piring yang aku pegang diatasnya juga masih tersisa setumpuk nasi dan lauk pauk yang sengaja aku ambil melebihi porsi biasanya.
Tak kuat menahan rasa penasaranku. Aku bertanya, “Kamu sedang menulis novel tentang apa?”
“Seorang wanita” jawabnya singkat. “Dan kau adalah lelaki pertama yang akan membacanya” tambahnya dengan tegas.
Aku bahagia bukan main. Sebentar lagi akan muncul sebuah novel yang menuturkan tentang seorang wanita, akankah wanita dalam novel ini yang akan menjadi cinta sejatiku. Perasaanku semakin tak karuan. Maka sebisa mungkin aku tidak menganggu wanita itu. Biarlah dia terus menyelesaikan novel itu. Biarkan dia terus menulis. Aku tak sabar! Wanita penulis novel itu atau wanita yang biasa disebut-sebut oleh orang-orang sebagai istriku. Mungkin dia memang istriku tapi sekali lagi aku tidak mencintainya, aku hanya mencintai tulisan-tulisannya.

***

Berhari-hari bahkan berminggu-minggu aku tunggu wanita itu atau istriku menyelesaikan novel terbarunya. Aku rela membiarkan dia sesekali tidak memasak makan malam ataupun makan siang. Tak apalah, asalkan cepat selesai novel itu, batinku.
Sampailah dimana istriku jatuh sakit. Ini benar-benar masa yang sulit. Aku menjadi gelisah tidak karuan, aku benar-benar khawatir akan novel itu yang tak terselesaikan. Maka apapun akan aku lakukan demi sembuhnya istriku. Aku benar-benar khawatir pada novel itu. Aku benar-benar ingin segera membacanya. Semenjak aku tahu istriku sakit hingga tidak bisa melanjutkan menulis novel segeralah aku membawanya ke dokter. Sesampai disana, aku ingin perawatan terbaik untuk istriku agar dia lekas sembuh dan kembali melanjutkan menulis novel yang tertunda karena kesehatannya. Beruntung sang dokter mengatakan bahwa istriku hanya kecapean dan perlu istirahat. Aku begitu lega mendengar penuturan sang dokter, setelah menerima resep obat dari dokter kami cepat-cepat membeli obat itu di apotek terdekat dan pulang. Sampai dirumah segera aku memastikan dia meminum obat dan beristirahat. Nampaknya aku harus lebih bersabar untuk menanti novel itu. Setidaknya aku harus lebih berjuang untuk mendapatkan kekasih sejatiku. Sekali lagi bukan istriku, tetapi tulisan-tulisannya.
Malam harinya, istriku mengucapkan terima kasih atas semua perhatianku hari ini. Aku diam saja. Dia mengatakan sangat bahagia terhadap kepedulian dan perhatianku. Aku tetap diam saja. Dia bahkan juga mengatakan kalau dia sangat mencintaiku dan akan segera menyelesaikan novel itu agar aku bisa segera membacanya.
“Aku ingin kamu segera membaca novel terbaruku, aku ingin mendengar pendapatmu” begitulah katanya.
Kali ini aku tidak diam saja. Aku tersenyum ceria sambil mengatakan, “Aku juga ingin segera membaca novel itu, cepatlah lekas sembuh”
Dia pun mengangguk dan tersenyum.
Meski begitu, aku memang bahagia. Tapi aku tak pernah sekalipun mengatakan padanya bahwa aku tak mencintainya dan aku hanya mencintai tulisan-tulisannya. Entahlah, mungkin aku takut kehilangan cintaku, aku takut dia tidak menulis lagi dan aku akan kehilangan cinta sejatiku. Hanya itu saja alasanku. Perasaan yang aneh.
Beberapa hari setelah dia sembuh, dia kembali menulis untuk melanjutkan novel itu. Aku bahagia. Setidaknya aku akan segera membaca novel itu.

***

Siang itu aku pulang dengan kondisi yang sangat melelahkan. Semua ini disebabkan aktivitas di kantor. Naiknya pamor perusahaan tempat aku bekerja menyebabkan aku harus mengikuti meeting dengan beberapa klien perusahaan dalam seharian, yang kemudian hasil meeting itu harus segera aku ubah menjadi rencana anggaran ini dan itu. Akan tetapi suasana hatiku malam itu menjadi berubah ketika wanita itu atau istriku mengatakan bahwa dia telah menyelesaikan novel terbarunya. Dia mengatakannya ketika menyambut kehadiranku diruang tamu.
“Aku telah menyelesaikan novel terbaru”
“Sungguh?” tanyaku tak percaya.
“Yah, kau bisa membacanya malam ini” katanya sambil mengangguk.
Saking bahagianya, aku peluk wanita itu atau istriku dan segera aku pergi ke ruang baca. Kudapati laptop yang tengah menyala itu. Mataku pun segera menyusuri kata demi kata. Novel ini tak kalah dengan cerita-cerita yang lain. Tetap magis dengan gaya kesusastraan tingkat tinggi. Gaya bahasa yang begitu aku kenal, ide cerita yang brilian, aku begitu mencintainya, aku begitu mencintai karya-karya sastra istriku, sekali lagi hanya karyanya bukan pribadinya.
Aku terus membaca novel itu. Sampai aku pun terasa terbawa ke dunia lain, aku terasa hidup mengikuti alur cerita dalam novel itu dan akhirnya aku pun terpikat oleh wanita lain. Seorang wanita yang hambir ribuan kali namanya disebut-sebut dalam novel itu. Wanita yang membuat aku terus membaca novel itu hingga imajinasiku semakin menyala dengan liarnya.
Wanita itu bernama Melisa. Wanita yang diceritakan dalam novel karya istriku itu. Kini mimpi-mimpiku tidak lagi tentang cerita-cerita magis, melainkan tentang wanita bernama Melisa. Semua kini telah berubah, aku justru tergila-gila tentang wanita bernama Melisa. Wanita hasil imajinasi istriku. Entah bagaimana wanita itu mulai memasuki mimpi-mimpiku. Bahkan jauh dari yang pernah aku bayangkan. Kami berdua begitu bahagia dalam dunia kami. Dunia mimpi kami. Dunia yang jauh lebih indah. Yang jauh dari dunia nyataku, yang jauh dari kehidupanku, dan yang jauh dari istriku. Dunia yang hanya milik kami berdua saja, aku dan Melisa. Sedangkan wanita itu atau istriku tetap saja menjadi penganggu kebahagiaan kami. Menganggu mimpi-mimpi kami dengan suara-suara yang membangunkanku untuk segera berangkat ke tempat kerja.
Mimpi-mimpi itu membuat aku menunggu hadirnya malam. Aku tak sabar untuk segera terlelap dan bertemu dengan Melisa. Aku tergila-gila dengan wanita itu. Wanita yang diciptakan dari imajinasi istriku kini benar-benar menjadi wanita impianku. Sungguh sulit dipercaya.

***

Berulangkali aku memastikan sikap istriku yang mulai terlihat tak biasa, mungkin dia mulai menyadari juga kenyataan bahwa aku tidak mencintainya. Gelagatnya selalu menunjukan rasa curiga, seolah-olah memastikan aku tidak berhubungan dengan wanita lain. Sepulang dari kantor, dia selalu memeriksa barang-barangku secara diam-diam meskipun aku tahu tapi aku berpura-pura tidak tahu. Jika aku pulang agak terlambat karena harus menyelesaikan laporan ke kepala bidang pun dia dengan sengaja menelpon ke kantor. Aku tidak tahu persis apa yang ingin diketahuinya, tapi mungkin dia hanya memastikan bahwa aku tidak bersama wanita manapun dikantor. Aku membiarkan semua hal yang dilakukannya meski aku mulai sedikit risih dengan hal-hal yang menunjukkan rasa penuh kecurigaan itu.

Barangkali dia sudah lelah dengan semua sikap dan perilakuku terhadap dirinya. Ketika kutemui dia dikamar, wajahnya begitu muram. Meski aku tak terlalu mengenalnya, tapi aku tahu perilakunya itu tak biasa. Mungkin saja dia sedang marah. Inilah kemarahannya. Sebetulnya aku tidak ingin mengajaknya bicara namun dia sendiri justru yang memulai pembicaraan kami malam itu. Percakapan melelahkan yang membuat aku mengakui perasaanku yang sebenarnya.
Matanya mulai merah dan sembab, aku die telah menangis dan kini dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air mata itu lagi.
Dengan suara serak, ia berusaha berteriak. “Siapa wanita bernama Lisa itu?”
Aku diam saja.
“Aku mendengar kau sebut-sebut nama itu ratusan kali dalam tidurmu! Katakan siapa wanita itu!”
Aku tetap diam saja.
“Hampir tiap malam kau mengigau menyebut L-I-S-A!” katanya dengan suara nyaring. “Siapa wanita itu? Katakan padaku siapa gadis itu!” tambahnya sambil disertai isak tangis.
“Lisa itu Melisa, wanita dalam imajinasimu, wanita dalam novelmu”
“OMONG KOSONG! Wanita itu tidak nyata!”
“Tapi dia nyata bagiku!” teriakku. “Dia sangat nyata bagiku! Dia hidup! Aku begitu mendambakan wanita itu hidup dalam mimpiku selamanya! Aku begitu memimpikan gadis itu”
“Bohong!”
“Aku tidak bohong! Dan aku tidak pernah berbohong!” kataku sambil menatapnya “Seandainya kau ingin aku jujur. Aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya mencintai karya-karyamu, tulisan-tulisanmu, puisi-puisimu, cerpen-cerpenmu, novel-novelmu, juga Melisa atau L-I-S-A!”
Sejenak dia hanya terdiam mendengar kata-kataku.
“Itukah perasaanmu padaku selama ini?”
“Yah” jawabku dengan tegas. “Maafkan aku”
Dia kembali menangis dan pergi ke ruang baca. Disana dia terus menangis. Hingga suara tangisnya yang begitu sendu memecah keheningan malam setelah pertengkaran mulut yang terjadi diantara kami, pertengkaran mengenai Melisa dan perasaanku yang sebenarnya. Dia tidak kembali lagi kekamar sampai tengah malam. Bahkan malam itu, ketika aku bertemu dengan Melisa dalam mimpiku, dia juga terlihat begitu sedih. Seolah-olah dia akan pergi jauh dan tidak kembali. Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya tidak sedih. Namun Melisa tetap sedih bahkan dia menangis. Aku pun begitu sedih melihat dia menangis. Aku tak mampu berkata-kata. Aku terus menghiburnya. Hal yang aku inginkan hanya melihatnya tersenyum seperti biasanya, hanya hal itu yang paling aku harapkan dari mimpiku yang singkat ini agar mimpi ini tidak menjadi mimpi terburuk dalam hidupku.
Kali ini yang membangunkanku bukan lagi suara-suara wanita itu atau istriku. Melainkan cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela-jendela kamarku. Aku lihat jam dinding yang ada dikamarku. Sudah pukul sembilan, pikirku. Aku segera bangkit dari tempat tidurku. Hari ini aku memutuskan untuk tidak berangkat kerja. Perasaanku terhadap Melisa dalam mimpi begitu mempengaruhiku. Dia terlihat begitu sedih. Sungguh mimpi yang sangat buruk. Namun kali ini aku telah kembali ke dunia nyataku.
Aku mencari-cari wanita itu atau istriku. Mungkinkah dia meninggalkanku setelah kejadian semalam? Aku mencarinya kesetiap ruang rumah kami. Kali ini aku periksa lemarinya. Aku pastikan kali ini, dia benar-benar telah pergi.


Hari ini, aku hanya ingin diam dirumah dan menunggu malam tiba. Aku menunggu saat yang tepat untuk bertemu dengan Melisa. Biarkanlah istriku meninggalkanku asalkan Melisa tetap hadir dalam mimpi-mimpiku. Sesaat malam tiba. Aku tenggelam dalam kasurku. Kini aku tidak lagi membagi kasur ini dengan wanita itu atau istriku. Aku berharap mimpi itu datang, bersama dengan datangnya Melisaku tersayang. Namun sungguh sangat membuatku kecewa. Malam ini Melisa tidak bisa datang dalam mimpiku. Sungguh menyesakkan. Apa yang telah terjadi padamu. Oh, Melisaku tersayang?
Ketidakhadirannya dalam mimpiku membuatku terbangun. Hanya sekilas wajahnya yang terlintas dalam benakku, saat terakhir kali aku bertemu dengannya. Saat-saat dimana dia terlihat begitu sedih. Aku mencintai Melisa. Kekasihku yang hidup dalam kata-kata. Wanita hasil imajinasi istriku. Wanita yang ada dalam novel hasil karya isteriku. Aku begitu mencintai tulisan-tulisan isteriku. Sekali lagi hanya tulisan-tulisannya bukan pribadinya. Sungguh aneh, tapi memang begitulah.


Berhari-hari sudah aku jalani kehidupan tanpa Melisa dalam mimpi-mimpiku. Dia tidak pernah kembali setelah malam itu, begitu pula wanita itu atau isteriku. Melisa pergi tepat disaat isteriku pergi. Sepulang kerja tidak adalagi masakan diatas meja makan. Ketika malam tiba, tidak ada lagi wajah lugu milik Melisa. Aku pun tak pernah lagi mendengar bunyi gerakan jari-jari yang menghentak-hentak pada tuts-tuts keyboard laptop. Aku juga tak pernah melihat senyum Melisa atau cerita-cerita magis dalam mimpiku seperti dulu. Hatiku begitu sakit merasakan semua itu. Seolah-olah sebuah anak panah ditusukkan tepat mengenai dadaku. Begitu sakitnya sampai membuatku menangis setiap malam. Sampai aku sadari satu hal. Aku tak hanya merindukan Melisa, tetapi juga wanita itu atau istriku. Penyesalan itu datang seiring dengan adanya bisikan-bisikan, ketika engkau mencintai sesuatu maka engkau juga harus mencintai sang penciptanya.
Aku pun menangis. Kali ini aku benar-benar menangis. Aku tak hanya mencintai tulisan-tulisannya, puisi-puisinya, cerpen-cerpennya, novel-novelnya, ataupun Melisa tetapi aku juga mencintai isteriku. Aku menyesal, menangis, dan patah hati.

01:04
Y. 07. 04. 10

Senin, 05 April 2010

Tidak lagi tentang Rumah Pasir kami


Angin yang menerpaku seolah-olah ingin membisikan bait-bait lagu alam. Deru ombak dan percikan air yang membentur bebatuan. Langit yang luas memayungi kami. Sinar matahari memancar bergulat dengan biru lazuardi sang awan. Keindahan alam yang penuh inspirasi.

Meski tempat ini tak lagi menjadi asing bagi kami. Semua menikmati keindahannya. Kreasi tuhan yang membuat bibirku berdengung mengucapkan “Subhanallah” berulang kali. Aku sangat menikmati keindahan tempat ini (sejak dulu).

Ditempat ini pula biasanya aku membangun rumah pasir kami. Ternyata kali ini aku tak membangun rumah pasir kami. Biasanya aku membuatnya bersama teman-teman yang lain. Membangunnya sedikit demi sedikit. Entah karena apa kali ini aku tak membangunnya, bahkan tak ingin untuk melakukannya. keadaan kami pun telah lama berubah. Tak lagi kanak-kanak yang memandang pasir itu sebagai sebuah lahan bermain. Kami datang kembali kepantai ini tak lagi sebagai seorang anak manusia yang baru saja terlahir, tapi sebagai seorang manusia (yang tumbuh) dan masih ingin menikmati pasir seperti dulu kami menikmati pasir seperti membangun rumah pasir kami.

Sepulang dari pantai aku membereskan pakaianku yang penuh dengan pasir, ibuku berulangkali mengeluhkan bahwa pasir itu mengotori kamar mandi rumah kami. Maka aku merasa bertanggung jawab untuk membersihkan semuanya. Aku menatap butiran pasir yang ada disudut-sudut kamar mandi, baru pagi tadi aku merasakan keindahan jutaan pasir yang beradu dengan air laut. Tapi kali ini aku merasakannya bukan sebagai keindahan tapi sebagai kotoran. Sebuah kontradiksi.

Hingga aku pun menyadarinya keindahan pasir itu hanya mampu terasa karena ada berjuta-juta butir pasir. Terhampar dengan bebas dan menyatu dengan alam.

Karena hanya sebutir pasir saja takkan pernah berarti, menjadi sebutir pasir tak akan mampu memberikan keindahan selayaknya jutaan pasir yang terhampar di pantai. Aku terdiam. Begitulah. Kadang kebersamaan itu menjadi sebuah keindahan tersendiri.^^

Y.XX.11.09

Kamis, 18 Maret 2010

Secangkir Cinta dan tentang Kota Wina, di Austria


Kamu ingat, sebuah negeri di sebelah barat negara Swiss. Negeri itu bernama Austria. Sebuah negeri yang kecil memang. Namun begitu menawan, penuh dengan keindahan nuansa seni yang begitu tinggi. Yang paling aku ingat tentang negeri ini adalah kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart pada tanggal 27 Januari 1756 di Salzburg, tentang lahirnya Adolf Hitler sang diktator, juga tentang kelahiran Johann Strauss pencipta musik-musik Walza. Hm, Austria memang memiliki sejarah yang panjang.
Kamu adalah orang yang membuatku sangat terkesan dengan Austria. Gara-gara kamu, aku selalu memimpikan tentang Autria. Aku bergaya di depan monument Carlzu Schwarzeberg, kemudian aku berjalan diantara jalanan Rennwerg menuju Ringstrasee, Wina. Atau mungkin bernostalgia merasakan ‘indahnya’ musik Strauss sambil menyusuri sungai Donau, sebuah sungai terpanjang kedua di Eropa.
Kenapa aku begitu bahagia membayangkan indahnya Austria, walaupun sebenarnya semua itu tak seberapa indahnya. Aku sendiri pun, waktu itu belum mengerti betul tentang Austria, aku tahu betapa indahnya Austria, semua itu gara-gara kamu.
Konon katanya, Austria telah berpenghuni sejak awal zaman Palaolithic dan nama kota Wina berasal dari Vedunia yang sejak tahun 2000 SM sudah didiami suku Kelten, bahkan pada abad XV SM, daerah sekitar sungai Donau dikuasai bangsa Romawi dibawah Kaisar Agustus. Sejauh itukah kamu dan aku tahu tentang Austria. Aku sudah tak ingat lagi yang lain, yang aku ingat hanyalah tiga hal terindah; Aku, kamu dan Austria.
Mungkin orang-orang boleh bicara tentang cinta. Indahnya cinta, perihnya cinta, sakitnya cinta, dan segala-galanya tentang cinta. Tapi bagiku cinta adalah aku, kamu dan Austria. Entah mengapa aku begitu terpesona padamu. Begitu butanya aku tentang mu.
Awalnya, aku sendiri tak peduli tentang cinta. Tapi itulah kamu, yang selalu membuka ruang baru dalam duniaku dan mengenalkan aku tentang Austria juga tentang cinta. Mungkin saat ini aku terlalu meninggikanmu, dengan semua omong kosongku tentang cinta tapi ini semua memang omong kosong. Kita sedang bersandiwara dalam mengungkapkan isi hati, penuh dengan kepalsuan. Jangan pernah memungkiri hal itu. Cinta itu hanya sebuah perasaan, sedangkan kamu adalah alasan mengapa cinta itu ada, bersama semua kenangan manis tentang kota Wina di negeri Austria.
Ketika aku mencoba mengingat kembali tentang sebuah jalan yang dikenal dengan nama Ringstraſse. Sebuah jalan sepanjang 6,5 km dan itu merupakan jalan melingkar, mengelilingi kota Wina. Katanya sih, ini merupakan sebuah pagar benteng bagi kota Wina. Akupun kembali teringat cerita cinta yang kau beri judul secangkir cinta. Kamu ibaratkan cinta itu dengan jalan melingkar itu. Ah, semuanya benar-benar tentang Austria. Bagaimana bisa kau tahu sebanyak itu tentang Austria?
Kamu juga bercerita kalau Franz Ferdinand, putera mahkota kerajaan besar Austria yang diculik dan menjadi salah satu penyebab meletusnya perang Dunia ke I. Pada tahun 1300 M, ia datang ke Indonesia dan membeli keris pangeran Diponegoro. Waktu itu aku tertawa, tak percaya dan menganggap semua itu hanya sebagai lelucon. Namun kamu marah dan berkata kalau cerita itu benar, bahkan keris itu masih tersimpan dengan rapi di museum FÜr Vörkerkunde (museum Etnologi) di Wina. Akhirnya aku percaya. Aku berhenti tertawa dan aku meminta maaf kepadamu. Seandainya saja kamu tahu, aku selalu percaya padamu sebelum kamu menyuruhku untuk percaya padamu, aku telah jauh mempercayaimu…melebihi dari yang kamu sadari.
Namun segalanya berubah.
Kadang segala sesuatu yang kita mimpikan tak seindah dengan yang terjadi pada kenyataan. Aku masih betul-betul ingat kejadian yang membuatku begitu merasa bersalah padamu.
Ketika itu bulan Desember, dimana hujan turun dengan sangat deras. Tiba-tiba kamu menelponku dan mengajakku untuk menonton film musikal, The Sound of Musik. Sebuah film yang menceritakan tentang kehidupan keluarga Kapten Von Trapp. Setting film ini di Salzburg, sebuah kota yang sangat indah di Austria, yang juga terkenal dengan lukisan-lukisan dan arsitektur indah yang ada di beberapa katedral di Salzburg. Awalnya aku enggak tertarik, karena waktu itu hujan sangat deras dan jujur aja, aku enggak begitu suka dengan film-film seperti itu, tapi kamu memaksa dan akhirnya aku mau, dengan syarat kamu mau menjemputku. Kamu setuju dan akan menjemputku sepuluh menit lagi, tentu saja dengan vespa kuningmu itu.
Kalau menggingat vespa kuningmu itu, aku jadi pengen ketawa. Kebayang nggak sih, gara-gara vespa kuningmu itu. Setiap kali kamu ngeboncengin aku, semua orang yang ada dijalanan tuh pada ngeliatin kita dengan wajah yang, duuuh…so what banget deh! Tapi kamu nggak peduli dan tetep aja bangga dengan vespa kuningmu, yah itulah sifat yang paling aku suka dari kamu. PD banget, polos dan sama sekali nggak peduli dengan apa kata orang, selama kamu enggak ngebuat kesalahan yang fatal, kenapa mesti diomongin? Kenapa mesti dimasalahin? Kenapa mesti diributin? dan menurutku itu bener banget.
Saat itu, aku sudah menunggumu lebih dari lima belas menit. Aku pikir kamu telat karena ada trouble dengan vespa kuningmu itu, jadi yah…aku mencoba tetap sabar aja. Tapi lama kelamaan, jam tanganku ini udah nunjukkin lebih dari dua jam aku nunggu kamu dan kamu belum datang-datang juga. Jelas aja aku kesel banget. Jarak antara rumah kamu dan aku tuh cuma sepuluh menit kalau ditempuh pake vespa. Tapi ini, sudah dua jam lebih belum nyampe juga, jujur aja, waktu itu aku bener-bener ‘kesel’ banget dan aku pun coba buat nelpon ke rumah mu tapi hasilnya, nihil. Sama sekali enggak ada yang ngangkat. Ya sudah! Aku batalin acara ini, aku naik ke kamar dan tidur. Maklum, buat aku tidur adalah solusi yang paling tepat untuk menanggulangi rasa kekesalanku ini, karena kalau udah bangun ‘kan jadi lupa ama segala macam masalah. Dan akhirnya aku pun tertidur, pulas banget.
Tiba-tiba dua jam kemudian, aku terbangun dengan bunyi telepon. Aku angkat telepon itu, dan ternyata dari temenku. Kamu tahu nggak apa yang dia katakan? Dia mengatakan kalau kamu tabrakan. Kamu tabrakan dengan mobil di tikungan jalan Pandanaran, dan jalan itu cuma dua puluh meter dari rumahku. Oh my God! Betapa bodohnya aku! Kenapa bisa aku sama sekali enggak ngedenger bunyi ambulans atau feeling sesuatu pun tentang kamu. Malahan aku ngomel-ngomel enggak jelas dan kesel ama kamu, karena kamu sama sekali nggak datang ke rumahku. Trus aku malah tidur dengan pulas sementara kamu… aku bener-bener stupid!
Aku langsung cabut pergi rumah sakit tempat kamu dirawat. Tapi, sayangnya aku udah telat. Kamu sakit terlalu parah. Kepalamu terbentur trotoar dan kamu lupa, kalau kamu sama sekali enggak pake helm. Kamu hanya pake jas hujan. Celakanya lagi, ambulans terlambat datang karena memang waktu itu hujan turun deras banget. Aku menangis. Kenapa akhirnya malah kamu yang pergi begitu saja?
Semua ini bener-bener ninggalin seribu pertanyaan dan penyesalan buat aku.
Inilah akhir dari semuanya, kamu pergi meninggalkanku dengan semua kenangan cerita-ceritamu tentang Austria. Tapi bagiku semua ini bukan lagi sebuah kenangan. Mimpiku yang kamu ciptakan itu, semuanya telah aku ubah menjadi kenyataan. Kini aku berhasil bergaya di depan monument seorang prajurit penunggang kuda Carlzu Schwardenberg, berjalan di dekat sungai Donau, merasakan angin kota Wina, merasakan masakan khas Austria dan mendengarkan musik-musik Strauss. Hanya saja, mungkin bagimu masih tetap menjadi kenangan.
Kenapa akhirnya aku menikmati kota Wina ini sendiri? Padahal ini adalah impianmu, ini adalah mimpimu, ini adalah obsesi hidupmu dan bermacam-macam harapanmu. Tapi kenapa akhirnya semua ini jatuh padaku? Apakah ini yang disebut dengan takdir?
Jika benar ini sebuah takdir, aku hanya bisa pasrah dan terdiam.
Kini aku menangis. Selama ini, kamulah yang membuatku bahagia, bukan kota Wina ataupun negeri Austria, karena aku telah berdiri disini, di Wina. Namun entah mengapa aku masih tetap menangis, padahal aku begitu mencintai kota ini. Ternyata aku salah, aku keliru. Aku begitu naïf untuk mengakui kamulah yang membuatku bahagia.
Bagiku, kota Wina itu adalah sebuah cangkir dan kamu adalah cinta. Jadi, aku namakan ini secangkir cinta. Seperti yang pernah kamu ceritakan tentang jalan Ringstraſse itu. Sekarang ini, aku hanya akan menjadikannya sebuah kenangan, karena jalan hidupku masih panjang. Maafkan aku cinta. Bukan berarti aku akan melupakan kamu begitu saja. Kamu akan tetap selalu ada dihatiku, walaupun semuanya telah berubah. Tak lagi nyata. Tetapi bagiku kamu akan masih tetap sama.
Seandainya kamu bertanya padaku, kenapa sampai saat ini aku masih sendiri? Jawabannya adalah kamu, kamu adalah alasan mengapa aku masih sendiri dan sekarang, bolehkah aku yang bertanya kepadamu?
Kenapa harus ada cinta jika akhirnya cinta itu menyakitkan?

16: 30

DJOKDJA, 22.12.2005

cerpen tiga tahun yang lalu.
aku sengaja tulis ini buat dikirim ke majalah gadis or kawanku,tapi gak jadi,heu"kenapa majalah itu?? karena gak tahu juga sich...dulu temen-temenku seneng bget baca majalah begituan....walaupun isiny menurutku ya...
kurang cocok dgn kehidupanku..n_n'

Senin, 15 Maret 2010

Birthday MEans...

What is Birthday celebration means for me??
Actually, the birthday celebration is not important in our family life; my parents taught since childhood that the most important thing in birthday is going to remember what we have done, whether good or bad? My Parents prefer to teach how we live and provides benefits for the others, and then birthday is time to reflect our life. Meanwhile, sometimes tradition of celebrating birthdays as it grows with the times. As for me, this is time to rearrange my future by hopes, prays and wishes. Birthday maybe special but perhaps the most special is value beyond the anniversary.



My birthday coincides with the Diplomatic Course organized by KOMAHI in Saphir Hotel, and after the event finished, my friends from KOMAHI gave me a surprise with a small candle. For me, their concern with my birthday is deep and very meaningful. Last Saturday my friends from the Global Xchange volunteers gave me a surprise with a small birthday cake, that’s so beautiful and yummy…n_n



They surprised me when a waiter brought a birthday cake for me, and I just stared. Because my birthday was two days ago, i think the birthday cake was not for me. Once again, They really surprised me! I could not even say a word except thank you. Once I started cutting a birthday cake. I handed out to other friends and suddenly everything started cream cake fight with spreading some in my face, despite making my face oily and dirty but it’s fun and really unforgettable. Thanks to my friends for all that you gave me. This is really great for my birthday celebration.
n_n
...
..
.
Y.15.03.10

Love it then Write it

I wrote my first story when I was 12 or 13. And I was certain, writing stories was my hobby. That I will grow up to be an author. But, I eventually grew out of that phase. I thought writing stories are passé. That it was reserved only for the hopeless romantic or idealistic. I moved on in other areas of writing in the subsequent years, in different avenues - love letters to boyfriends (ex-boyfriends too), essays during English class, blogs, a local publication, diary and then, writing competition.



I still remember when I was in Junior High School, I wrote a scenario with titled 'Princess Cavaleira' then displayed in the drama competition, and I managed to bring my friends won a championship with that story. n_n
That’s why I'm back in literature; it’s like to live back in my old world

Love it. Write it.

Minggu, 14 Maret 2010

Hope

Aku kembali bimbang,
Antara hati dan akal,
Antara perasaan dan pikiran,
Seolah mereka tak pernah menyatu,
Selalu ada ragu yang bersarang dalam hatiku,
Yang aku tak pernah mengerti maknanya,
Kehidupanku kembali membentuk paradox,
Aku yang selalu ingin diam,
Kini saatnya aku harus membagi,
Apa yang aku inginkan dan apa yang telah terjadi
Semuanya menjadi ilusi,
Meskipun
Mozaik-mozaik kehidupan kembali aku rangkai,
Tanpa aku sadari,
Aku justru terjatuh lebih dalam
Terjebak dalam pikiranku
Bersama dengan khayalan-khayalanku
Aku kembali ragu dengan jalan kehidupanku
Tapi saat itu
Aku mencoba menyalakan kembali api itu; api harapan,
Yang kata orang; selalu menyala.

(
Tepat
Hari
Ini
Satu
Tahun
Yang
Lalu

)

Y.14.03.10

Jumat, 12 Maret 2010

NURANI


NURANI itu begitu nyata. Menarikku menuju pintu kebahagiaan. Aku selalu menginginkan perasaan bahagia yang meluap-luap, karena dengan begitu aku merasakan kenyamanan. Namun ditengah-tengah keheningan yang menembus pada kegelapan. Aku merasakan kenistaan, kehinaan, dan kebodohan yang tiada tara. Perasaan seperti itu timbul lebih tepatnya karena aku selalu merasakan aliran darah yang deras, letupan-letupan detak jantung, dan getaran-getaran nadi seribu makhluk. Semua itu dapat aku rasakan.
Walaupun aku tak pernah tahu apa yang terjadi di dunia ini. Tapi aku dapat merasakan ada seribu hati yang hancur. Menangis dalam diam. Tersenyum dalam perih. Aku selalu menangis setiap kali aku merasakan perasaan itu. Apa dayaku? Aku hanya bisa duduk diatas kursi. Mulutku diam pula, penuh dahak yang tak tertelan dan tak terluntahkan. Gerutu itu! Terus terdengar, seolah-olah seperti kaki-kaki yang menghentak-hentakan ke tanah. Aku merasa sakit. Aku bingung. Padahal semua itu tidak terjadi padaku. Aku diam disini. Tenang. Tidak disakiti, tidak dikhianati, tidak dihina, dan tidak disiksa. Tapi, sekali lagi aku merasakan, ada seribu hati yang merasa disakiti, merasa dikhianati, merasa dihina, dan merasa disiksa. Aku bingung. Gerutu itu lagi! Aku merasakannya. Namun aku tak mendengarkannya. Lantas apa lagi yang terjadi padaku? Aku Bingung. Gerutu itu lagi!
***
Kadang kala aku pun menerka tentang fenomena-fenomena alam yang ada disekitarku. Seperti, ketika udara menjadi semakin dingin. Aku tahu ini pasti ‘malam’ dan itu pasti gelap. Jadi setiap ‘malam’ itu pasti dingin dan gelap, mudah sekali untuk dipahami. Aku membagi hari itu menjadi tiga. Jika hari menjadi sangat dingin, itu berarti ‘malam’. Kalau sudah tidak begitu dingin, maka aku menyebutnya dengan ‘pagi’, tetapi kalau hari menjadi sangat panas aku menyebutnya ‘siang’. Aku mengetahui istilah-istilah itu dari suara-suara disekelilingku. Kadang suara-suara disekelilingku itu baik. Tapi, tak sedikit pula yang buruk.
Sehari-hari aku selalu habiskan dengan duduk di kursi. Menikmati hari. Karena hanya itu saja yang dapat aku lakukan. Aku mengetahui bahwa segala sesuatu yang ada disekelilingku ini berbeda, hanya karena aku dapat merasakannya. Aku dapat menyentuhnya. Meraba. Kemudian berpikir hingga aku paham. Aku tak seperti manusia lainnya yang ‘normal’. Dulu perasaan gelisah ibu dan ayahku ketika aku lahir pun sangat terasa menusuk-nusuk kedalam hatiku. Perih rasanya, tak ada senyum kebahagiaan yang menyambutku saat aku menyongsong dunia. Jadi, aku sama sekali tak menangis, tak perlu.
Aku memang terlahir cacat. Itulah sebab kegelisahan yang menghantui ibu dan ayahku. Mereka malu. Aku tak peduli. Akhirnya mereka membuangku ke sebuah desa kecil bersama pengasuhku, Laksmi. Aku biasa memanggilnya mbok Laksmi. Wanita tua yang sudah berumur lebih dari setengah abad, namun baik hati. Sekali lagi, aku tak peduli dengan keputusan kedua orang tuaku. Aku senang hidup di desa. Tenang. Menikmati angin, mendengarkan suara-suara merdu suaka, gemercik air, dan ilusi kedamaian yang begitu kuat menyentuh batinku.
Hingga suatu hal aneh terjadi pada diriku..
Aku berumur lima belas tahun waktu itu. Hawa yang sangat dingin menyelimuti tubuhku. Perasaan ketakutan yang maha dahsyat terus menyelubungi pikiranku. Aku bingung. Ada apa ini? Perasaan apa ini? Aku mencoba menenangkan perasaanku namun aku tak tahan. Aku berteriak. Memanggil-manggil mbok Laksmi. Tak ada jawaban. Kemana dia? Perasaan itu muncul lagi. Begitu kuat dan dekat. Aku yakin ini tidak terjadi padaku. Aku diam disini. Lalu apa? Siapa yang mengalami peraasaan seperti ini? Kenapa aku harus merasakannya? Beribu pertanyaan terus menghampiriku. Aku berhenti merintih. Hawa dingin itu sedikit demi sedikit pergi meninggalkan tubuhku, tapi rasa sakit yang luar biasa masih terasa. Setelah semuanya pergi. Aku merasakan kejanggalan. Entah apa? Aku juga binggung. Aku meraba-raba menelusuri tembok rumahku, sambil berteriak memanggil mbok Laksmi. Kemana ia? Biasanya dia di dapur. Tapi kenapa begitu sepi, nyaris tak terdengar suara apapun.
Aku terus mencari mbok Laksmi. Tiba-tiba sesuatu menyentuh kakiku. Tubuh siapa ini? Dari baunya, aku tahu ini pasti tubuh mbok Laksmi. “Mbok Laksmi! Mbok Laksmi!” Tubuhnya sangat dingin. Sedingin hawa yang tadi menyelimuti tubuhku. Ada apa ini?
***
Mbok Laksmi meninggal.
Pada akhirnya kedua orang tuaku membawaku ke ‘kota’, setelah lima belas tahun aku tak pernah datang ke ‘kota’. Aku pun kembali menjamah tempat ini. Sungguh asing bagi seluruh panca inderaku. Hawa yang panas membuat seluruh tubuh serasa terbakar. Ini melebihi siang. Hawa dingin begitu mencekam. Ini juga melebihi malam.
Aku masih tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Perasaan takut, suasana suram, pesakitan dan tangisan. Membuatku semakin bingung.
Kejanggalan-kejanggalan itu semakin nyata. Aku dapat merasakan yang sepertinya ‘tidak’ orang lain rasakan. Perasaan batin yang begitu dalam dari manusia-manusia yang disakiti, disiksa, dihina, dan dikhianati. Aku buta, tapi perasaan batinku tidak mati. Orang tuaku yang mengajarkan kebencian sejak dalam kandungan. Kini aku mengerti. Betapa terlukanya aku terhadap mereka.
Aku merasa lukaku ini akan tetap menganga, aku hanya diam di tempat ini. Tak lagi aku merasakan harumnya bunga-bunga dan pepohonan. Aku memaksakan untuk tetap mengerti keadaan ini. Sulit bagiku untuk mengerti semua yang terjadi disekitarku. Saat ini juga sulit bagi inderaku untuk mengetahui kapan itu malam? Dan kapan itu siang? Waktu menjadi sangat kabur.
Suatu saat tubuhku kembali merasa sangat kedinginan. Walaupun aku tak merasakan sedingin ketika aku kehilangan mbok Laksmi, mbok Laksmiku yang malang. Tapi tetap saja seluruh tubuhku merasakan hawa dingin yang berbeda. Mungkinkah ini malam? Tanyaku dalam hati. Ini semua begitu berbeda. Kesendirian dan ketakutan.
Aku menangis. Semakin lama tangisanku ini semakin meraung dan meraung. Ibu datang menghampiriku. Mencoba menyadarkanku. Memanggil-manggil namaku. Ia mengira aku kesurupan atau semacamnya. Aku merasakan kehilangan. Aku tak pernah tahu, apa salahku? Kenapa aku ada ditempat ini? Bau tak sedap dan menjijikan! Apakah ini hanya perasaan? Tapi ini memang hanya sebuah perasaan. Siapakah yang terbuang? Ditengah malam seperti ini? Dosa apakah yang membuatnya terbuang?
Aku masih terus menangis dan menjerit. Kali ini ibu menamparku berkali-kali karena tangisanku tak juga berhenti. Aku seperti orang gila saat ini. Aku tak pernah bisa mengurai benang merah dari segala perasaanku ini. Semua terjadi begitu saja diluar kesadaranku. Perasaan itu datang dan pergi. Aku tak pernah sedikit saja mengharapkannya untuk ada. Kadang membuatku sangat ketakutan, khawatir dan resah.
Ditengah kebuntuan semacam ini. Ada satu hal lagi yang belum juga aku mengerti walaupun semuanya membuatku kembali tersadar. Ketika aku tertidur. Aku bisa melihat semuanya. Seolah-olah mataku ini terbuka. Ibarat aku ada. Lantas apa arti kebutaanku ini? Jika dalam mimpi aku ’melihat’. Juga tentang perasaan-perasaan yang aku rasakan. Perasaan itu berasal dari seorang bayi. Aku melihat semuanya. Ia menangis kedinginan dan ketakutan diantara sampah-sampah. Menangis meraung-raung, persis seperti apa yang aku lakukan. Maka ketika seorang pemulung mengangkatnya, memeluk dan memberikannya kehangatan. Aku pun merasakan hal yang sama. Perasaan iba kepada bayi itu begitu nyata aku rasakan.
Bumi ini menjadi fenomena lain pula yang aku rasakan. Kadang aku muncul dalam mimpiku. Melihat bumi tersakiti dan menangis. Tanpa ada seorang pun. Aku lari sejauh apapun dan berteriak sekeras apapun. Memohon bantuan. Tak ada seorang pun yang muncul? Ampun tuhan! Dosa macam apa lagi yang diperbuat oleh manusia-Mu di dunia ini? Di bumi-Mu ini! Kenapa bumi menjadi sangat menderita atau bahkan ’sakit’? Kali ini aku memang langsung paham dengan mimpiku. Bumi sedang tersiksa. Penyakit-penyakit manusia kian menjadi-jadi. Hal ini membuat aku menjadi semakin sedih dan tersiksa. Aku merasakan tapi apa yang bisa aku perbuat dengan semua yang aku rasakan. Kemana manusia-manusia? Apa yang mereka lakukan?.
Peristiwa demi peristiwa pun aku alami. Semua ini menjadikan aku sadar akan diriku. Inilah aku. Merasakan apa yang orang lain sulit untuk rasakan. Aku buta tapi nuraniku tidak buta. Inilah yang membuatku merasa sangat bahagia. Aku tidak dijadikan sebagai makhluk yang munafik. Aku dapat berbagi penderitaan dengan alam. Meski kadang semua itu membuat aku sedih. Merasakan penderitaan mereka. Tapi ini jauh lebih baik daripada mengaku melihat dan memiliki nurani tapi sesungguhnya mereka buta dan tak bernurani.
Aku adalah korban keegoisan manusia. Begitu pula bumi. Kami tak begitu berbeda. Meredam asa dan amarah. Aku pun sangat memahami bumi. Seolah-olah nurani kami menyatu. Tapi dibalik semua itu, apa daya kami? Kami percaya akan janji Tuhan dan kami percaya Tuhan tidak diam. Bahkan aku pun percaya, masih ada manusia-manusia yang memiliki nurani dan merasakan, apa yang kami rasakan.
Mungkin sekali lagi. Tuhan tidak diam.
Wallahu’alam bishshawwa-b


Y.27.10.08