Tampilkan postingan dengan label Book-Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book-Review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2012

All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten by Robert Fulghum

"I believe that imagination is stronger than knowledge. That myth is more potent than history. That dreams are more powerful than facts. That hope always triumphs over experience. That laughter is the only cure for grief. And I believe that love is stronger than death."
--All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten by Robert Fulghum






I am actually not sure whether this book will useful for you or not. But I will tell you this - one of the most delightful things I had read in a long time, and a thing I have tried to memorize, is Fulghum's wonderful list:

"Share everything. Play fair. Don't hit people. Put things back where you found them. Clean up your own mess. Don't take things that aren't yours. Say you're sorry when you hurt somebody. Wash your hands before you eat. Flush. Warm cookies and cold milk are good for you. Live a balanced life - learn some and think some and draw and paint and sing and dance and play and work every day some. Take a nap every afternoon. When you go out into the world, watch out for traffic, hold hands, and stick together. Be aware of wonder. Remember the little seed in the styrofoam cup: The roots go down and the plant goes up and nobody really knows how or why, but we are all like that. Goldfish and hamsters and white mice and even the little seed in the Styrofoam cup - they all die. So do us. And then remember the Dick-and-Jane books and the first word you learned - the biggest word of all - LOOK…"

Morality. We all learn about small things that referred to morality teachings, but sometimes we forget those small things in our daily life. Even when we are getting older, the day when we think we are good enough to live as mature person. Fulghum does a nice job of exploring simple things from a profound and thoughtful perspective to gently guide the reader to wisdom. His writing style is simple and direct. I found myself reading with a pencil in hand, underlying passages and phrases I wanted to remember, and writing notes about my thoughts on his thoughts in the margins. It was a delightful read!

Sabtu, 07 April 2012

The Hunger Games

Siapa yang udah nonton+baca bukunya?!! Yay!^^ 
Hmm...buat aku, The Hunger Games itu tipikal movies and novel yang Blew-Me-Away-and-I-Still-Think-About. Huu~f. Sebenernya antara buku-nya ama film-nya itu cukup konsisten kok (walaupun gak semua T^T), sejauh mana perbandingannya just check out the review :P

The Novel
Baca novel The Hunger Games ini sebenernya udah sejak akhir tahun 2011 tapi namatin buku ketiganya ya baru seminggu yang lalu. Sejak baca buku pertama, emang udah denger mau ada rencana difilmin (dan udah tahu juga sih siapa aja cast-nya). 


Selain itu buku ini juga jadi Best Books of 2008, Best Utopian and Dystopian Fiction, dan Best Kick-Ass Fantasy Female Characters From YA and Childrens versi Goodreads. Makanya langsung penasaran buat baca. Walaupun emang belom bisa ngalahin kerennya Harry Potter Series tapi lumayanlah buat pengganti Harpot setelah tamat. Dari ketiga novel The Hunger Games, emang yang paling keren buku pertama, di buku kedua terlalu banyak nyeritain romance antara Peeta, Gale ama Katniss (personally, i like it so much ;) ) tapi jadi kesannya melambat. Sementara di buku ketiga justru banyak nonjolin pemberontakan distrik-distrik.
Kalo ngebandingin antara The Lord of The Ring, Harry Potter, Eragon, Twilight ama The Hunger Games, sebenernya berbeda sih. The Hunger Games punya alur yang lebih cepat dan tegas dari ketiga novel lainnya. Makanya gak terlalu bosen pas bacanya.

Well, ceritanya tentang Katniss dari Distrik 12 (distrik paling miskin), daerah yang ditujukan untuk pertambangan batubara diantara Pegunungan Appalachian di Amerika Utara. Ayahnya pekerja batu bara telah meninggal di tambang dan ibunya menderita depresi parah setelah kematiannya. Saat itulah Katniss harus mulai berjuang melindungi keluarganya agar tetap hidup, meski dia baru berusia dua belas, untuk menyediakan bagi ibu dan adiknya yang masih kecil, Prim. Katniss harus menyelinap keluar dari batas-batas Distrik 12, di bawah pagar listrik tinggi, untuk berburu dan berkumpul di hutan terdekat, menjaga dian dan keluarganya dari kelaparan.
Bagian dari peraturan Negri Panem, dari Perjanjian Pengkhianatan (the Treaty of Treason), adalah undian ditarik setahun sekali di setiap distrik dari keseluruhan 12 distrik, di mana semua anak-anak antara usia 12 dan 18 diminta untuk memasukkan nama mereka untuk The Hunger Games. Anak laki-laki dan perempuan yang dipilih harus melawan segala rintangan dan saling membunuh untuk menemukan satu pemenang. Saat itulah nama Prim ditarik untuk mewakili perempuan ke Capitol (ibukota Panem). Katniss segera menawarkan diri untuk jadi relawan menggantikan adiknya. Sedangkan Peeta, anak tukang roti, adalah perwakilan dari Distrik 12 yang lainnya. Mereka dibawa ke upacara pembukaan The Hunger Games di Capitol selama beberapa hari pelatihan dan persiapan sebelum dimulai. 12 Distrik berarti 24 pesaing sedangkan peraturan menyatakan hanya ada satu yang dapat menjadi pemenang dan satu-satunya cara untuk menghilangkan pesaing adalah membunuh pesaing lain. Sadis ya tragis.
Sementara kisah asmara (halah) antara Katniss dan Peeta cukup tragis. Sukalah ya~ kalo kisah cinta itu malah tragis T^T. Hubungan Katniss dengan pasangan berburunya Gale dan pesaing District 11, Rue, yang mengingatkan Katniss lebih muda Prim nya, cukup menarik ;) Karakter Katniss yang dimunculkan sangat cerdas, terhormat dan heroik. However, the ending little bit disappointed and frustrated, leaving much unsaid and unanswered.

The Movie
Banyak komentar yang muncul soal film yang satu ini, apalagi juga diangkat dari Novel Trilogi yang emang juga tenar. Pas pertama kali denger kalo the Hunger Games bener2 mau tayang emang rada kaget, pasalnya ini film tentang bunuh2an. Kalo ngelihat dari adaptasi buku, emang susah kalo dibilang sempurna jadi jangan terlalu berharap meskipun keseluruhan bagus kok, detail-nya hubungan Katniss, Peeta dan Rue terlalu diburu2in, muttan-nya diganti anjing, Cato gak dateng buat nolongin Clove, kaki Peeta gak putus, pas Katniss dan Peeta pulang, Katniss gak bilang ke Peeta kalau perlakuannya cuman akting, Katnis sebagai “Girl on the Fire” masih kurang berapi-api, Katniss gak keliatan dehidrasi dan belom2 malah langsung nemuin air, sementara arenanya kurang menantang, dan kurang sadis. Yeah banyak yang bilang kurang sadis. Yang kalo soal itu emang dari awal udah bakalan yakin kesadisan permainan ini gak akan terlalu ditonjolin. Tapi cukup puas kok dengan acting Jennifer Lawrence aka J.Law sebagai Katniss dan Josh Hutcherson sebagai Peeta. Both of them are really awesome and talented ;)

So, what can i say, don’t judge book by its movie :)

Selasa, 27 Desember 2011

Resensi Buku: When China Rules the World


Judul Buku : When China Rules the World (Ketika China Menguasai Dunia), Kebangkitan Dunia Timur dan Akhir Dunia Barat
Pengarang : Martin Jacques
Penerbit : Buku Kompas
Tebal : 606 Halaman


Buku yang ditulis oleh Martin Jacques ini mengurai tentang peradaban Cina di mulai dari sejarah, ekonomi, militer—keamanan dan arsitektur kemegahan Cina sendiri. Buku ini pertama keluar semenjak tahun 2009, cetakkan pertama di Indonesia sudah sejak Juni, 2011 dan kini sudah hendak memasuki tahun 2012. Masih relevankah untuk di baca? Tentu saja. Pergerakan Cina saat ini telah mengalami masa yang lebih kompleks karena peranannya dalam menghadapi tekanan-tekanan baik dari internal maupun eksternal. Cina secara bersamaan besar tapi miskin, kuat tapi lemah. Dan di sana, sampai perubahan atmosfir ekonomi-politik terjadi, hal itu akan tetap sama, meskipun tingkat pertumbuhannya cukup dan prestasi ekonomi yang meningkat.

Martin Jacques juga mengakui bahwa masalah-masalah ekonomi itu ada bahkan saat Cina terengah-engah dengan ekstrapolasi pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini Jacques berkontribusi dalam menunjukkan kekuatan ekonomi Cina melalui berbagai variabel. Pertama, dalam masa percobaan, Cina telah mengizinkan hak penduduk untuk memiliki tanah pribadi. Kedua, Foreign Direct Investment (FDI) telah menuangkan dana ke Cina lebih dari $ 500 miliar. Ketiga, dibandingkan dengan Uni Soviet, Cina telah menghancurkan semua harapan kegagalan bagi masa depan negara bekas sosialisme-kapitalisme. Keempat, penurunan kemiskinan telah membantu mengurangi permasalahan krisis ekonomi bagi warga Cina. Mungkin faktor yang paling jelas adalah tenaga kerja mana yang mungkin mencapai 1 miliar pada 2020. Dengan demikian Cina tidak hanya memiliki ekonomi mengukuhkan sebagai sebuah kekuatan ekonomi, budaya yang unik dan masyarakat Cina yang akan membantu mempertahankan stabilitas politik dan ekonomi. Secara keseluruhan, masa depan Cina yang dominan mungkin muncul tak terelakkan. Cina sebagai negara adidaya ekonomi menyajikan implikasi monolitik dengan segudang konsekuensi. Meski tetap sulit bagi kita menerima pendapat bahwa terlalu muluk-muluk jika Cina nantinya akan memerintah dunia sebagaimana modernitas Barat yang didefinisikan—dalam demokrasi, nilai-nilai Pencerahan, kapitalisme dan kemajuan dengan masa lalu Cina yang sangat erat dengan sosialisme-komunisme.

Cina bukan negara bangsa (nation state), begitulah Martin menulis, melainkan suatu keadaan peradaban (civilization). Hal menarik untuk dikaji adalah bagaimana posisi Cina sebagai sebuah peradaban ini bisa lebih menguasai ketimbang sebagai negara. Misalnya saja dia menganggap bahwa sebetulnya sejak tahun 1800 perekonomian dunia bukan Eurosentris tetapi sudah Polisentris dimana Cina dan India sebagai perekonomian terbesar. Pernyataan ini menganggap bahwa bukan tidak mungkin jika masa itu akan datang kembali, dengan pertumbuhan Cina dan sumber daya manusia yang dimilikinya.

Secara historis, Cina telah menganggap dirinya sebagai berada di pusat dunia dan telah menerima pandangan-pandangan kelompok lain sebagai superioritas, sebuah rasisme yang tertanam dalam jiwa Cina, Jacques berpendapat provokatif. Kong Hu Chu akan menjadi kepercayaan kuat bagi masyarakat Cina untuk terus tumbuh, sebuah negara pusat yang kuat dan murah hati dalam memperbaiki kondisi rakyat. Dalam hal ini seolah-olah muncul pandangan bahwa Komunisme adalah ekspresi kontemporer Konfusianisme. Ini adalah bagian yang paling eyecatching dari Cina saat ini, seolah-olah mengajak untuk waspada akan datangnya nilai-nilai Asia yang secara tidak langsung memasuki kehidupan manusia di segala penjuru. Namun, kedekatan antara Konfusianisme dan Komunisme bukan merupakan wawasan baru tentu saja.

Bagaimana pun Inggris, Perancis, Jerman dan Amerika Serikat juga peradaban negara, didefinisikan sebagai budaya dan sejarah yang berbeda dalam batas yurisdiksi mereka melalui bahasa atau hukum misalnya. Semua dalam berbagai cara bahwa bentuk dari Pencerahan Eropa (Renaissance) ini bisa diakomodasi dengan melacak nilai-nilai inti untuk republik Roma dan para filsuf Yunani.

Buku ini pernah menjadi buku paling laris dan mengagetkan, karena sifat topik dan realitas kondisi geopolitik Cina yang juga semakin berpengaruh. Bagi mahasiswa Hubungan Internasional, buku ini sangat direkomendasikan baik yang secara langsung mengkaji kondisi politik Cina, Asia Pasifik atau pun secara tidak langsung mengkaji. Tidak salah jika sabda Rasullullah, “Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina” merupakan cerminan jiwa yang visoner.

Sabtu, 18 Juni 2011

Mitos Kecantikan


Membaca judulnya saja—Perempuan dalam Serangan Kecantikan—kita sudah dapat mengetahui apa yang dikehendaki oleh sang penulis, Naomi Wolf. Mengawali tulisannya, Naomi Wolf menggambarkan keberhasilan gerakan feminisme pada awal 1970 meraih hak-hak hukum dan reproduksi, disamping mendapatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi, keberhasilan tersebut tidak diikuti dengan kebebasan kaum perempuan untuk merasa nyaman dengan tubuhnya, jujur dengan tubuhnya.
Di sini kaum perempuan masih terbelenggu dengan citra kecantikan. Pada bagian pertama buku ini, Naomi Wolf menjelaskan secara gamblang bagaimana mitos kecantikan digunakan sebagai senjata politik untuk menghambat kemajuan kaum perempuan, yang kemudian lebih sering disebut sebagai citra kecantikan perempuan. Di sini Wolf juga menjelaskan asal usul mitos kecantikan, yang telah ada sebelum Revolusi Industri yang sama tuanya dengan patriarkhi.

Bagian kedua buku ini berbicara banyak tentang pengalaman-pengalaman pekerja perempuan yang mengalami diskriminasi hanya karena persoalan kecantikan. Dengan menggunakan standarisasi yang disebut PBQ (A Professional Beauty Qualification/Kualifikasi Kecantikan Professional), perusahaan-perusahaan membuat seolah-olah tidak terjadi diskriminasi terhadap perempuan, dengan alasan bahwa PBQ merupakan syarat untuk melakukan kerja yang mereka inginkan. Oleh standar tersebut kaum perempuan dipaksa untuk selalu memikirkan kecantikan mereka—di luar standar tersebut tidak dikategorikan cantik.
Pada bagian ini Naomi Wolf juga memberikan kritik keras terhadap hukum yang berpihak pada PBQ. Dari beberapa kasus pemutusan hubungan kerja yang dialami oleh kaum perempuan, sebagian besar disebabkan oleh tidak terpenuhinya syarat-syarat kecantikan yang telah ditentukan oleh perusahaan. Perlawananpun dilakukan dengan membawa kasus-kasus ini ke meja hijau, tetapi kekalahan selalu menimpa kaum perempuan dengan alasan bahwa perempuanlah yang bersalah karena telah melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Pengadilan telah mengabaikan hak-hak perempuan pekerja atas nama kecantikan tubuh yang ‘sempurna’.

Pelecehan seksual terhadap perempuan di tempat kerja juga sering memanen kekalahan di meja hijau, karena paradigma hukum yang dipakai selama ini adalah paradigma hukum yang maskulin. Kecantikan atau seksualitas tubuh perempuan selalu dianggap sebagai provokasi terjadinya pelecehan seksual terhadap perempuan itu sendiri.

Selanjutnya Naomi Wolf bertutur tentang mitos kecantikan dalam ruang kebudayaan. Mitos kecantikan sangat lekat dengan kebudayaan. Perempuan selama ini selalu diposisikan sebagai makhuk yang dilihat dan dinilai oleh pria. Stereotip-stereotip (pencitraan) tentang perempuan diciptakan untuk semakin dekat dengan mitos kecantikan, sehingga perempuan hanya mempunyai dua pilihan: memiliki pikiran atau memiliki kecantikan. Mitos kecantikan bahkan mulai ditanamkan kepada perempuan sejak masih kecil, misalnya, dongeng-dongeng yang diciptakan sarat dengan maskulinitas atau machoisme.

Mitos kecantikan juga disisipkan lewat religiusitas. Tatanan masyarakat menggunakan religiusitas untuk mengontrol tubuh perempuan dan tidak mendukung keterlibatan perempuan dalam dunia publik yang sekular. Di samping itu bahasa-bahasa religius sering digunakan dalam buku-buku tentang diet dan perempuan.
Agama patriarkal telah berhasil mengontrol seksualitas kaum perempuan dengan berbagai macam mitos-mitos seputar seksualitas perempuan, seperti mengukuhkan pentingnya keperawanan bagi kaum perempuan, menyembunyikan/menghilangkan sumber kenikmatan seksual perempuan, misalnya sunat perempuan, sehingga kaum perempuan tidak bisa menikmati seks dengan sempurna. Seksualitas perempuan didefinisikan dan dikonstruksikan menjadi sesuatu yang negatif; moralitas pun kerap diukur dari tubuh dan seksualitas perempuan.

Mitos Kecantikan yang setiap hari disuguhkan kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan, lewat berbagai macam media: iklan televisi, majalah-majalah kecantikan, tulisan-tulisan mengenai kecantikan perempuan yang diperkuat dengan budaya patriarkhi, menyebabkan kaum perempuan terjebak pada keinginan untuk selalu tampil cantik dan menjadi sangat memuja berat badan ideal. Begitu kuatnya keinginan tersebut hingga menyebabkan kaum perempuan, khususnya remaja, banyak menderita Bulimia dan Aneroxia.
Dari data yang dipaparkan Naomi Wolf, 95% penderita Bulimia dan Aneroxia adalah perempuan muda, dan Amerika menunjukkan angka tertinggi. Pemujaan terhadap berat badan membuat banyak kaum perempuan menyakiti diri mereka dengan melakukan diet ketat hingga membuat mereka fobia terhadap makanan.
Obsesi untuk selalu ingin cantik mendorong kaum perempuan merelakan tubuhnya terbaring di atas meja-meja operasi plastik dan bedah komestik serta membiarkan para dokter berkreasi atas tubuh mereka. Demi mendapatkan kecantikan itu, perempuan rela menderita lapar dan sakit yang kemudian dianggap sebagai pilihan bebas kaum perempuan. Serangan kecantikan yang bertubi-tubi terhadap kaum perempuan telah membiarkan kekerasan hak asasi terhadap tubuh perempuan.

Pada bagian akhir buku ini Naomi Wolf mengajak untuk menginterpretasi ulang tentang apa itu kecantikan, dan menjauhkannya dari persaingan, hirarki dan jauh dari kekerasan. Mitos kecantikan yang sejak lama membelenggu kaum perempuan menjadikan kaum perempuan tidak menghormati dirinya sendiri. Seksualitas yang seharusnya memberikan kenikmatan bagi perempuan terabaikan begitu saja.

Melampaui mitos kecantikan, tidak lalu mengabaikan kecantikan itu sendiri, tetapi bagaimana agar keluar dari mitos kecantikan yang telah dirancang sedemikian rupa. Itulah yang terpenting. Kaum perempuan didorong untuk lebih berani menentukan dan mengekspresikan seksualitasnya; untuk mencintai tubuhnya dengan melepaskan semua nilai-nilai atas tubuhnya. Naomi Wolf menegaskan, jika berhadapan dengan Mitos Kecantikan pertanyaan yang harus diajukan bukanlah tentang wajah dan tubuh perempuan, melainkan tentang relasi kekuasaan yang ada dalam situasi tersebut.

Kekhawatiran Naomi Wolf sangatlah wajar melihat gencarnya serangan kecantikan yang semakin memojokkan kaum perempuan dalam ruang publik dan politik. Setiap hari kaum perempuan diyakinkankan dengan mitos-mitos kecantikan yang semakin menjerumuskan kaum perempuan dalam jurang pemujaan terhadap kecantikan.

Jika kita mengamati remaja saat ini, sangat sedikit kita mendapati mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang bisa memajukan pikiran mereka. Kita akan dengan mudah mendapatkan mereka di tempat-tempat kecantikan, di mall-mall, dan kecintaan mereka untuk membaca majalah-majalah maskulin dibandingkan membaca buku-buku pengetahuan umum.

Mengutip tulisan Naomi Wolf pada bab terakhir bukunya “Setelah melampaui mitos kecantikan, perempuan tetap akan disalahkan karena penampilan mereka. Perempuan akan disalahkan oleh siapa saja yang merasa perlu untuk menyalahkan mereka. Perempuan “cantik” tidak menang di atas mitos kecantikan”.

Rabu, 01 Juni 2011

“Myterious of Benedict Society”

On Last April, I made an appointment to meet my lovely friend, Tika. Actually the meeting was only to exchange our collections of Korean Pop or Korean Drama, because the two of us really know how to enjoy the Korean entertainment. So, we arranged the time. But all the sudden she gave me a present for my birthday, it was pretty late, coz my birthday was on March, that’s quite a long period but its fine ;P She gave me “Myterious of Benedict Society” by Treeton Lee Stewart. I really enjoy this book.


The story is about Reynie Muldoon. After Reynie Muldoon responds to an advertisement recruiting "gifted children looking for special opportunities," he finds himself in a world of mystery and adventure. The 11-year-old orphan is one of four children to complete a series of challenging and creative tasks, and he, Kate, Constance, and Sticky become the Mysterious Benedict Society. After being trained by Mr. Benedict and his assistants, the four travel to an isolated school where children are being trained by a criminal mastermind to participate in his schemes to take over the world. The young investigators need to use their special talents and abilities in order to discover Mr. Curtain's secrets, and their only chance to defeat him is through working together. Readers will challenge their own abilities as they work with the Society members to solve clues and put together the pieces of Mr. Curtain's plan.



It has been a while since I read this kind of books, lovely adventure and with unpredictable story. Because my study force me to reading political, law, or even sociology books, all of them are making me dizzy. And this present brings back my memory when I was still in junior high school. I was really crazy about Harry Potter Novel Series, which often gave me a day dreaming about how i could go to London, witnessing a King Cross Station. Who knows, that finally I could make myself go there.

P. S. 감사 Tika!