Tampilkan postingan dengan label remain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remain. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Desember 2012

Membaca Curahan Hati


Terkadang apa yang tersimpan di dalam hati, hanya mampu terungkap melalui kata-kata. Mungkin ada banyak cerita yang seharuskan aku katakan, semua itu tersendat dalam liang kerongkonganku dan tertelan dengan pahitnya kenyataan.

M, 
Yogyakarta, December 2012. 

Minggu, 02 Desember 2012

Membaca Puisi: Hujan di Bulan Juni (Desember-ku)

tak ada yang lebih tabah 
dari hujan bulan Juni 
dirahasiakannya rintik rindunya 
kepada pohon berbunga itu 

tak ada yang lebih bijak 
dari hujan bulan Juni 
dihapusnya jejak-jejak kakinya 
yang ragu-ragu di jalan itu 

tak ada yang lebih arif 
dari hujan bulan Juni 
dibiarkannya yang tak terucapkan 
diserap akar pohon bunga itu 



(Sapardi Djoko Damono - 1989)



catatan pinggir-ku:
pak sapardi, bolehkah saya ganti bulan Juni menjadi bulan Desember? mohon izin ya pak?
:)


M.
Yogyakarta, hujanku di bulan Desember 2012

Sabtu, 24 November 2012

Membaca Cerpen: Pada Satu Bangku di Dunstable Downs

Hari itu rasa jenuh kembali muncul, di kantor ini rutinitas selalu saja sama. Setiap tepat pukul 12.00 siang tiba, tak ada yang keluar kantor untuk membeli makan siang. Mereka semua telah menyiapkan bekal masing-masing dari rumah. Di kota Luton, orang kantoran lebih memilih membawa bekal. Alasannya, mereka harus kembali kekantor tepat pukul 12.30. Sementara membeli makan siang diluar lebih mahal dan harus menunggu antrian panjang. “Tidak enak rasanya kembali ke kantor terlambat”, ujar Matt kepadaku. 

Matt adalah seorang key worker di tempat ini dan sekaligus bosku. Dia berperawakan gendut kulit putih. Dia lahir di London dan memilih menetap di Luton setelah bertemu dengan pacarnya, Joey. Matt orang yang baik dan pengertian, ketika aku hendak kembali ke Indonesia. Dia menghadiahiku kumpulan puisi bahasa Inggris terfavorit di Britania Raya edisi BBC. Dia mengetahui bahwa aku suka sastra, hanya karena aku sering mengutip salah satu puisi terkenal berjudul She walks in Beauty karya sastrawan Inggris bernama Lord Byron. Aku tak menyangka dia juga amat menyukai puisi itu. Sejak itu terus saja dia memberitahuku mengenai puisi-puisi yang masyhur lainnya tapi tentu saja aku tak pernah tahu. Aku mengetahui puisi She Walks in Beauty ketika aku berada di bangku Madrasah. Puisi itu sering dipakai lomba membaca puisi dalam bahasa Inggris, aku pernah mengikuti lomba semacam itu walaupun aku tak pernah menang. 

Setelah makan siang usai, kami segera melanjutkan pekerjaan masing-masing. Aku disana bekerja bersama work partner untuk membuat film dokumenter tentang kota Luton. Proyek kecil-kecilan untuk mendokumentasikan tentang suasana multikultur di kota Luton yang begitu erat. Dan aku mendapat bagian mengerjakan naskah dan mengatur jadwal untuk wawancara dengan narasumber dalam film itu. Naskah skenario film dokumenter yang aku tulis ini entah mengapa tak selesai-selesai. Aku merasa begitu jenuh dan sulit mendapatkan ide kala itu. Aku khawatir bahkan sampai waktu aku pulang ke Indonesia nanti, naskah film dokumenter ini juga tak usai. Tiba-tiba temanku satu proyek datang memintaku untuk melanjutkan pengambilan gambar, tentu saja tempat pengambilan gambarnya harus menarik, untuk itu perlu mencari sedikit inspirasi pengambilan gambar. Aku tentu saja tidak menolak ide itu. Akan lebih menyenangkan jika bisa berjalan-jalan ke suatu tempat dari pada berdiam diri di kantor. 

Lalu kukatakan pada Matt bahwa kami membutuhkan beberapa objek menarik tentang Luton. Dia memberikan kepada kami banyak opsi tempat seperti Wardown Park atau Stockwood Museum, sebetulnya aku sudah beberapa kali ketempat itu. Tak lama kemudian dia menyarankan pada kami Dunstable Downs atau Woburn Abbey. Setelah lama berdiskusi akhirnya kami memilih pergi ke Dunstable Downs, karena nampaknya pergi ke Woburn Abbey harus menempuh waktu lebih lama untuk sampai kesana. Padahal aku sangat ingin pergi ke sana, aku membayangkan pemandangan tempat itu seperti rumah dan pekarangan milik keluarga bangsawan Inggris bernama Mr. Darcy di film Pride and Prejudice. Film romantis favoriteku. 

Jalanan menuju Dunstable Down memang menanjak meski tidak terjal. Beruntung kami pergi diantar dengan mobil sehingga tidak harus menggunakan angkutan umum, karena sudah dipastikan kami harus berjalan sangat jauh. Ketika sampai di puncak, aku baru menyadari bahwa tempat ini memiliki pemandangan yang luar biasa. Bukit-bukit yang terbentang luas. Melambung di atas padang rumput yang mempesona. Ini benar-benar indah. Dunstable Downs adalah daerah dengan titik tertinggi di Bedfordshire. Dengan bukit-bukit sedikit landai terdapat tempat khusus yang disediakan untuk olah raga angin, layang-layang terbang atau yang disebut juga gliding. Punggungan angin yang menyapu menjadi kondisi ideal untuk berbagai olahraga layang-layang terbang. Pada hari-hari libur konon tempat ini biasa dijadikan tempat piknik yang menyenangkan. 




Disana sengaja disediakan bangku-bangku taman yang permanen, agar orang-orang yang datang bisa duduk sambil menikmati pemandangan yang indah dan hamparan bukit yang menawan. Tak sedikit pula pasangan-pasangan yang datang dan duduk-duduk disana.

Ketika aku duduk di bangku itu, aku merasakan suasana yang begitu romantis. Di setiap bangku terukir nama sepasang kekasih yang nampaknya sudah lama meninggal dunia. Sekelompok orang sengaja mengukir nama-nama orang tertentu agar selalu terkenang di bangku itu. Juga untuk menunjukkan perasaan betapa berartinya mereka yang telah pergi itu, konon nama mereka yang terukir disana akan bersama-sama bahkan sampai di surga. Harapan tentang suatu keabadian.

Kemudian ide gila ini muncul begitu saja di kepalaku. Aku tuliskan namaku dan namamu disana, sambil melirik kekanan dan kekiri karena takut ada orang yang menangkap basah apa yang telah aku perbuat. Aku sematkan nama kita berdua, entah bagaimana jiwa vandalisme itu muncul hanya untuk berusaha mengabadikan nama kita berdua. Mungkin ada sebersit rasa rinduku yang mengumpal kuat kepadamu. Lalu setelah usai, diam-diam aku berharap dua nama itu tetap ada disana-pada satu bangku di Dunstable Downs. Tanpa pernah tahu sampai kapan...



M.
Yogyakarta, November 2010.

Senin, 29 Oktober 2012

Tentang Sekaleng Susu yang Selalu Membawa Ingatanku Padamu

Sudah sejak kecil ibuku memberikan sekaleng susu ini setiap kali aku merasa tak enak badan. Namun kenangan tentang ibuku kini telah berubah menjadi kenangan tentangmu. Suatu malam, suhu badanku naik drastis. Tubuhku padu dengan kasurku yang selalu terasa empuk. Aku balut badanku dengan selimut-selimut tebal. Dalam keadaan seperti ini Ibu selalu datang memberiku sekaleng susu. Melihat susu kaleng itu ingatanku melayang padamu. Demamku yang semakin tinggi membuat bayanganmu muncul begitu saja dikepalaku. Senyum itu. Tak pelak aku pun mulai meracau tentangmu.

Kala itu kita berada di sebuah Mall. Wajahmu yang kemerahan menahan demam yang semakin tinggi. Namun tetap saja kau masih bersamaku malam itu. Dan sekaleng susu itu, entah bagaimana bisa berada di dalam tasku. Ku berikan sekaleng susu itu kepadamu. Aku pun memintamu untuk meminumnya. Mungkin saja badanmu akan terasa lebih baik. Kau menatapnya lekat-lekat sebelum kemudian mengenggam erat susu kaleng itu. Tersenyum dan "Cut!" Sampai disana, aku begitu menikmati senyum itu. 

Pada akhirnya memang kau meminum susu kaleng itu dengan sedikit terpaksa. Episode itu ingin selalu kuingat. Hanya saja. Kenangan itu kini mulai samar-samar. Waktu yang telah mengikis ingatanku. Tak apalah, ini tentang sekaleng susu yang selalu membawa ingatanku padamu. 


M. 
Yogyakarta, Oktober 2012.

Senin, 02 Januari 2012

Cerpen: Remain


Aku sedang duduk menanti sebuah taksi melewati jalan yang panjang ini. Meski jalanan begitu ramai entah mengapa tak ada satu pun taksi kosong yang lewat. Kurang lebih sudah satu jam aku menunggu. Aku pun berjalan menelusuri trotoar untuk menuju ke halte selanjutnya. Sesampai di halte, aku memilih duduk sambil menatap ke jalanan yang begitu ramai. Dihadapanku, tepatnya di seberang jalan menjulang tinggi sebuah gedung milik perusahaan swasta yang bergerak dibidang kontraktor.

Gedung itu tak asing bagiku. Meski ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di halte bus ini. Aku ingat betul, di gedung itu tersimpan mimpi indahmu. Bekerja secara profesional menjadi bagian dari desainer bangunan-bangunan megah. Aku suka melihat wajahmu yang penuh dengan entusiasme. Keceriaan itu selalu ada di wajahmu ketika kamu bercerita bagaimana para profesormu membanggakan diri mengenai kesuksesan mereka sebagai arsitek bangunan metropolitan modern di pusat kota. Merancang gedung-gedung penting. Menjadi bagian dari sejarah. Dikenal sebagai pahlawan pembangunan. “Aku juga ingin seperti mereka” katamu mengakhiri cerita.

Deru suara bus yang aku nanti telah mengagetkan lamunanku. Segera saja aku menaiki bus itu. Aku tak ingin pulang terlalu malam. Rutinitasku yang begitu padat telah mengerogoti masa mudaku. Aku bekerja di sebuah instasi milik pemerintah. Aku menuruti petuah ibuku untuk menjadi PNS. Maka setelah lulus kuliah aku, memasukkan surat lamaran pekerjaan setiap kali ada lowongan CPNS. Aku tak peduli di daerah mana aku akan ditempatkan. Setelah 5 tahun bekerja, akhirnya karirku menjadi PNS mulai membaik. Aku mendapatkan jabatan dan gaji yang lumayan. Meskipun tinggal jauh dari keluarga, ibuku bahagia ketika aku diterima menjadi PNS.

Namun keputusanku ini selalu mengusik isi hatiku. Sosokmu yang telah mengisi masa muda begitu membekas dalam setiap periode kehidupanku. Alangkah indahnya masa muda itu. Perlahan aku tenggelam dalam sisa-sisa memoriku tentangmu, Rendra.

Will you remain the same?
...

Mimpimu begitu besar. Sementara aku tak sepertimu. Kadang aku selalu iri pada mimpi-mimpi besarmu. Kamu memiliki mimpi-mimpi itu seolah-olah mimpi itu adalah bagian dari masa depan. Mereka begitu nyata tergambar dalam benakmu. Sementara aku hanya bermimpi menjadi guru dan PNS. Lagipula hanya itu yang diharapkan orang tuaku. Menjadi PNS itu terjamin, begitulah kata ibuku. Bahkan PNS itu mengabdi pada Negara. Kita layak dihargai karena bagian pion-pion birokrasi pemerintah, apalagi sekarang ada jaminan hari tua bagi PNS. Tak perlu lagi sibuk memikirkan investasi atau asuransi. Dalam kehidupan sosial, strata kita tidaklah terlalu buruk. Menjadi PNS jauh lebih dihormati dari pada pegawai swasta yang serba tidak tetap. Hanya petuah-petuah itulah yang aku ingat. Menjadi PNS. Titik!

Jadilah kamu pencerita yang baik dan aku pendengar yang baik. Indah. Bukankah kita saling mengisi satu sama lainnya? Aku tak pernah membayangkan, aku adalah bagian dari pasangan mimpi ini. Kita menghabiskan masa muda yang begitu bergairah. Bersama-sama menyusuri alur-alur liar yang tak pernah kita terka. Menuntaskan segala keraguan dan keingintahuan kita tentang kehidupan. Meski perdebatan kita sering diisi oleh riak-riak kecil mengenai ketidaksepakatan. Kita adalah pasangan idealis tapi idealkah?

Idealisme dan pasangan ideal kami ternyata hanya bertahan lima bulan atau paling tidak empat bulan. Setelah itu kamu justru mencintai hal lain. Kamu begitu mencintai mimpi-mimpi sehingga aku bosan menjadi pendengar yang baik. Aku juga memiliki mulut yang selalu ingin menceritakan kisahku. Aku juga membutuhkan telinga yang mampu mendengarkan aku, sebaik aku mendengarkan kamu.

Sore hari tepat diusia lima bulan hubungan kita. Aku ingin mengutarakan perasaanku padamu. Aku merasakan ambivalensi, antara menginginkanmu tetap disampingku atau membiarkanmu berlalu dengan sejuta mimpi-mimpi magismu. Aku ingin membuat semuanya menjadi lebih jelas. Bukankah ini esensial dari hubungan kita selama ini? Saling memahami antara satu dengan yang lainnya. Jadi biarkanlah aku menyusun semua alasan ini menjadi lebih logis.

Aku memutuskan untuk menemuimu di cafe yang tak jauh dari rumah. Sebetulnya cafe itu tak senyaman cafe lainnya. Hanya saja jika nantinya aku harus menangis. Aku tak perlu berlari terlalu jauh untuk menenangkan hati. Aku tak ingin orang lain melihatku menangis karena lelaki. Pantang bagi seorang Kiara Pramesti ini. Aku duduk disudut cafe. Sambil menantimu aku mencoba mengingat setiap sketsa kebersamaan kita. Tidak terlalu buruk. Meski ilusiku tentangmu membuat hatiku sedikit gentar. Entah mengapa justu aku yang merasa lebih sulit. Mungkin karena aku tahu aku akan melukaimu. Aku telah berusaha menata hatiku dengan sebaik-baiknya, aku tak ingin hatiku terlihat begitu rapuh dihadapanmu, aku ingin tetap tegar.

Kamu datang dengan senyum itu. Entah mengapa saat itu juga kamu, menyapaku dengan geliat khas mu. “Jago juga pilih cafe? Sound track-nya Michael Buble pula?” katanya sambil tersenyum nakal. Saat itu memang cafe sedang memutar musik Michael Buble yang berjudul Everything.

Do you know what i am feeling right now? Kataku dalam hati.

Ketika dia duduk. Akulah yang memulai semua percakapan ini.

“Mungkin, kali ini tidak akan lama”. Kataku pelan tapi tegas.

Aku tahu wajahmu akan berubah secepat itu. “Ini soal apa?” katamu kebingungan.

“Soal kita dan aku ingin mengakhiri semuanya”.

Kami akhirnya hanya terdiam. Hanya musik Michael Buble yang sudah hampir berakhir yang terdengar begitu keras diantara keheningan ini.

“Kenapa?” katamu memulai.

“Karena aku lelah dengan semua sikapmu.”

“Sikap?”

“Sikapmu yang memikirkan diri sendiri”

Hampir lebih dari lima belas menit kami berdebat mengenai apa yang masing-masing kami inginkan, aku berusaha sekuat tenaga untuk memuntahkan semua perasaanku selama ini. Semua cukup melelahkan. Sampai akhirnya kamu berkata...

“Kiara, kamu yakin?”

Aku hanya diam. Setidaknya mataku mulai memanas. Aku hanya tak pernah mengira bahwa mengakhiri semua ini denganmu begitu sulit. I don’t think so, i can do this anymore. Akhirnya aku memilih untuk berdiri dan pergi meninggalkan kamu. Sampai akhirnya tanganmu berusaha menahanku.

“Rendra, sudah” kataku sambil berusaha melepaskan cengkraman itu.

“Maaf” katamu lirih.

Aku hanya melepaskan cengkremannya yang mulai melemas, entah mengapa aku justru ingin sekali menangis. Aku tak peduli lagi. Aku tetap berjalan menuju pintu keluar meninggalkan kamu duduk terpaku. Jika saja, yang aku dengar terakhir kali bukan kata “maaf”, tetapi kata lain yang lebih pantas kamu ucapkan, bahwa kamu benar-benar mencintaiku selama ini melebihi dari semua mimpi-mimpi magismu mungkin aku tak sesakit ini. Sambil berlalu, terdengar sayup-sayup ditelingaku lagu Ironic dari Alanis Morisette mengalun dari cafe, ...a traffic jam when you're already late. A no-smoking sign on your cigarette break. It's like ten thousand spoons when all you need is a knife. It's meeting the man of my dreams and then meeting his beautiful wife and isn't it ironic...don't you think. A little too ironic...and, yeah, I really do think....

Yes, it’s ironic. Bahkan air mata ini juga tak berhenti menangis hingga aku sampai di rumah.
...

Kala itu keputusanku untuk meninggalkan kamu memang selalu menyisakan keraguan dalam hatiku. Kita bertemu di usia yang terlampau muda untuk bisa terus bersama. Aku hanya menjalani apa yang ada dihadapanku. Aku merasa kita tidak perlu bersama jika mimpi tak cukup menyatukan kita. Memang masih ada sisa-sisa memori tentang kamu disetiap sudut kepalaku, but lets things remained as they are...

Yogyakarta, di akhir tahun 2011.