Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Februari 2013

Membaca Perempuan Baik-Baik



“The most painful thing is losing yourself in the process of loving someone too much, and forgetting that you are special too.”
— Ernest Hemingway (Men Without Women) 



Memang tak ada yang lebih menyakitkan selain dinilai rendah oleh orang yang selama ini kita cintai diam-diam, tapi semoga saja aku hanya rendah di matamu bukan di hadapan Tuhan. Sebab aku tahu betul, aku selalu berusaha menjaga hati agar menjadi perempuan baik-baik. 

M.
Yogyakarta, Februari 2013.

Rabu, 06 Februari 2013

Membaca Perempuan Lain (3)



Membandingkanku dengan perempuan lain itu seperti membandingkan antara kopi dan teh. Kita berbeda rasa, warna, dan aroma meskipun sama-sama sejenis minuman. Kau bisa saja menyukai keduanya tetapi kau takkan pernah menemukan rasa yang sama. Kau bisa saja memulai penjelajahanmu untuk terus mencari rasa lain, yang berbeda atau mungkin yang terbaik. Tapi bagiku, perjalanan rasaku telah menjadi buntu karena bayangan-bayanganmu. Kamu adalah huru-hara di hatiku.

M.
Yogyakarta Februari, 2013

Minggu, 02 Desember 2012

Membaca Puisi: Hujan di Bulan Juni (Desember-ku)

tak ada yang lebih tabah 
dari hujan bulan Juni 
dirahasiakannya rintik rindunya 
kepada pohon berbunga itu 

tak ada yang lebih bijak 
dari hujan bulan Juni 
dihapusnya jejak-jejak kakinya 
yang ragu-ragu di jalan itu 

tak ada yang lebih arif 
dari hujan bulan Juni 
dibiarkannya yang tak terucapkan 
diserap akar pohon bunga itu 



(Sapardi Djoko Damono - 1989)



catatan pinggir-ku:
pak sapardi, bolehkah saya ganti bulan Juni menjadi bulan Desember? mohon izin ya pak?
:)


M.
Yogyakarta, hujanku di bulan Desember 2012

Jumat, 30 November 2012

Membaca: Apakah Kita


Apakah kita?
Siapakah aku?
Dan siapakah kamu?
Apakah benar ada benang merah diantara kita?
Apakah kita api yang bertemu dengan api sehingga mengobarkan?
Apakah kita air yang bertemu dengan api sehingga memadamkan?
Ataukah kita air yang bertemu dengan air sehingga menghanyutkan?
Mungkinkah kita hanya akan terus melukai satu sama lain?
Dan ketidakbersamaan itu adalah hal terbaik yang kita miliki.
Sampai kita mampu meredam emosi dan menilap rasa.
Sehingga aku bisa menjawab sebuah pertanyaan janggal yang ada dalam hati:
Mengapa begitu sulit untuk saling bertemu?


M.
Yogyakarta, Akhir November 2012.

Senin, 16 Juli 2012

Membaca Perempuan Lain (2)

Beginilah tipikal perempuan yang terlalu lama memendam rasa. Malam itu saat sebagian dari orang-orang berkumpul di sebuah ruangan besar. Satu tempat dimana kita merayakan pertunjukan-pertunjukan mewah, meskipun tidak selalu pertunjukan-pertunjukan itu terlihat menarik. Aku selalu berdiri di tempat yang sama. Di balik jendela. Tempat yang paling sempurna untuk menyembunyikan diri dari berbagai pasang mata. Entah mengapa aku begitu senang bersembunyi disaat yang lain sibuk dan ribut berebutan untuk menonjolkan diri. 

Aku mungkin pemalu, pemurung, peragu atau pemendam perasaan. Namun justru saat bersembunyi itulah aku menemukanmu diantara kerumunan orang. Berdiri tegak menatap lurus ke arah panggung. Bagiku, siluet bayangan tubuhmu mudah sekali untuk dikenali. Wajahmu terkadang terlihat serius, terkadang juga tersenyum. Aku tak pernah yakin dengan apa yang kau lihat, karena aku merasa bahwa pertunjukkan itu tak cukup menarik. Dimataku, kaulah pertunjukkan menarik itu. Hingga aku menyadari bahwa memang ada perempuan lain di atas panggung itu. Perempuan lain yang membuatmu tak melepas tatapan itu walau hanya sekejap. 


Ada saat dimana aku berharap bahwa akulah perempuan diatas panggung itu, perasaan yang membuat pikiran ini menjadi tak terkendali. Tak ada yang lebih menyedihkan dari seorang perempuan agar berharap dirinya menjadi perempuan lain. Aku tahu kau tahu, dan aku yakin orang lain juga tahu kearah mana mata ini selalu menatap. Sekalipun aku selalu bersembunyi dibalik jendela, bibir orang lain takkan selalu terkatup. Aku tahu orang lain bicara dan aku tahu kau mendengar. Gerak-gerik orang yang sedang jatuh cinta itu selalu terlihat berbeda. Perasaanku memang selalu pendiam dan pemalu. Ingin aku berkelakar hanya berpura-pura. Tapi memang tak mudah menipu hati. 

Tak bisakah perempuan lain itu menghilang sejenak saja dari isi kepalamu? Karena kau tak pernah berhenti menatap perempuan lain itu, lalu bagaimana bisa aku terus mengharapkan tatapan itu berbalik mengarah kepadaku? Tetapi seiring jalannya waktu yang aku lakukan justru sebaliknya. Aku mencoba untuk mengikhlaskan diri. Aku pun juga tak ingin lagi menjadi seperti perempuan lain itu. Aku tak akan memaksakan perasaanmu. Teruslah menatap perempuan lain itu.  

Itulah sebabnya aku memutuskan untuk berhenti.
Ya, berhenti menatapmu. 

M.
Saat Yogyakarta terasa begitu dingin, Juli 2012. 

*Picture from doodlersanonymous

Kamis, 05 Juli 2012

Hard as Stone

Aku selalu berharap bahwa hatiku seperti batu. Keras dan terjal. Tak mudah terbang terbawa angin, ketika terjatuh tak mudah hancur dan terluka. Dingin dan angkuh untuk sekedar ditemui. Kasar dan tajam untuk sekedar disentuh. Tetap bertahan meski diterpa hujan dan api. Tetap kuat meski dilempar dan diinjak-injak. Mampu merasakan hampanya dingin di malam hari dan panasnya terik matahari di siang hari. 

 

Yah, barangkali seperti batu yang keras, tetapi dengan sendirinya akan luluh dengan rintikkan air yang terus jatuh tanpa henti dan berirama. Selayaknya filosofi batu dan air, jika berdekatan akan selalu menyatu dan tak akan pernah tahu jejaknya dari mana ia berasal.

Keinginan ini membunuhku. Karena aku tahu betul hati ini tak se-ampuh itu. Begitu mudah kau mengetuk hatiku. Membuatnya melayang menjangkau angkasa, berlayar mengarungi samudra tak bertepi. Membawanya menembus mimpi-mimpi masa depan seindah dongeng. Menjadikan aku begitu optimis menghadapi dunia yang begitu liar. Meyakinkan aku bahwa jalan menuju singasana itu ada. 

Namun kau menjatuhkannya dan menjadikannya hancur berkeping-keping.  Hingga aku ingin berteriak, sekeras-kerasnya. Menangis sepuas-puasnya. Berlari sekencang-kencang. Menyelam sedalam-dalamnya. Menempus malam kelam. Hanya untuk sekedar menahan luka. Karena itu, aku tahu betul bahwa hati ini tak sekeras batu.  
Tak seperti itu.


M.
Yogyakarta, Juli 2012.

Sabtu, 04 Februari 2012

Somewhere Only We Know

In our hidden place. Somewhere only we know. We have our hidden truth that keep us safe. Please believe that what we had was real. 
Pernahkah kau ingat pertemuan kita di kala senja itu? Pernahkah kau ingat dimana kita memulai pembicaraan ini? Pernahkah kau mencoba menerka apa yang kala itu aku pikirkan?

Sedetik. Aku menganggap bahwa pertemuan itu adalah akhir. Aku yang berubah dan kamu yang berlalu. Dunia pun tak lagi ramah kepada pemimpi seperti kita. Orang bilang kita terlalu naif mengejar mimpi. Gairah masa muda memaksa kita menjadi manusia-manusia ambisius dan keras kepala. Atau barangkali terlalu berdiri tegak dan menangkat kepala tinggi-tinggi. Namun demi Tuhan, aku pun manusia biasa yang juga ingin mengejar masa depan. 

Semenit. Aku menganggap bahwa pertemuan itu adalah awal. Aku memang berubah dan kamu pun begitu. Aku tak ingin memungkiri bahwa setiap manusia pasti akan berubah. Maka tak penting apakah aku berubah atau kamu yang telah berubah. Terkadang kita terlanjur mencaci dan membenci, tetapi selalu ada penyesalan di akhir kalimat. Aku tak ingin menjadi naif.

Sejam. Aku menganggap bahwa pertemuan itu adalah sebuah negosiasi. Pembicaraan antara aku dan kamu, untuk memulai sebuah perjalanan yang baru. Menegosiasikan kehidupan baru. Memori baru. Mimpi baru. Pemikiran baru. Hanya karena kerendahan hati, mungkin engkau mengalah. Sementara aku tahu, aku akan dikepung rasa bersalah dan sia-sia. 

Barangkali aku terlalu lama menentukkan arti pertemuan itu. Di suatu tempat yang hanya kita tahu, aku bahkan masih berdo'a dalam hati, bahwa kita akan kembali bertemu. Somewhere only we know.


Sabtu, 14 Januari 2012

Dia yang Mencintaimu



Kamu tak perlu menjadi mimpi untuk bisa hadir dalam setiap malamnya.
Kamu tak perlu menjadi memori untuk selalu dikenangnya.
Kamu tak perlu menjadi kopi untuk membuatnya selalu terjaga.
Kamu tak perlu menjadi buku diary untuk bisa membuatnya terbuka.
Kamu tak perlu menjadi kata-kata untuk mengungkapkan isi hatinya.
Kamu tak perlu menjadi rumah untuk menjadikannya merasa nyaman.
Kamu tak perlu menjadi napi untuk menembus setiap luka dihatinya.
Kamu tak perlu menjadi perempuan untuk merasakan setiap kepedihannya.
Kamu tak perlu menjadi sahabat untuk memahami perasaannya.
Kamu tak perlu menjadi angin untuk memberikan kesejukkan baginya.
Kamu tak perlu menjadi matahari untuk bisa terus menyinarinya.
Kamu tak perlu menjadi malam untuk bisa menidurkannya.
Kamu tak perlu menjadi air untuk bisa membuatnya lepas dari rasa haus.
Kamu tak perlu menjadi pohon yang rindang untuk membuatnya merasa teduh.
Kamu tak perlu menjadi Majnun untuk menjadikannya Layla.
Kamu tak perlu menjadi Raja untuk menjadikannya Ratu.
Kamu tak perlu menjadi lelaki lain untuk membuatnya berarti.
Kamu tak perlu menjadi apapun untuk membahagiakannya.
Kamu tak perlu menjadi siapapun untuk mencintainya, 
karena dialah yang mencintaimu.
Tak perlu.


Yogyakarta, 12 January, 2012


(Picture from Tumblr.com)

Minggu, 05 September 2010

Mimpi


.....
Satu waktu di Wardown Park,
Kulihat sepasang kakek dan nenek bernostalgia,
Mungkin tentang kisah mereka yang telah lalu.

Sementara aku, termenung kaku menatap kemesraan itu,
Sebuah romansa abadi yang begitu nyata.

Tetapi,
Suaramulah yang memecah hening lamunan indah itu

Sore yang sama di Wardown Park
Dimana aku selalu berjalan tertinggal dibelakangmu,
Yang kulihat hanya pundak itu

Andai saja kau tahu,
Kaki ini juga ingin berjalan cepat.
Agar menyatu dengan bayangan kakimu yang begitu semu.

Kala itu di Wardown Park,
Burung-burung merpati, angsa-angsa
Dan semilir angin barat yang begitu menusuk kulitku.

Ingatanku melayang jauh entah kemana bersama
mimpi-mimpi yang tak menentu.

Hanya saja aku terbangun
Ketika mimpi itu hendak mendekati bayanganmu.

Dan kutemui diriku tak ada lagi
Burung-burung merpati, angsa-angsa
Dan semilir angin barat yang begitu menusuk kulitku.


Aku pun menyadari,
Aku akan segera tiba di Jakarta.

.....
…..
…..

*Gambar diambil di Wardown Park, Luton, Inggris.

Minggu, 14 Maret 2010

Hope

Aku kembali bimbang,
Antara hati dan akal,
Antara perasaan dan pikiran,
Seolah mereka tak pernah menyatu,
Selalu ada ragu yang bersarang dalam hatiku,
Yang aku tak pernah mengerti maknanya,
Kehidupanku kembali membentuk paradox,
Aku yang selalu ingin diam,
Kini saatnya aku harus membagi,
Apa yang aku inginkan dan apa yang telah terjadi
Semuanya menjadi ilusi,
Meskipun
Mozaik-mozaik kehidupan kembali aku rangkai,
Tanpa aku sadari,
Aku justru terjatuh lebih dalam
Terjebak dalam pikiranku
Bersama dengan khayalan-khayalanku
Aku kembali ragu dengan jalan kehidupanku
Tapi saat itu
Aku mencoba menyalakan kembali api itu; api harapan,
Yang kata orang; selalu menyala.

(
Tepat
Hari
Ini
Satu
Tahun
Yang
Lalu
…
)

Y.14.03.10