Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juli 2012

Membaca Perempuan Lain (2)

Beginilah tipikal perempuan yang terlalu lama memendam rasa. Malam itu saat sebagian dari orang-orang berkumpul di sebuah ruangan besar. Satu tempat dimana kita merayakan pertunjukan-pertunjukan mewah, meskipun tidak selalu pertunjukan-pertunjukan itu terlihat menarik. Aku selalu berdiri di tempat yang sama. Di balik jendela. Tempat yang paling sempurna untuk menyembunyikan diri dari berbagai pasang mata. Entah mengapa aku begitu senang bersembunyi disaat yang lain sibuk dan ribut berebutan untuk menonjolkan diri. 

Aku mungkin pemalu, pemurung, peragu atau pemendam perasaan. Namun justru saat bersembunyi itulah aku menemukanmu diantara kerumunan orang. Berdiri tegak menatap lurus ke arah panggung. Bagiku, siluet bayangan tubuhmu mudah sekali untuk dikenali. Wajahmu terkadang terlihat serius, terkadang juga tersenyum. Aku tak pernah yakin dengan apa yang kau lihat, karena aku merasa bahwa pertunjukkan itu tak cukup menarik. Dimataku, kaulah pertunjukkan menarik itu. Hingga aku menyadari bahwa memang ada perempuan lain di atas panggung itu. Perempuan lain yang membuatmu tak melepas tatapan itu walau hanya sekejap. 


Ada saat dimana aku berharap bahwa akulah perempuan diatas panggung itu, perasaan yang membuat pikiran ini menjadi tak terkendali. Tak ada yang lebih menyedihkan dari seorang perempuan agar berharap dirinya menjadi perempuan lain. Aku tahu kau tahu, dan aku yakin orang lain juga tahu kearah mana mata ini selalu menatap. Sekalipun aku selalu bersembunyi dibalik jendela, bibir orang lain takkan selalu terkatup. Aku tahu orang lain bicara dan aku tahu kau mendengar. Gerak-gerik orang yang sedang jatuh cinta itu selalu terlihat berbeda. Perasaanku memang selalu pendiam dan pemalu. Ingin aku berkelakar hanya berpura-pura. Tapi memang tak mudah menipu hati. 

Tak bisakah perempuan lain itu menghilang sejenak saja dari isi kepalamu? Karena kau tak pernah berhenti menatap perempuan lain itu, lalu bagaimana bisa aku terus mengharapkan tatapan itu berbalik mengarah kepadaku? Tetapi seiring jalannya waktu yang aku lakukan justru sebaliknya. Aku mencoba untuk mengikhlaskan diri. Aku pun juga tak ingin lagi menjadi seperti perempuan lain itu. Aku tak akan memaksakan perasaanmu. Teruslah menatap perempuan lain itu.  

Itulah sebabnya aku memutuskan untuk berhenti.
Ya, berhenti menatapmu. 

M.
Saat Yogyakarta terasa begitu dingin, Juli 2012. 

*Picture from doodlersanonymous

Rabu, 11 Juli 2012

Perempuan Lain

Sebuah BBM darimu masuk pukul sembilan malam. Aku hanya mengintip dari layar chats dan tidak membukanya. Pesan singkat itu berbunyi, Aku bisa minta bantuanmu? Ini sudah sekian lama sejak terakhir kali kita saling mengirimkan pesan. Aku tak yakin untuk membuka pesan itu. Aku berniat pura-pura tidak menyadari jika ada pesan masuk itu. Jadi kuputuskan untuk tidak mengubah tanda pesan di BBM dari D menjadi R. Namun sebuah BBM lain masuk lima menit kemudian, Ayahku menikah lagi. 

Aku masih terdiam menatap layar handphoneku. Butuh waktu beberapa menit untuk meyakinkanku bahwa pesanmu itu bukan sekedar candaan atau hacking dari teman-teman usilmu. Aku memutuskan untuk menjawabnya dengan satu kata, serius?

Dan seperti apa yang kau katakan, Ayahmu menikah lagi. Kau memintaku untuk membantu menguatkan perasaan adik perempuanmu yang mungkin saja tidak sekuat perasaanmu. Anehnya, aku masih saja menerima permintaan tolongmu dan mau berbagi kesedihan yang kau alami. Kita memang pernah dekat, namun aku tak pernah menyangka bahwa aku akan menjadi orang pertama yang kau hubungi disaat kau dalam keadaan resah seperti ini. Atau hanya disaat seperti inilah aku ada dalam benakmu. Dari sekian banyak waktu yang kau habiskan untuk bergelut antara kuliah dan berkerja, aku hanya ada disaat kau dirundung masalah. Ironisnya aku merasakannya sebagai suatu kehormatan, bisa berada sebagai seorang yang kau andalkan disaat perempuan mana pun tak lagi mampu lagi kau harapkan. 

Malam itu pula kau menceritakan padaku bahwa ayahmu sudah lama memutuskan untuk menikah lagi. Kau berusaha meyakinkan ayah untuk memberikan lebih banyak waktu hingga adik perempuanmu tumbuh lebih dewasa namun dia tak lagi mau menunggu. Meski kau berulang kali meyakinkan dirimu sendiri bahwa pernikahan itu bukan lagi soal pengkhianatan. Tetap sulit menerima kenyataan bahwa ayah tidak lagi mencintai ibu dan ada perempuan lain yang dicintai ayah. Lantas apakah cinta ayah kepada anak-anaknya juga luntur selayaknya cinta ayah kepada ibu? Kenyataannya kita tak lagi harus menjawab pertanyaan seperti itu karena kehidupan itu tidak hanya urusan cinta semata. Realitas selalu membuat kita mengesampingkan cinta yang terlihat seperti ilusi. Aku tak pernah tahu, ayahmu menikah lagi karena mencintai perempuan lain atau karena ada hal lain? Tetapi menurutku bagi ibu dan adik perempuanmu yang terlihat hanyalah hal yang sama, luka. 


Malam lain, kau bercerita bahwa ayahmu tak lagi berada di rumah dan memutuskan untuk menghabiskan Hari Raya tahun ini di rumah istri barunya. Untuk alasan itulah dia memintamu pulang menemani ibumu. Karena bertahun-tahun kau tidak pernah pulang, kau menyesalkan betapa sulitnya menemui ibumu lagi dalam keadaan terluka. Kukatakan padamu, ibumu pasti akan bahagia jika kau pulang karena dia mengetahui bahwa anak laki-lakinya begitu pengertian terhadap ibunya. Kau akan menjadi laki-laki yang paling diharapkan oleh ibumu, kataku dalam pesan terakhir. 

Sejak semula kau membuatku seperti tersengat listrik dengan kabar itu. Tapi hal yang terus aku pikirkan justru perasaanmu terhadap ayahmu. Setelah tiga hari yang lalu, akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya padamu, Ayahmu menikah lagi, kamu sakit hati? Lalu kau jawab, Iya, sakit itu ada, tapi aku terpaksa memahami ayah. Begitulah. Ternyata memang mudah seorang laki-laki memahami laki-laki lain. Aku pun mencoba untuk memahami perasaan ibu dan adik perempuanmu. Aku membayangkan seandainya aku adalah mereka. Mampukah aku memaafkannya? Mampukah aku menerima kenyataan seperti itu? Aku sebagai perempuan mencoba memahami perasaan-perasaan itu, perasaan perempuan-perempuan yang terluka. Namun bagaimana dengan perempuan lain yang dinikahi oleh ayahmu? Haruskah aku memahami perasaan perempuan lain itu? Apakah perempuan lain itu tidak memahami perasaan ibumu? Perempuan lain itu juga perempuan.

Jadi, benarkah perempuan selalu bisa merasakan perasaan perempuan yang lainnya? Terkadang aku tidak percaya.

M.
Semarang, Juli 2012.

Senin, 02 Januari 2012

Cerpen: Remain


Aku sedang duduk menanti sebuah taksi melewati jalan yang panjang ini. Meski jalanan begitu ramai entah mengapa tak ada satu pun taksi kosong yang lewat. Kurang lebih sudah satu jam aku menunggu. Aku pun berjalan menelusuri trotoar untuk menuju ke halte selanjutnya. Sesampai di halte, aku memilih duduk sambil menatap ke jalanan yang begitu ramai. Dihadapanku, tepatnya di seberang jalan menjulang tinggi sebuah gedung milik perusahaan swasta yang bergerak dibidang kontraktor.

Gedung itu tak asing bagiku. Meski ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di halte bus ini. Aku ingat betul, di gedung itu tersimpan mimpi indahmu. Bekerja secara profesional menjadi bagian dari desainer bangunan-bangunan megah. Aku suka melihat wajahmu yang penuh dengan entusiasme. Keceriaan itu selalu ada di wajahmu ketika kamu bercerita bagaimana para profesormu membanggakan diri mengenai kesuksesan mereka sebagai arsitek bangunan metropolitan modern di pusat kota. Merancang gedung-gedung penting. Menjadi bagian dari sejarah. Dikenal sebagai pahlawan pembangunan. “Aku juga ingin seperti mereka” katamu mengakhiri cerita.

Deru suara bus yang aku nanti telah mengagetkan lamunanku. Segera saja aku menaiki bus itu. Aku tak ingin pulang terlalu malam. Rutinitasku yang begitu padat telah mengerogoti masa mudaku. Aku bekerja di sebuah instasi milik pemerintah. Aku menuruti petuah ibuku untuk menjadi PNS. Maka setelah lulus kuliah aku, memasukkan surat lamaran pekerjaan setiap kali ada lowongan CPNS. Aku tak peduli di daerah mana aku akan ditempatkan. Setelah 5 tahun bekerja, akhirnya karirku menjadi PNS mulai membaik. Aku mendapatkan jabatan dan gaji yang lumayan. Meskipun tinggal jauh dari keluarga, ibuku bahagia ketika aku diterima menjadi PNS.

Namun keputusanku ini selalu mengusik isi hatiku. Sosokmu yang telah mengisi masa muda begitu membekas dalam setiap periode kehidupanku. Alangkah indahnya masa muda itu. Perlahan aku tenggelam dalam sisa-sisa memoriku tentangmu, Rendra.

Will you remain the same?
...

Mimpimu begitu besar. Sementara aku tak sepertimu. Kadang aku selalu iri pada mimpi-mimpi besarmu. Kamu memiliki mimpi-mimpi itu seolah-olah mimpi itu adalah bagian dari masa depan. Mereka begitu nyata tergambar dalam benakmu. Sementara aku hanya bermimpi menjadi guru dan PNS. Lagipula hanya itu yang diharapkan orang tuaku. Menjadi PNS itu terjamin, begitulah kata ibuku. Bahkan PNS itu mengabdi pada Negara. Kita layak dihargai karena bagian pion-pion birokrasi pemerintah, apalagi sekarang ada jaminan hari tua bagi PNS. Tak perlu lagi sibuk memikirkan investasi atau asuransi. Dalam kehidupan sosial, strata kita tidaklah terlalu buruk. Menjadi PNS jauh lebih dihormati dari pada pegawai swasta yang serba tidak tetap. Hanya petuah-petuah itulah yang aku ingat. Menjadi PNS. Titik!

Jadilah kamu pencerita yang baik dan aku pendengar yang baik. Indah. Bukankah kita saling mengisi satu sama lainnya? Aku tak pernah membayangkan, aku adalah bagian dari pasangan mimpi ini. Kita menghabiskan masa muda yang begitu bergairah. Bersama-sama menyusuri alur-alur liar yang tak pernah kita terka. Menuntaskan segala keraguan dan keingintahuan kita tentang kehidupan. Meski perdebatan kita sering diisi oleh riak-riak kecil mengenai ketidaksepakatan. Kita adalah pasangan idealis tapi idealkah?

Idealisme dan pasangan ideal kami ternyata hanya bertahan lima bulan atau paling tidak empat bulan. Setelah itu kamu justru mencintai hal lain. Kamu begitu mencintai mimpi-mimpi sehingga aku bosan menjadi pendengar yang baik. Aku juga memiliki mulut yang selalu ingin menceritakan kisahku. Aku juga membutuhkan telinga yang mampu mendengarkan aku, sebaik aku mendengarkan kamu.

Sore hari tepat diusia lima bulan hubungan kita. Aku ingin mengutarakan perasaanku padamu. Aku merasakan ambivalensi, antara menginginkanmu tetap disampingku atau membiarkanmu berlalu dengan sejuta mimpi-mimpi magismu. Aku ingin membuat semuanya menjadi lebih jelas. Bukankah ini esensial dari hubungan kita selama ini? Saling memahami antara satu dengan yang lainnya. Jadi biarkanlah aku menyusun semua alasan ini menjadi lebih logis.

Aku memutuskan untuk menemuimu di cafe yang tak jauh dari rumah. Sebetulnya cafe itu tak senyaman cafe lainnya. Hanya saja jika nantinya aku harus menangis. Aku tak perlu berlari terlalu jauh untuk menenangkan hati. Aku tak ingin orang lain melihatku menangis karena lelaki. Pantang bagi seorang Kiara Pramesti ini. Aku duduk disudut cafe. Sambil menantimu aku mencoba mengingat setiap sketsa kebersamaan kita. Tidak terlalu buruk. Meski ilusiku tentangmu membuat hatiku sedikit gentar. Entah mengapa justu aku yang merasa lebih sulit. Mungkin karena aku tahu aku akan melukaimu. Aku telah berusaha menata hatiku dengan sebaik-baiknya, aku tak ingin hatiku terlihat begitu rapuh dihadapanmu, aku ingin tetap tegar.

Kamu datang dengan senyum itu. Entah mengapa saat itu juga kamu, menyapaku dengan geliat khas mu. “Jago juga pilih cafe? Sound track-nya Michael Buble pula?” katanya sambil tersenyum nakal. Saat itu memang cafe sedang memutar musik Michael Buble yang berjudul Everything.

Do you know what i am feeling right now? Kataku dalam hati.

Ketika dia duduk. Akulah yang memulai semua percakapan ini.

“Mungkin, kali ini tidak akan lama”. Kataku pelan tapi tegas.

Aku tahu wajahmu akan berubah secepat itu. “Ini soal apa?” katamu kebingungan.

“Soal kita dan aku ingin mengakhiri semuanya”.

Kami akhirnya hanya terdiam. Hanya musik Michael Buble yang sudah hampir berakhir yang terdengar begitu keras diantara keheningan ini.

“Kenapa?” katamu memulai.

“Karena aku lelah dengan semua sikapmu.”

“Sikap?”

“Sikapmu yang memikirkan diri sendiri”

Hampir lebih dari lima belas menit kami berdebat mengenai apa yang masing-masing kami inginkan, aku berusaha sekuat tenaga untuk memuntahkan semua perasaanku selama ini. Semua cukup melelahkan. Sampai akhirnya kamu berkata...

“Kiara, kamu yakin?”

Aku hanya diam. Setidaknya mataku mulai memanas. Aku hanya tak pernah mengira bahwa mengakhiri semua ini denganmu begitu sulit. I don’t think so, i can do this anymore. Akhirnya aku memilih untuk berdiri dan pergi meninggalkan kamu. Sampai akhirnya tanganmu berusaha menahanku.

“Rendra, sudah” kataku sambil berusaha melepaskan cengkraman itu.

“Maaf” katamu lirih.

Aku hanya melepaskan cengkremannya yang mulai melemas, entah mengapa aku justru ingin sekali menangis. Aku tak peduli lagi. Aku tetap berjalan menuju pintu keluar meninggalkan kamu duduk terpaku. Jika saja, yang aku dengar terakhir kali bukan kata “maaf”, tetapi kata lain yang lebih pantas kamu ucapkan, bahwa kamu benar-benar mencintaiku selama ini melebihi dari semua mimpi-mimpi magismu mungkin aku tak sesakit ini. Sambil berlalu, terdengar sayup-sayup ditelingaku lagu Ironic dari Alanis Morisette mengalun dari cafe, ...a traffic jam when you're already late. A no-smoking sign on your cigarette break. It's like ten thousand spoons when all you need is a knife. It's meeting the man of my dreams and then meeting his beautiful wife and isn't it ironic...don't you think. A little too ironic...and, yeah, I really do think....

Yes, it’s ironic. Bahkan air mata ini juga tak berhenti menangis hingga aku sampai di rumah.
...

Kala itu keputusanku untuk meninggalkan kamu memang selalu menyisakan keraguan dalam hatiku. Kita bertemu di usia yang terlampau muda untuk bisa terus bersama. Aku hanya menjalani apa yang ada dihadapanku. Aku merasa kita tidak perlu bersama jika mimpi tak cukup menyatukan kita. Memang masih ada sisa-sisa memori tentang kamu disetiap sudut kepalaku, but lets things remained as they are...

Yogyakarta, di akhir tahun 2011.

Minggu, 14 Agustus 2011

Regret.


I don’t just regret wasting my life up until itself in its entirety. I also regret a lot of things involving him. I regret possibly being the reason that things fell apart. I always think back and wonder if I had done this, or if I hadn’t done that, would things be different. Would they be better. Would none of this had happened and would I not be as completely shattered as I am now.

I wonder about small things, like had we gone to see that movie that I wanted to see, would it have made you think something to help? Would it have made us talk? Would things be different had I tried to have that conversation in the first place? If I had asked you if you were really, genuinely, the day I had to leave, would it have been more bearable? Had I gone back when I saw you weren’t there anymore, could I have helped you feel better before leaving? Were there words that you expected me to say that I never did :/

The truth is, You don’t really understand that, you probably think you do, but you don’t. Every single day I go through the process of blame and regret over that week. There is no thought or reasoning that ever makes it hurt less, it’s the same every day. I just think ‘what if’ and it breaks my heart every single time.

You might read this at some point. To you, I just wanted to say I’m sorry that things turned out as miserably as they did. I wished for anything better. I will always carry this regret with me, you know that. I don’t regret going and finding you though. That first hug was amazing… I do like you, I hope you know that.

Yogyakarta, August 2011

Sabtu, 06 Agustus 2011

Cerpen: Café

“Hari ini kenapa terlambat?” tanya kak Nanda
“Maaf kak, tadi kecelakaan kecil, uhm.. jatuh dari sepeda” jawabku dengan lirih.
Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi muram, “Kamu terluka?”
“Sedikit, lecet-lecet di tumit” jawabku sambil tersenyum kecut.
“Lain kali hati-hati”
Aku hanya mengangguk.
“Jatuh itu sakit apalagi jatuh cinta”
Aku tertawa mendengar dia berkata seperti itu dan seketika luka di tumit itu menjadi tidak perih lagi.
“Kok bisa sakit? Bukannya justru bahagia?
“Kata siapa bahagia?”
“Kata orang-orang” jawabku sekenanya.
“Mungkin bahagia tapi sesaat saja”
“Wah...wah...kakak tahu betul soal jatuh cinta?”
“Entahlah” jawabnya sambil meringis dan berlalu.

Hanya itu saja percakapanku dengannya sore ini. Aku berkerja partime sebagai waitress dengan kak Nanda di sebuah cafe dekat kampus. Aku berkerja mulai pukul empat sore sampai pukul sembilan malam. Memang cukup melelahkan tapi demi uang mau bagaimana lagi. Setiap harinya di cafe ini selalu ada berbagai macam kisah anak muda, mulai dari yang menyendiri bermain laptop hingga yang asyik berpacaran. Awalnya aku melakukan pekerjaan ini karena terpaksa. Dorongan ekonomi. Tapi setelah bertemu dengan Kak Nanda. Aku menyukai café ini bahkan lebih dari Mall atau tempat apapun. Aku tak pernah lelah mengamati kak Nanda. Bagimana aku harus melukiskan kak Nanda? Dia memiliki tatapan yang tajam, hidung mancung, bibir tipis, wajahnya berbentuk oval, kurus walaupun tak benar-benar kurus kerempeng dan kulit berwarna sawo matang. Tingginya mungkin sekitar 175 cm. Aku tak yakin dia keturunan Jawa tulen. Tapi dia paham betul tingkah laku perempuan jawa. Dia berulang kali bercerita mengidam-idamkan gadis jawa. Dan itu membuat hatiku berdebar-debar setiap kali mendengarnya. Ah...

***

Aku melihat kak Nanda yang hanya terdiam. Sesekali mengecek HP-nya meski tidak ada nada ataupun getaran. Aku tahu dia gelisah, tapi aku tak pernah tahu apa penyebabnya. Dilanjutkannya kembali mengelap meja dan membereskan gelas-gelas kemudian membawanya ke dapur. Entah mengapa aku begitu ingin memperhatikan setiap gerak-geriknya. Kak Nanda memiliki kepribadian yang menyenangkan. Ramah kepada teman dan pelanggan. Sesekali juga humoris. Supel. Lelaki yang sangat hangat. Aku menduga Kak Nanda sedang ada masalah yang cukup serius, karena tak biasanya kak Nanda merenung dan terdiam seperti itu. Aku mungkin terlalu peduli dengannya, tapi bagiku sikap kak Nanda kali ini begitu berbeda.

Bukan hanya itu saja yang membuatku heran. Kebetulan hari ini kami kedatangan pelanggaan yang cukup menyebalkan. Gerombolan anak-anak SMA yang saling bercanda bahkan sampai menggangu pelangan yang lain. Kak Nanda dengan emosional menegur mereka dengan nada suara ynag cukup tinggi. Bukan hanya aku bahkan pelayan yang lain pun kaget dengan sikap Kak Nanda yang tak biasa.

Keesokan harinya aku tak melihat kak Nanda berkerja. Aku pikir hanya hari tu saja aku tak menemuinya. Kira-kira lebih dua minggu kak Nanda tak bekerja. Tak ada yang tahu penyebabnya, hanya manajer cafe saja yang konon mengetahuinya. Alasan yang aku dengar juga simpang siur. Ada yang mengatakan ketidakmunculan kak Nanda disebabkan oleh peristiwa gerombolan anak SMA tempo lalu. Namun ada yang mengatakan ada masalah keluarga dan lain sebagainya. Aku begitu menyayangkan absensi kak Nanda di tempat kerja.

***


Cahaya café yang temaram. Suasana ini membawaku kepada lautan memori. Aku ingat ketika kak Nanda berjalan diantara kursi-kursi café, kemudian duduk diantara kursi-kursi pelanggan memandang ke arah jendela menanti pukul empat sore. Dia selalu datang dua jam lebih awal, untuk memastikan café bersih dan nyaman bagi pelanggan. Terkadang aku pun juga sengaja untuk datang lebih awal, dan menghabiskan menit-menit berdua dengan kak Nanda sampai pelayan yang lainnya berdatangan. Ketika aku mendengar kak Nanda terpaksa kembali karena ibunya wafat. Aku tak bisa berprasangka apapun. Aku hanya menyadari bahwa aku tak mengerti apapun tentang kak Nanda.

Kini kulihat diruangan ini, cahaya temaram yang menambah suasana semakin dingin dan suram, meskipun biasanya cahaya café ini sengaja untuk dibuat temaram tapi entah mengapa kali aku merasa tempat ini begitu kelam. Konsep café ini sebetulnya dibuat romantis dengan gaya minimalis. Tak heran jika café kecil ini sering dijadikan tempat berkencan bagi para remaja.

Kali ini aku datang ketempat ini bukan lagi sebagai seorang waitress, melainkan sebagai pelanggan biasa. Usahaku kecil-kecilan berbisnis pernak-pernik souvenir berjalan lancar. Aku pun memutuskan untuk berhenti menjadi waitress yang menurutku cukup melelahkan. Walaupun alasanku sebenarnya, aku tak lagi merasa nyaman ketika Kak Nanda telah meninggalkan café ini.

Aku terdiam menatap para pelayan café, tak satu pun dari mereka aku kenal. Mungkin memang sudah lama sejak aku bekerja. Masa yang cukup lama. Waktu berjalan tanpa kita sadari Tetapi kenangan itu masih tetap ada. aku sengaja duduk membelakangi pintu dan lampu utama. Aku hanya menghindari lalu lalang orang masuk. Aku menghindari keramaian. Dalam keremangan itu, aku melihat bayangan tubuh lelaki mendatangiku. Bayangan itu begitu familiar. Mengenakan seragam waitress dan membawa nampan berisi cangkir-cangkir. Aku membiarkan waitress itu meletakan minuman yang telah aku pesan. Cappuccino. Aku pun tak menoleh hanya untuk sekedar menegok wajahnya. Bukan dengan maksdu apapun. Sampai sang pelayan itu meletakkan tangannya di pundakku dan memanggil namaku dengan suara yang begitu khas, “Diandra”.

Seketika kutatap wajahnya. Aku tersenyum. Ada kelegaan yang muncul dalam dada seperti hendak membuncah. Aku tak pernah tahu aku akan menemuinya kembali di café ini. Aku hanya berfirasat mungkin saja dia akan kembali ke café kecil ini.

Yogyakarta, Mei 2011



Kamis, 14 April 2011

Pertemuan



Pertemuan malam ini masih sama seperti malam-malam terdahulu. Kita tak banyak bicara. Entah karena tak ingin atau ada alasan lain? Jika mau, banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu, baik itu akan perasaanku yang terdahulu ataupun hubungan kita saat ini. Mungkin kamu telah kecewa dengan keputusanku yang baru saja aku katakan. Namun itu hanyalah angan-anganku. Kamu tak harus menjawab 'ya' untuk sesuatu yang tak kau ingin. Menungguku bukanlah hal yang mnyenangkan dan aku pun paham...

Selasa, 07 Desember 2010

Air, Mata Air dan Air Mata


Sudah lama tidak turun hujan. Desa kami kering kerontang. Tidak ada lagi air, mata air telah kering. Hanya air mata yang terus mengalir membanjiri pelupuk mata bayi-bayi di desa kami yang semakin hari semakin keras saja tangisan kelaparan dan kehausan itu. Bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda-pemudi, anak-anak, tak kalah pula nenek dan kakek berbondong-bondong berlarian untuk berebut air ketika sebuah truk pengangkut air datang. Melihat keadaan ini memilukan. Semua pun tahu air itu tak akan cukup memenuhi kebutuhan satu desa ini. Akan tetapi ada kalimat sederhana yang mampu menyihir setiap orang untuk bertahan berebut air itu, ”Siapa cepat dia dapat!” Maka tak seorang pun diantara kerumunan itu akan mau berbagi apa yang telah didapatkannya. Semua mau air. Semua berebut air.

Begitu pula aku. Aku juga mau air. Di bawah matahari yang bersinar sangat terang tanpa menggunakan alas kaki aku ikut berdesak-desakkan dengan orang-orang itu. Dengan semangat membawa dua dirijen besar aku mengikuti aturan main mereka dengan mengantri. Bahkan meskipun sudah mengantri masih saja ada seorang ibu yang berteriak meminta belas asih semua orang yang ada disini. ”Bapak-bapak, mas-mas, tolonglah saya, anak saya lima tidak ada suami pada belum makan mau masak tidak ada air, tolonglah diringankan. Duh Gusti...”

Tidak ada yang mau peduli. Semua ingin air. Berulangkali aku memandangi ibu-ibu itu semakin aku ingat kata-kata ibuku ketika aku hendak berangkat mengambil air. Ketika seorang laki-laki berlari kencang sambil berteriak-teriak mengucapkan kalimat yang sama, ”Woi truk air sudah datang! Woi cepat! siapa cepat dia dapat!” Mendengar teriakan itu. Ibu segera membangunkanku dan menyuruhku untuk segera ikut antrian air itu sambil terus mengingatkan aku.

”Pokoknya harus sampai dapat, jangan keduluan orang lain! Dua dirigen itu harus penuh semua!” katanya. ”Aku nanti menyusul dibelakang! Ikutan mengantri juga!”
Aku pun mengangguk dan segera berlari, tak aku pedulikan alas kakiku, yang aku tahu hanya satu hal, Aku harus dapat air! Ditengah-tengah kerumunan itu tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya melakukan hal yang membuat semua orang disini memperhatikannya dengan terkejut. Dia menarik ember seorang perempuan muda dan membuang air itu ke tanah, seolah-olah dia tak membutuhkan air. Padahal semua orang disini dengan susah payah mengantri, berlarian dan berdesak-desakan hanya untuk mendapat air. Ini musim sulit dan penderitaan bagi orang-orang kami. Tetapi laki-laki sinting ini dengan tanpa dosa merebut air orang dan membuangnya begitu saja, sungguh gila! Kemudian dia berteriak-teriak. ”Hei semuanya! Inilah yang telah dilakukan tuhan pada kita, tidakkah Dia mengerti? Makhluknya hampir mati karena kehausan dan kelaparan. Untuk apa Engkau menciptakan kami, jika akhirnya Engkau bunuh pula kami dengan kondisi haus dan lapar. Kyai-kyai itu berkata: Engkau menciptakan segalanya Tuhan! Air, tanah, api, dan bahkan airmata kami. Tidakkah mudah bagi-Mu menciptakan hujan! Aku takkan berhenti menghujat hingga hujan itu tiba!”

Aku hanya terdiam menatap lelaki itu. Entah mengapa aku begitu takut, apa jadinya jika Tuhan menjadi marah. Seketika aku justru merasakan udara yang semakin memanas dan hembusan angin yang begitu kencang. Dalam hati aku berbisik, ampuni kami Tuhan.


Yogyakarta, 1 Desember


*Gambar diambil dari michelch.deviantart.

Senin, 06 September 2010

A Song

…

“Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.”


Lagu itu terus mengalun dalam benak Kirana. Sambil menatap monumen tua yang hampir sepuluh tahun meninggalkan memori penting dalam hidupnya. Dipandanginya bunga-bunga yang berjejeran mengelilingi monumen itu. Beraneka warna bunga yang mereka persembahkan. Kirana tetap memilih mawar putih tak berduri, baginya bunga itu adalah simbol ketulusan akan perjuangan hidup. Diletakkan bunga itu berjejer dengan bunga yang lain. Diucapkannya sebuah permohonan. Setelah selesai, segeralah Kirana meninggalkan tempat itu. Dia berlalu untuk mencari seseorang yang tinggal dengan alamat dalam kertas lusuh yang disimpannya lebih dari lima tahun terakhir.

“Kau akan menyesal seumur hidupmu jika tidak menemukannya” batinnya.

Kirana masih ingin menanyakan masa lalu hidupnya, bukan hanya untuk memuaskan keingintahuannya tapi juga untuk masa depannya. Meski tak satu pun mampu menjawab apa yang dikehendakinya. Kirana tak pantang menyerah. Hidupnya akan tetap sama jika dia tak mampu menemukan jawaban itu.


Hembusan angin lembut yang menyibakan rambutnya, mengingatkannya pada padang rumput yang kini tak ada lagi. Hanya ada bangunan-bangunan baru yang berderet sepanjang jalan menuju kota. Kirana tak bisa lagi membohongi pada dunia bahwa dia begitu merindukan tempat itu.

“Ini adalah penantian panjang” ucapnya suatu hari pada kekasihnya.
“Maksudmu?”
“Aku akan segera mengetahui siapa ibuku sebenarnya?”
Lelaki itu terdiam. Menghela nafas panjang.
“Apa?” sahut Kirana menantang kebisuan sang kekasih.
“Dia meninggalkanmu begitu lama, kau masih ingin mencarinya?” Tanya sang kekasih tanpa pikir panjang.
“YA” jawab Kirana dengan tegas. “Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya hidup tanpa seorang Ibu”.
“Tapi wanita seperti itu tak pantas kau sebut ibu” tandas sang kekasih.
Kirana tersentak kaget. Dipandanginya wajah sang Kekasih yang terlihat sangat kesal.
“Cukup! Kau bukan siapapun tak berhak mengatur hidupku lagi” Teriaknya sambil berlalu.

Kirana tahu betul lelaki itu mengejarnya. Amarah tak tertahankan membuatnya tak ingin kembali pada sang kekasih. Itulah awal mula perpisahannya. Kirana tak ingin menemuinya lagi. Tidak lagi.

Ayahnya meninggal sejak Kirana berumur 12 tahun. Baginya tak banyak yang dia ingat dari sang Ayah. Hanya satu memori itu, sang Ayah yang sering menyanyikannya lagu Que Sera Sera. Selebihnya hanyalah cerita dari orang-orang terdekat. Bukan kesalahan siapapun jika semua itu terjadi pada Kirana. Dirinya tahu bahwa sang Ayah begitu mencintainya. Kirana tak akan hidup jika tanpa kerja keras sang Ayah.

Kehidupanlah yang membimbing menjadi dewasa. Kirana tahu kerasnya hidup sebelum saatnya untuk tahu. Kirana merasakan pahitnya hidup sebelum rasa pahit itu ada dalam hidupnya. Hidup dengan belas kasih orang bukanlah hidup yang menyenangkan. Kirana tak butuh retorika tentang makna hidup, yang dia tahu hanyalah bagaimana untuk tetap hidup. Meski kini tujuan hidupnya berubah. Kirana masih ingin mencari sosok ibu yang telah lama hilang dari hidupnya.



Sampailah kaki ini pada alamat yang dicarinya. Tak seperti yang dibayangkan. Rumah itu begitu mungil. Bunga-bunga indah bermekaran di halaman rumah. Batu-batu tertata rapi membentuk jalan setapak. Sebuah lampu taman berbentuk angsa melengkapi nuansa keindahan taman sederhana yang dibatasi dengan pagar putih bersih.

Tiba-tiba tak sedikit pun keberanian muncul dibenaknya. Matanya tertuju pada pintu depan rumah itu. Dirinya hanya mampu memandangi rumah mungil itu dari seberang jalan. Kebingungan muncul dihatinya. Kekuatan yang mendorongnya berjalan hingga sejauh ini pun hilang sia-sia.

Satu jam telah berlalu. Keberanian itu belum muncul juga.

“Kau akan menyesal seumur hidup” gumamnya.

Dua jam telah berlalu. Matahari sudah mulai bosan menyinari. Kirana masih tetap berdiri dan memandangi rumah itu. Entah mengapa, rasa takut itu muncul. Mungkin saja alamat ini salah. Bagaimana bisa Kirana tahu jika dirinya pun tak mencoba masuk kerumah itu.

Kirana pun teringat sang kekasih yang sudah dicampakkannya.

“Mungkin dia ada benarnya” desahnya kemudian.

Saat itu Kirana memutuskan untuk menyerah pada kenyataan, hingga terdengar sebuah lagu yang tak asing lagi bagi telinga Kirana, lagu itu mengalun perlahan dari rumah itu.

“When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be”.


Sebuah senyuman muncul dari bibir Kirana. Dengan segenap kekuatan didatangilah rumah mungil itu. Sambil terus mengucap doa dalam hatinya, semoga itu ibu.





Yogyakarta, 20 Agustus 2010.

*Lagu “Que Sera, Sera” (Whatever will be, will be)
Apa yang akan terjadi, terjadilah.

Rabu, 07 April 2010

Kekasih dalam Kata-Kata


Sebetulnya aku tidak mencintainya. Setidaknya aku tahu bahwa perasaanku padanya bukanlah perasaan cinta. Aku mencintai semua tulisan-tulisannya tapi tidak penulisnya, begitulah. Aku pun menyadari perasaan ini cukup lama, menerima kenyataan bahwa aku tidak mencintai istriku sendiri. Sejujurnya aku menikahi dia karena apa-apa yang dituangkan dalam kertas-kertas itu berupa puisi-puisinya, cerpen-cerpennya, dan novel-novelnya. Tapi tidak dirinya dan tidak pribadinya. Aku pun merasa tidak terganggu dengan segala perasaan ini asalkan aku masih membaca semua karya-karyanya. Kenyataan terindah yang aku alami adalah aku selalu menjadi orang pertama yang membaca karya-karyanya. Aku sangat menikmati semua itu. Oleh sebab itu cintaku bukanlah cinta bertepuk sebelah tangan.

Awalnya mungkin aneh. Seperti mencintai hal yang tidak nyata. Absurd. Coba bayangkan, aku hanya mendekati istriku jika dia telah mulai beranjak dari mejanya dan mengerak-gerakan badannya melepas penat sambil tersenyum riang, itu merupakan pertanda bahwa dia telah menyelesaikan karya terbarunya. Kebiasaan istriku yang satu Inilah yang selalu kunanti-nanti.
Kemudian aku mulai mendekatinya sambil bertanya, “Apa yang kau tulis? Novel? Cerpen? Atau Puisi?”
“Cerpen” jawabnya singkat.
“Sudah selesai?”
Dia mengangguk perlahan.
“Boleh aku baca?”
Dia kembali mengangguk.
Seketika perasaanku berubah menjadi berbunga-bunga, bahagia tiada tara. Semakin aku mendekati laptop istriku, hatiku semakin berdetak tak karuan. Luar biasa. Perasaan cintaku ini begitu mendalam. Aku membaca tulisan itu dengan seksama, sekejap perasaanku mulai bergejolak, mataku menyusuri kata demi kata, cerita itu segera mengalir lembut diantara sel-sel otakku membuat hatiku semakin berdegup gencang. Cerpen magis dengan gaya kesusastraan tingkat tinggi. Gaya bahasa yang begitu aku kenal, ide cerita yang brilian, aku begitu mencintainya, aku begitu mencintai karya-karya sastra istriku, sekali lagi hanya karyanya bukan pribadinya.
Setelah membaca karya terbaru istriku, cerita-cerita dalam karya itu selalu terbawa dalam mimpi-mimpiku, yang kemudian membawaku kedalam dunia baru. Dunia yang jauh lebih indah. Yang jauh dari dunia nyataku, yang jauh dari kehidupanku, dan yang jauh dari istriku. Namun kebahagiaan yang ada dalam mimpiku ini hanya terasa sekejap saja. Karena bisikan-bisikan suara wanita itu, tepatnya suara istriku yang membangunkanku untuk kembali berangkat ke kantor. Aku selalu kesal. Kebahagiaan yang hanya dirasakan beberapa saat saja. Hilang begitu saja oleh suara-suara wanita itu. Sialan!
Begitulah aku menjalani kisah cintaku. Unik. Tapi aku pun tak bisa menepis perasaan cintaku yang begitu mendalam ini. Aku membiarkan cintaku ini tetap tumbuh dengan sendirinya. Karena aku pun begitu menikmati setiap episode kehidupan cinta yang aku jalani. Sampai suatu ketika istriku kembali menulis, kali ini dia mengarang sebuah novel yang membuat perasaan cintaku ini semakin gila. Perasaan cintaku dengan karya-karyanya sekali lagi bukan pada penulisnya secara pribadi.

***

Hari itu aku pulang lebih awal dari biasanya, kudapati rumahku sangat sepi. Hening. Kupanggil nama istriku berulang kali namun dia tak menyahut. Aku pun masuk kamar dan berganti pakaian. Kemudian aku mendatangi ruang makan, kubuka tudung saji diatas meja makan, disana telah tersedia nasi putih hangat, lauk pauk dan sayuran. Tentu saja semua itu adalah makan siang yang disediakan untukku oleh istriku. Dia tahu betul hari ini aku akan pulang lebih cepat dari biasanya, batinku. Segera aku mulai menyantap hidangan yang ada dihadapanku, perutku sudah tidak tahan setelah setengah hari ini berkerja dikantor menghadapi setumpuk nota-nota yang harus dibuat menjadi laporan keuangan berlembar-lembar. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai pekerjaanku namun ini adalah pekerjaan yang cukup menjanjikan. Sayup-sayup aku mendengar bunyi seseorang sedang memencet keyboard dengan cepat. Seseorang sedang mengetik. Wanita itu kembali menulis! Istriku kembali menulis!
Segera aku datangi ruang baca, tempat dimana istriku biasanya menulis semua karya-karyanya. Aku mengintipnya dari balik celah pintu, wanita itu terlihat begitu fokus menatap layar laptop, jari-jarinya yang lentik tak berhenti bergerak terus memencet tuts-tuts keyboard dengan begitu tangkasnya. Matanya melotot menatap huruf-huruf yang mulai bermunculan dilayar dengan rapinya. Sedangkan aku, hatiku justru mulai berdegup, semakin lama semakin kecang. Ini pertanda bagus, wanita itu benar-benar mulai menulis lagi, itu berarti aku akan kembali membaca dan menemui kekasihku! Aku tersenyum bahagia.
Tiba-tiba wanita itu menghentikan aktivitasnya, dia menoleh kearahku. Dia menyadari aku memperhatikannya. Dia menatapku sesaat dan tersenyum. Mungkin keheranan melihatku senyum-senyum sendirian dibalik pintu.
“Sudah pulang?”
Aku mengangguk.
“Maaf aku tidak tahu kamu sudah pulang, aku keasyikan menulis sebuah novel sampai aku tidak sadar ternyata kamu sudah pulang sedari tadi”
Sebuah novel!
“Sudah makan? Aku sudah menyiapkan makan siang di atas meja makan” tambahnya.
Aku hanya menunjukkan piring yang aku pegang diatasnya juga masih tersisa setumpuk nasi dan lauk pauk yang sengaja aku ambil melebihi porsi biasanya.
Tak kuat menahan rasa penasaranku. Aku bertanya, “Kamu sedang menulis novel tentang apa?”
“Seorang wanita” jawabnya singkat. “Dan kau adalah lelaki pertama yang akan membacanya” tambahnya dengan tegas.
Aku bahagia bukan main. Sebentar lagi akan muncul sebuah novel yang menuturkan tentang seorang wanita, akankah wanita dalam novel ini yang akan menjadi cinta sejatiku. Perasaanku semakin tak karuan. Maka sebisa mungkin aku tidak menganggu wanita itu. Biarlah dia terus menyelesaikan novel itu. Biarkan dia terus menulis. Aku tak sabar! Wanita penulis novel itu atau wanita yang biasa disebut-sebut oleh orang-orang sebagai istriku. Mungkin dia memang istriku tapi sekali lagi aku tidak mencintainya, aku hanya mencintai tulisan-tulisannya.

***

Berhari-hari bahkan berminggu-minggu aku tunggu wanita itu atau istriku menyelesaikan novel terbarunya. Aku rela membiarkan dia sesekali tidak memasak makan malam ataupun makan siang. Tak apalah, asalkan cepat selesai novel itu, batinku.
Sampailah dimana istriku jatuh sakit. Ini benar-benar masa yang sulit. Aku menjadi gelisah tidak karuan, aku benar-benar khawatir akan novel itu yang tak terselesaikan. Maka apapun akan aku lakukan demi sembuhnya istriku. Aku benar-benar khawatir pada novel itu. Aku benar-benar ingin segera membacanya. Semenjak aku tahu istriku sakit hingga tidak bisa melanjutkan menulis novel segeralah aku membawanya ke dokter. Sesampai disana, aku ingin perawatan terbaik untuk istriku agar dia lekas sembuh dan kembali melanjutkan menulis novel yang tertunda karena kesehatannya. Beruntung sang dokter mengatakan bahwa istriku hanya kecapean dan perlu istirahat. Aku begitu lega mendengar penuturan sang dokter, setelah menerima resep obat dari dokter kami cepat-cepat membeli obat itu di apotek terdekat dan pulang. Sampai dirumah segera aku memastikan dia meminum obat dan beristirahat. Nampaknya aku harus lebih bersabar untuk menanti novel itu. Setidaknya aku harus lebih berjuang untuk mendapatkan kekasih sejatiku. Sekali lagi bukan istriku, tetapi tulisan-tulisannya.
Malam harinya, istriku mengucapkan terima kasih atas semua perhatianku hari ini. Aku diam saja. Dia mengatakan sangat bahagia terhadap kepedulian dan perhatianku. Aku tetap diam saja. Dia bahkan juga mengatakan kalau dia sangat mencintaiku dan akan segera menyelesaikan novel itu agar aku bisa segera membacanya.
“Aku ingin kamu segera membaca novel terbaruku, aku ingin mendengar pendapatmu” begitulah katanya.
Kali ini aku tidak diam saja. Aku tersenyum ceria sambil mengatakan, “Aku juga ingin segera membaca novel itu, cepatlah lekas sembuh”
Dia pun mengangguk dan tersenyum.
Meski begitu, aku memang bahagia. Tapi aku tak pernah sekalipun mengatakan padanya bahwa aku tak mencintainya dan aku hanya mencintai tulisan-tulisannya. Entahlah, mungkin aku takut kehilangan cintaku, aku takut dia tidak menulis lagi dan aku akan kehilangan cinta sejatiku. Hanya itu saja alasanku. Perasaan yang aneh.
Beberapa hari setelah dia sembuh, dia kembali menulis untuk melanjutkan novel itu. Aku bahagia. Setidaknya aku akan segera membaca novel itu.

***

Siang itu aku pulang dengan kondisi yang sangat melelahkan. Semua ini disebabkan aktivitas di kantor. Naiknya pamor perusahaan tempat aku bekerja menyebabkan aku harus mengikuti meeting dengan beberapa klien perusahaan dalam seharian, yang kemudian hasil meeting itu harus segera aku ubah menjadi rencana anggaran ini dan itu. Akan tetapi suasana hatiku malam itu menjadi berubah ketika wanita itu atau istriku mengatakan bahwa dia telah menyelesaikan novel terbarunya. Dia mengatakannya ketika menyambut kehadiranku diruang tamu.
“Aku telah menyelesaikan novel terbaru”
“Sungguh?” tanyaku tak percaya.
“Yah, kau bisa membacanya malam ini” katanya sambil mengangguk.
Saking bahagianya, aku peluk wanita itu atau istriku dan segera aku pergi ke ruang baca. Kudapati laptop yang tengah menyala itu. Mataku pun segera menyusuri kata demi kata. Novel ini tak kalah dengan cerita-cerita yang lain. Tetap magis dengan gaya kesusastraan tingkat tinggi. Gaya bahasa yang begitu aku kenal, ide cerita yang brilian, aku begitu mencintainya, aku begitu mencintai karya-karya sastra istriku, sekali lagi hanya karyanya bukan pribadinya.
Aku terus membaca novel itu. Sampai aku pun terasa terbawa ke dunia lain, aku terasa hidup mengikuti alur cerita dalam novel itu dan akhirnya aku pun terpikat oleh wanita lain. Seorang wanita yang hambir ribuan kali namanya disebut-sebut dalam novel itu. Wanita yang membuat aku terus membaca novel itu hingga imajinasiku semakin menyala dengan liarnya.
Wanita itu bernama Melisa. Wanita yang diceritakan dalam novel karya istriku itu. Kini mimpi-mimpiku tidak lagi tentang cerita-cerita magis, melainkan tentang wanita bernama Melisa. Semua kini telah berubah, aku justru tergila-gila tentang wanita bernama Melisa. Wanita hasil imajinasi istriku. Entah bagaimana wanita itu mulai memasuki mimpi-mimpiku. Bahkan jauh dari yang pernah aku bayangkan. Kami berdua begitu bahagia dalam dunia kami. Dunia mimpi kami. Dunia yang jauh lebih indah. Yang jauh dari dunia nyataku, yang jauh dari kehidupanku, dan yang jauh dari istriku. Dunia yang hanya milik kami berdua saja, aku dan Melisa. Sedangkan wanita itu atau istriku tetap saja menjadi penganggu kebahagiaan kami. Menganggu mimpi-mimpi kami dengan suara-suara yang membangunkanku untuk segera berangkat ke tempat kerja.
Mimpi-mimpi itu membuat aku menunggu hadirnya malam. Aku tak sabar untuk segera terlelap dan bertemu dengan Melisa. Aku tergila-gila dengan wanita itu. Wanita yang diciptakan dari imajinasi istriku kini benar-benar menjadi wanita impianku. Sungguh sulit dipercaya.

***

Berulangkali aku memastikan sikap istriku yang mulai terlihat tak biasa, mungkin dia mulai menyadari juga kenyataan bahwa aku tidak mencintainya. Gelagatnya selalu menunjukan rasa curiga, seolah-olah memastikan aku tidak berhubungan dengan wanita lain. Sepulang dari kantor, dia selalu memeriksa barang-barangku secara diam-diam meskipun aku tahu tapi aku berpura-pura tidak tahu. Jika aku pulang agak terlambat karena harus menyelesaikan laporan ke kepala bidang pun dia dengan sengaja menelpon ke kantor. Aku tidak tahu persis apa yang ingin diketahuinya, tapi mungkin dia hanya memastikan bahwa aku tidak bersama wanita manapun dikantor. Aku membiarkan semua hal yang dilakukannya meski aku mulai sedikit risih dengan hal-hal yang menunjukkan rasa penuh kecurigaan itu.

Barangkali dia sudah lelah dengan semua sikap dan perilakuku terhadap dirinya. Ketika kutemui dia dikamar, wajahnya begitu muram. Meski aku tak terlalu mengenalnya, tapi aku tahu perilakunya itu tak biasa. Mungkin saja dia sedang marah. Inilah kemarahannya. Sebetulnya aku tidak ingin mengajaknya bicara namun dia sendiri justru yang memulai pembicaraan kami malam itu. Percakapan melelahkan yang membuat aku mengakui perasaanku yang sebenarnya.
Matanya mulai merah dan sembab, aku die telah menangis dan kini dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air mata itu lagi.
Dengan suara serak, ia berusaha berteriak. “Siapa wanita bernama Lisa itu?”
Aku diam saja.
“Aku mendengar kau sebut-sebut nama itu ratusan kali dalam tidurmu! Katakan siapa wanita itu!”
Aku tetap diam saja.
“Hampir tiap malam kau mengigau menyebut L-I-S-A!” katanya dengan suara nyaring. “Siapa wanita itu? Katakan padaku siapa gadis itu!” tambahnya sambil disertai isak tangis.
“Lisa itu Melisa, wanita dalam imajinasimu, wanita dalam novelmu”
“OMONG KOSONG! Wanita itu tidak nyata!”
“Tapi dia nyata bagiku!” teriakku. “Dia sangat nyata bagiku! Dia hidup! Aku begitu mendambakan wanita itu hidup dalam mimpiku selamanya! Aku begitu memimpikan gadis itu”
“Bohong!”
“Aku tidak bohong! Dan aku tidak pernah berbohong!” kataku sambil menatapnya “Seandainya kau ingin aku jujur. Aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya mencintai karya-karyamu, tulisan-tulisanmu, puisi-puisimu, cerpen-cerpenmu, novel-novelmu, juga Melisa atau L-I-S-A!”
Sejenak dia hanya terdiam mendengar kata-kataku.
“Itukah perasaanmu padaku selama ini?”
“Yah” jawabku dengan tegas. “Maafkan aku”
Dia kembali menangis dan pergi ke ruang baca. Disana dia terus menangis. Hingga suara tangisnya yang begitu sendu memecah keheningan malam setelah pertengkaran mulut yang terjadi diantara kami, pertengkaran mengenai Melisa dan perasaanku yang sebenarnya. Dia tidak kembali lagi kekamar sampai tengah malam. Bahkan malam itu, ketika aku bertemu dengan Melisa dalam mimpiku, dia juga terlihat begitu sedih. Seolah-olah dia akan pergi jauh dan tidak kembali. Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya tidak sedih. Namun Melisa tetap sedih bahkan dia menangis. Aku pun begitu sedih melihat dia menangis. Aku tak mampu berkata-kata. Aku terus menghiburnya. Hal yang aku inginkan hanya melihatnya tersenyum seperti biasanya, hanya hal itu yang paling aku harapkan dari mimpiku yang singkat ini agar mimpi ini tidak menjadi mimpi terburuk dalam hidupku.
Kali ini yang membangunkanku bukan lagi suara-suara wanita itu atau istriku. Melainkan cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela-jendela kamarku. Aku lihat jam dinding yang ada dikamarku. Sudah pukul sembilan, pikirku. Aku segera bangkit dari tempat tidurku. Hari ini aku memutuskan untuk tidak berangkat kerja. Perasaanku terhadap Melisa dalam mimpi begitu mempengaruhiku. Dia terlihat begitu sedih. Sungguh mimpi yang sangat buruk. Namun kali ini aku telah kembali ke dunia nyataku.
Aku mencari-cari wanita itu atau istriku. Mungkinkah dia meninggalkanku setelah kejadian semalam? Aku mencarinya kesetiap ruang rumah kami. Kali ini aku periksa lemarinya. Aku pastikan kali ini, dia benar-benar telah pergi.


Hari ini, aku hanya ingin diam dirumah dan menunggu malam tiba. Aku menunggu saat yang tepat untuk bertemu dengan Melisa. Biarkanlah istriku meninggalkanku asalkan Melisa tetap hadir dalam mimpi-mimpiku. Sesaat malam tiba. Aku tenggelam dalam kasurku. Kini aku tidak lagi membagi kasur ini dengan wanita itu atau istriku. Aku berharap mimpi itu datang, bersama dengan datangnya Melisaku tersayang. Namun sungguh sangat membuatku kecewa. Malam ini Melisa tidak bisa datang dalam mimpiku. Sungguh menyesakkan. Apa yang telah terjadi padamu. Oh, Melisaku tersayang?
Ketidakhadirannya dalam mimpiku membuatku terbangun. Hanya sekilas wajahnya yang terlintas dalam benakku, saat terakhir kali aku bertemu dengannya. Saat-saat dimana dia terlihat begitu sedih. Aku mencintai Melisa. Kekasihku yang hidup dalam kata-kata. Wanita hasil imajinasi istriku. Wanita yang ada dalam novel hasil karya isteriku. Aku begitu mencintai tulisan-tulisan isteriku. Sekali lagi hanya tulisan-tulisannya bukan pribadinya. Sungguh aneh, tapi memang begitulah.


Berhari-hari sudah aku jalani kehidupan tanpa Melisa dalam mimpi-mimpiku. Dia tidak pernah kembali setelah malam itu, begitu pula wanita itu atau isteriku. Melisa pergi tepat disaat isteriku pergi. Sepulang kerja tidak adalagi masakan diatas meja makan. Ketika malam tiba, tidak ada lagi wajah lugu milik Melisa. Aku pun tak pernah lagi mendengar bunyi gerakan jari-jari yang menghentak-hentak pada tuts-tuts keyboard laptop. Aku juga tak pernah melihat senyum Melisa atau cerita-cerita magis dalam mimpiku seperti dulu. Hatiku begitu sakit merasakan semua itu. Seolah-olah sebuah anak panah ditusukkan tepat mengenai dadaku. Begitu sakitnya sampai membuatku menangis setiap malam. Sampai aku sadari satu hal. Aku tak hanya merindukan Melisa, tetapi juga wanita itu atau istriku. Penyesalan itu datang seiring dengan adanya bisikan-bisikan, ketika engkau mencintai sesuatu maka engkau juga harus mencintai sang penciptanya.
Aku pun menangis. Kali ini aku benar-benar menangis. Aku tak hanya mencintai tulisan-tulisannya, puisi-puisinya, cerpen-cerpennya, novel-novelnya, ataupun Melisa tetapi aku juga mencintai isteriku. Aku menyesal, menangis, dan patah hati.

01:04
Y. 07. 04. 10

Kamis, 18 Maret 2010

Secangkir Cinta dan tentang Kota Wina, di Austria


Kamu ingat, sebuah negeri di sebelah barat negara Swiss. Negeri itu bernama Austria. Sebuah negeri yang kecil memang. Namun begitu menawan, penuh dengan keindahan nuansa seni yang begitu tinggi. Yang paling aku ingat tentang negeri ini adalah kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart pada tanggal 27 Januari 1756 di Salzburg, tentang lahirnya Adolf Hitler sang diktator, juga tentang kelahiran Johann Strauss pencipta musik-musik Walza. Hm, Austria memang memiliki sejarah yang panjang.
Kamu adalah orang yang membuatku sangat terkesan dengan Austria. Gara-gara kamu, aku selalu memimpikan tentang Autria. Aku bergaya di depan monument Carlzu Schwarzeberg, kemudian aku berjalan diantara jalanan Rennwerg menuju Ringstrasee, Wina. Atau mungkin bernostalgia merasakan ‘indahnya’ musik Strauss sambil menyusuri sungai Donau, sebuah sungai terpanjang kedua di Eropa.
Kenapa aku begitu bahagia membayangkan indahnya Austria, walaupun sebenarnya semua itu tak seberapa indahnya. Aku sendiri pun, waktu itu belum mengerti betul tentang Austria, aku tahu betapa indahnya Austria, semua itu gara-gara kamu.
Konon katanya, Austria telah berpenghuni sejak awal zaman Palaolithic dan nama kota Wina berasal dari Vedunia yang sejak tahun 2000 SM sudah didiami suku Kelten, bahkan pada abad XV SM, daerah sekitar sungai Donau dikuasai bangsa Romawi dibawah Kaisar Agustus. Sejauh itukah kamu dan aku tahu tentang Austria. Aku sudah tak ingat lagi yang lain, yang aku ingat hanyalah tiga hal terindah; Aku, kamu dan Austria.
Mungkin orang-orang boleh bicara tentang cinta. Indahnya cinta, perihnya cinta, sakitnya cinta, dan segala-galanya tentang cinta. Tapi bagiku cinta adalah aku, kamu dan Austria. Entah mengapa aku begitu terpesona padamu. Begitu butanya aku tentang mu.
Awalnya, aku sendiri tak peduli tentang cinta. Tapi itulah kamu, yang selalu membuka ruang baru dalam duniaku dan mengenalkan aku tentang Austria juga tentang cinta. Mungkin saat ini aku terlalu meninggikanmu, dengan semua omong kosongku tentang cinta tapi ini semua memang omong kosong. Kita sedang bersandiwara dalam mengungkapkan isi hati, penuh dengan kepalsuan. Jangan pernah memungkiri hal itu. Cinta itu hanya sebuah perasaan, sedangkan kamu adalah alasan mengapa cinta itu ada, bersama semua kenangan manis tentang kota Wina di negeri Austria.
Ketika aku mencoba mengingat kembali tentang sebuah jalan yang dikenal dengan nama Ringstraſse. Sebuah jalan sepanjang 6,5 km dan itu merupakan jalan melingkar, mengelilingi kota Wina. Katanya sih, ini merupakan sebuah pagar benteng bagi kota Wina. Akupun kembali teringat cerita cinta yang kau beri judul secangkir cinta. Kamu ibaratkan cinta itu dengan jalan melingkar itu. Ah, semuanya benar-benar tentang Austria. Bagaimana bisa kau tahu sebanyak itu tentang Austria?
Kamu juga bercerita kalau Franz Ferdinand, putera mahkota kerajaan besar Austria yang diculik dan menjadi salah satu penyebab meletusnya perang Dunia ke I. Pada tahun 1300 M, ia datang ke Indonesia dan membeli keris pangeran Diponegoro. Waktu itu aku tertawa, tak percaya dan menganggap semua itu hanya sebagai lelucon. Namun kamu marah dan berkata kalau cerita itu benar, bahkan keris itu masih tersimpan dengan rapi di museum FÜr Vörkerkunde (museum Etnologi) di Wina. Akhirnya aku percaya. Aku berhenti tertawa dan aku meminta maaf kepadamu. Seandainya saja kamu tahu, aku selalu percaya padamu sebelum kamu menyuruhku untuk percaya padamu, aku telah jauh mempercayaimu…melebihi dari yang kamu sadari.
Namun segalanya berubah.
Kadang segala sesuatu yang kita mimpikan tak seindah dengan yang terjadi pada kenyataan. Aku masih betul-betul ingat kejadian yang membuatku begitu merasa bersalah padamu.
Ketika itu bulan Desember, dimana hujan turun dengan sangat deras. Tiba-tiba kamu menelponku dan mengajakku untuk menonton film musikal, The Sound of Musik. Sebuah film yang menceritakan tentang kehidupan keluarga Kapten Von Trapp. Setting film ini di Salzburg, sebuah kota yang sangat indah di Austria, yang juga terkenal dengan lukisan-lukisan dan arsitektur indah yang ada di beberapa katedral di Salzburg. Awalnya aku enggak tertarik, karena waktu itu hujan sangat deras dan jujur aja, aku enggak begitu suka dengan film-film seperti itu, tapi kamu memaksa dan akhirnya aku mau, dengan syarat kamu mau menjemputku. Kamu setuju dan akan menjemputku sepuluh menit lagi, tentu saja dengan vespa kuningmu itu.
Kalau menggingat vespa kuningmu itu, aku jadi pengen ketawa. Kebayang nggak sih, gara-gara vespa kuningmu itu. Setiap kali kamu ngeboncengin aku, semua orang yang ada dijalanan tuh pada ngeliatin kita dengan wajah yang, duuuh…so what banget deh! Tapi kamu nggak peduli dan tetep aja bangga dengan vespa kuningmu, yah itulah sifat yang paling aku suka dari kamu. PD banget, polos dan sama sekali nggak peduli dengan apa kata orang, selama kamu enggak ngebuat kesalahan yang fatal, kenapa mesti diomongin? Kenapa mesti dimasalahin? Kenapa mesti diributin? dan menurutku itu bener banget.
Saat itu, aku sudah menunggumu lebih dari lima belas menit. Aku pikir kamu telat karena ada trouble dengan vespa kuningmu itu, jadi yah…aku mencoba tetap sabar aja. Tapi lama kelamaan, jam tanganku ini udah nunjukkin lebih dari dua jam aku nunggu kamu dan kamu belum datang-datang juga. Jelas aja aku kesel banget. Jarak antara rumah kamu dan aku tuh cuma sepuluh menit kalau ditempuh pake vespa. Tapi ini, sudah dua jam lebih belum nyampe juga, jujur aja, waktu itu aku bener-bener ‘kesel’ banget dan aku pun coba buat nelpon ke rumah mu tapi hasilnya, nihil. Sama sekali enggak ada yang ngangkat. Ya sudah! Aku batalin acara ini, aku naik ke kamar dan tidur. Maklum, buat aku tidur adalah solusi yang paling tepat untuk menanggulangi rasa kekesalanku ini, karena kalau udah bangun ‘kan jadi lupa ama segala macam masalah. Dan akhirnya aku pun tertidur, pulas banget.
Tiba-tiba dua jam kemudian, aku terbangun dengan bunyi telepon. Aku angkat telepon itu, dan ternyata dari temenku. Kamu tahu nggak apa yang dia katakan? Dia mengatakan kalau kamu tabrakan. Kamu tabrakan dengan mobil di tikungan jalan Pandanaran, dan jalan itu cuma dua puluh meter dari rumahku. Oh my God! Betapa bodohnya aku! Kenapa bisa aku sama sekali enggak ngedenger bunyi ambulans atau feeling sesuatu pun tentang kamu. Malahan aku ngomel-ngomel enggak jelas dan kesel ama kamu, karena kamu sama sekali nggak datang ke rumahku. Trus aku malah tidur dengan pulas sementara kamu… aku bener-bener stupid!
Aku langsung cabut pergi rumah sakit tempat kamu dirawat. Tapi, sayangnya aku udah telat. Kamu sakit terlalu parah. Kepalamu terbentur trotoar dan kamu lupa, kalau kamu sama sekali enggak pake helm. Kamu hanya pake jas hujan. Celakanya lagi, ambulans terlambat datang karena memang waktu itu hujan turun deras banget. Aku menangis. Kenapa akhirnya malah kamu yang pergi begitu saja?
Semua ini bener-bener ninggalin seribu pertanyaan dan penyesalan buat aku.
Inilah akhir dari semuanya, kamu pergi meninggalkanku dengan semua kenangan cerita-ceritamu tentang Austria. Tapi bagiku semua ini bukan lagi sebuah kenangan. Mimpiku yang kamu ciptakan itu, semuanya telah aku ubah menjadi kenyataan. Kini aku berhasil bergaya di depan monument seorang prajurit penunggang kuda Carlzu Schwardenberg, berjalan di dekat sungai Donau, merasakan angin kota Wina, merasakan masakan khas Austria dan mendengarkan musik-musik Strauss. Hanya saja, mungkin bagimu masih tetap menjadi kenangan.
Kenapa akhirnya aku menikmati kota Wina ini sendiri? Padahal ini adalah impianmu, ini adalah mimpimu, ini adalah obsesi hidupmu dan bermacam-macam harapanmu. Tapi kenapa akhirnya semua ini jatuh padaku? Apakah ini yang disebut dengan takdir?
Jika benar ini sebuah takdir, aku hanya bisa pasrah dan terdiam.
Kini aku menangis. Selama ini, kamulah yang membuatku bahagia, bukan kota Wina ataupun negeri Austria, karena aku telah berdiri disini, di Wina. Namun entah mengapa aku masih tetap menangis, padahal aku begitu mencintai kota ini. Ternyata aku salah, aku keliru. Aku begitu naïf untuk mengakui kamulah yang membuatku bahagia.
Bagiku, kota Wina itu adalah sebuah cangkir dan kamu adalah cinta. Jadi, aku namakan ini secangkir cinta. Seperti yang pernah kamu ceritakan tentang jalan Ringstraſse itu. Sekarang ini, aku hanya akan menjadikannya sebuah kenangan, karena jalan hidupku masih panjang. Maafkan aku cinta. Bukan berarti aku akan melupakan kamu begitu saja. Kamu akan tetap selalu ada dihatiku, walaupun semuanya telah berubah. Tak lagi nyata. Tetapi bagiku kamu akan masih tetap sama.
Seandainya kamu bertanya padaku, kenapa sampai saat ini aku masih sendiri? Jawabannya adalah kamu, kamu adalah alasan mengapa aku masih sendiri dan sekarang, bolehkah aku yang bertanya kepadamu?
Kenapa harus ada cinta jika akhirnya cinta itu menyakitkan?

16: 30

DJOKDJA, 22.12.2005

cerpen tiga tahun yang lalu.
aku sengaja tulis ini buat dikirim ke majalah gadis or kawanku,tapi gak jadi,heu"kenapa majalah itu?? karena gak tahu juga sich...dulu temen-temenku seneng bget baca majalah begituan....walaupun isiny menurutku ya...
kurang cocok dgn kehidupanku..n_n'

Jumat, 12 Maret 2010

NURANI


NURANI itu begitu nyata. Menarikku menuju pintu kebahagiaan. Aku selalu menginginkan perasaan bahagia yang meluap-luap, karena dengan begitu aku merasakan kenyamanan. Namun ditengah-tengah keheningan yang menembus pada kegelapan. Aku merasakan kenistaan, kehinaan, dan kebodohan yang tiada tara. Perasaan seperti itu timbul lebih tepatnya karena aku selalu merasakan aliran darah yang deras, letupan-letupan detak jantung, dan getaran-getaran nadi seribu makhluk. Semua itu dapat aku rasakan.
Walaupun aku tak pernah tahu apa yang terjadi di dunia ini. Tapi aku dapat merasakan ada seribu hati yang hancur. Menangis dalam diam. Tersenyum dalam perih. Aku selalu menangis setiap kali aku merasakan perasaan itu. Apa dayaku? Aku hanya bisa duduk diatas kursi. Mulutku diam pula, penuh dahak yang tak tertelan dan tak terluntahkan. Gerutu itu! Terus terdengar, seolah-olah seperti kaki-kaki yang menghentak-hentakan ke tanah. Aku merasa sakit. Aku bingung. Padahal semua itu tidak terjadi padaku. Aku diam disini. Tenang. Tidak disakiti, tidak dikhianati, tidak dihina, dan tidak disiksa. Tapi, sekali lagi aku merasakan, ada seribu hati yang merasa disakiti, merasa dikhianati, merasa dihina, dan merasa disiksa. Aku bingung. Gerutu itu lagi! Aku merasakannya. Namun aku tak mendengarkannya. Lantas apa lagi yang terjadi padaku? Aku Bingung. Gerutu itu lagi!
***
Kadang kala aku pun menerka tentang fenomena-fenomena alam yang ada disekitarku. Seperti, ketika udara menjadi semakin dingin. Aku tahu ini pasti ‘malam’ dan itu pasti gelap. Jadi setiap ‘malam’ itu pasti dingin dan gelap, mudah sekali untuk dipahami. Aku membagi hari itu menjadi tiga. Jika hari menjadi sangat dingin, itu berarti ‘malam’. Kalau sudah tidak begitu dingin, maka aku menyebutnya dengan ‘pagi’, tetapi kalau hari menjadi sangat panas aku menyebutnya ‘siang’. Aku mengetahui istilah-istilah itu dari suara-suara disekelilingku. Kadang suara-suara disekelilingku itu baik. Tapi, tak sedikit pula yang buruk.
Sehari-hari aku selalu habiskan dengan duduk di kursi. Menikmati hari. Karena hanya itu saja yang dapat aku lakukan. Aku mengetahui bahwa segala sesuatu yang ada disekelilingku ini berbeda, hanya karena aku dapat merasakannya. Aku dapat menyentuhnya. Meraba. Kemudian berpikir hingga aku paham. Aku tak seperti manusia lainnya yang ‘normal’. Dulu perasaan gelisah ibu dan ayahku ketika aku lahir pun sangat terasa menusuk-nusuk kedalam hatiku. Perih rasanya, tak ada senyum kebahagiaan yang menyambutku saat aku menyongsong dunia. Jadi, aku sama sekali tak menangis, tak perlu.
Aku memang terlahir cacat. Itulah sebab kegelisahan yang menghantui ibu dan ayahku. Mereka malu. Aku tak peduli. Akhirnya mereka membuangku ke sebuah desa kecil bersama pengasuhku, Laksmi. Aku biasa memanggilnya mbok Laksmi. Wanita tua yang sudah berumur lebih dari setengah abad, namun baik hati. Sekali lagi, aku tak peduli dengan keputusan kedua orang tuaku. Aku senang hidup di desa. Tenang. Menikmati angin, mendengarkan suara-suara merdu suaka, gemercik air, dan ilusi kedamaian yang begitu kuat menyentuh batinku.
Hingga suatu hal aneh terjadi pada diriku..
Aku berumur lima belas tahun waktu itu. Hawa yang sangat dingin menyelimuti tubuhku. Perasaan ketakutan yang maha dahsyat terus menyelubungi pikiranku. Aku bingung. Ada apa ini? Perasaan apa ini? Aku mencoba menenangkan perasaanku namun aku tak tahan. Aku berteriak. Memanggil-manggil mbok Laksmi. Tak ada jawaban. Kemana dia? Perasaan itu muncul lagi. Begitu kuat dan dekat. Aku yakin ini tidak terjadi padaku. Aku diam disini. Lalu apa? Siapa yang mengalami peraasaan seperti ini? Kenapa aku harus merasakannya? Beribu pertanyaan terus menghampiriku. Aku berhenti merintih. Hawa dingin itu sedikit demi sedikit pergi meninggalkan tubuhku, tapi rasa sakit yang luar biasa masih terasa. Setelah semuanya pergi. Aku merasakan kejanggalan. Entah apa? Aku juga binggung. Aku meraba-raba menelusuri tembok rumahku, sambil berteriak memanggil mbok Laksmi. Kemana ia? Biasanya dia di dapur. Tapi kenapa begitu sepi, nyaris tak terdengar suara apapun.
Aku terus mencari mbok Laksmi. Tiba-tiba sesuatu menyentuh kakiku. Tubuh siapa ini? Dari baunya, aku tahu ini pasti tubuh mbok Laksmi. “Mbok Laksmi! Mbok Laksmi!” Tubuhnya sangat dingin. Sedingin hawa yang tadi menyelimuti tubuhku. Ada apa ini?
***
Mbok Laksmi meninggal.
Pada akhirnya kedua orang tuaku membawaku ke ‘kota’, setelah lima belas tahun aku tak pernah datang ke ‘kota’. Aku pun kembali menjamah tempat ini. Sungguh asing bagi seluruh panca inderaku. Hawa yang panas membuat seluruh tubuh serasa terbakar. Ini melebihi siang. Hawa dingin begitu mencekam. Ini juga melebihi malam.
Aku masih tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Perasaan takut, suasana suram, pesakitan dan tangisan. Membuatku semakin bingung.
Kejanggalan-kejanggalan itu semakin nyata. Aku dapat merasakan yang sepertinya ‘tidak’ orang lain rasakan. Perasaan batin yang begitu dalam dari manusia-manusia yang disakiti, disiksa, dihina, dan dikhianati. Aku buta, tapi perasaan batinku tidak mati. Orang tuaku yang mengajarkan kebencian sejak dalam kandungan. Kini aku mengerti. Betapa terlukanya aku terhadap mereka.
Aku merasa lukaku ini akan tetap menganga, aku hanya diam di tempat ini. Tak lagi aku merasakan harumnya bunga-bunga dan pepohonan. Aku memaksakan untuk tetap mengerti keadaan ini. Sulit bagiku untuk mengerti semua yang terjadi disekitarku. Saat ini juga sulit bagi inderaku untuk mengetahui kapan itu malam? Dan kapan itu siang? Waktu menjadi sangat kabur.
Suatu saat tubuhku kembali merasa sangat kedinginan. Walaupun aku tak merasakan sedingin ketika aku kehilangan mbok Laksmi, mbok Laksmiku yang malang. Tapi tetap saja seluruh tubuhku merasakan hawa dingin yang berbeda. Mungkinkah ini malam? Tanyaku dalam hati. Ini semua begitu berbeda. Kesendirian dan ketakutan.
Aku menangis. Semakin lama tangisanku ini semakin meraung dan meraung. Ibu datang menghampiriku. Mencoba menyadarkanku. Memanggil-manggil namaku. Ia mengira aku kesurupan atau semacamnya. Aku merasakan kehilangan. Aku tak pernah tahu, apa salahku? Kenapa aku ada ditempat ini? Bau tak sedap dan menjijikan! Apakah ini hanya perasaan? Tapi ini memang hanya sebuah perasaan. Siapakah yang terbuang? Ditengah malam seperti ini? Dosa apakah yang membuatnya terbuang?
Aku masih terus menangis dan menjerit. Kali ini ibu menamparku berkali-kali karena tangisanku tak juga berhenti. Aku seperti orang gila saat ini. Aku tak pernah bisa mengurai benang merah dari segala perasaanku ini. Semua terjadi begitu saja diluar kesadaranku. Perasaan itu datang dan pergi. Aku tak pernah sedikit saja mengharapkannya untuk ada. Kadang membuatku sangat ketakutan, khawatir dan resah.
Ditengah kebuntuan semacam ini. Ada satu hal lagi yang belum juga aku mengerti walaupun semuanya membuatku kembali tersadar. Ketika aku tertidur. Aku bisa melihat semuanya. Seolah-olah mataku ini terbuka. Ibarat aku ada. Lantas apa arti kebutaanku ini? Jika dalam mimpi aku ’melihat’. Juga tentang perasaan-perasaan yang aku rasakan. Perasaan itu berasal dari seorang bayi. Aku melihat semuanya. Ia menangis kedinginan dan ketakutan diantara sampah-sampah. Menangis meraung-raung, persis seperti apa yang aku lakukan. Maka ketika seorang pemulung mengangkatnya, memeluk dan memberikannya kehangatan. Aku pun merasakan hal yang sama. Perasaan iba kepada bayi itu begitu nyata aku rasakan.
Bumi ini menjadi fenomena lain pula yang aku rasakan. Kadang aku muncul dalam mimpiku. Melihat bumi tersakiti dan menangis. Tanpa ada seorang pun. Aku lari sejauh apapun dan berteriak sekeras apapun. Memohon bantuan. Tak ada seorang pun yang muncul? Ampun tuhan! Dosa macam apa lagi yang diperbuat oleh manusia-Mu di dunia ini? Di bumi-Mu ini! Kenapa bumi menjadi sangat menderita atau bahkan ’sakit’? Kali ini aku memang langsung paham dengan mimpiku. Bumi sedang tersiksa. Penyakit-penyakit manusia kian menjadi-jadi. Hal ini membuat aku menjadi semakin sedih dan tersiksa. Aku merasakan tapi apa yang bisa aku perbuat dengan semua yang aku rasakan. Kemana manusia-manusia? Apa yang mereka lakukan?.
Peristiwa demi peristiwa pun aku alami. Semua ini menjadikan aku sadar akan diriku. Inilah aku. Merasakan apa yang orang lain sulit untuk rasakan. Aku buta tapi nuraniku tidak buta. Inilah yang membuatku merasa sangat bahagia. Aku tidak dijadikan sebagai makhluk yang munafik. Aku dapat berbagi penderitaan dengan alam. Meski kadang semua itu membuat aku sedih. Merasakan penderitaan mereka. Tapi ini jauh lebih baik daripada mengaku melihat dan memiliki nurani tapi sesungguhnya mereka buta dan tak bernurani.
Aku adalah korban keegoisan manusia. Begitu pula bumi. Kami tak begitu berbeda. Meredam asa dan amarah. Aku pun sangat memahami bumi. Seolah-olah nurani kami menyatu. Tapi dibalik semua itu, apa daya kami? Kami percaya akan janji Tuhan dan kami percaya Tuhan tidak diam. Bahkan aku pun percaya, masih ada manusia-manusia yang memiliki nurani dan merasakan, apa yang kami rasakan.
Mungkin sekali lagi. Tuhan tidak diam.
Wallahu’alam bishshawwa-b


Y.27.10.08