Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Maret 2014

Happy Birthday to me

FACT: The average life expectancy in Indonesia for a female is 74.59 years that means I have about 51.59 years left.

You know considering I want to LIVE on every continent in the world, SPEAK another language fluently, CLIMB Mountains, live in the moment, fall in love like really in LOVE, MARRIED and meet my grandchildren, read more Tolstoy and Chekov because their stories are ART, WRITE a book and get it published, take more pictures because pictures of adventures with friends is JOY simple as that, RELAX and not stress about my career, create my own business that provides FAIR TRADE to disadvantaged communities, should I start business? live socially and environmentally responsible because PEOPLE and the ENVIRONMENT MATTER, read Adam Smiths A Wealth of Nations, meet TAYLOR SWIFT and tell her that her voices isn’t so good but I love her music, be a part of my family and cherish their kindness more, build and strengthen relationships with people with I love because YOU guys are EVERYTHING to me, smile everyday to everyone, go scuba diving on the EAST PART OF INDONESIA, talk, converse, laugh, cry, joke, debate, with good friends because the best part of life is people and the connections you create with them….. And much, much, much more

In that case I better get living


Happy Birthday to me.
M.
Yogyakarta, March 2014

Sabtu, 15 Februari 2014

The Red Thread of Fate

X  : Gimana kalau suatu hari dia menikah dengan wanita lain?
M : Ya bukan jodoh.
X  : Kamu?
M : Mungkin dijodohin.
X  : Yakin, kamu bakalan bahagia?

Ah, a very short conversation that you can't forget is coming again. Which is makes me smiling and feeling so funny.

I don't know the answer too. I place my heart in Hand of Allah but then He is introducing me with great man. I feel my heart jumping and beat so fast like-butterfly flapping their wings every time I meet him. Suddenly, I fall in love with him by no reasons. Everything happens so fast. I was lost my counting days. I missed my skepticism about relationship.

I remember, once time someone told me about the red thread of fate: the two people connected by the red thread are destined lovers, regardless of time, place, or circumstances. This magical cord may stretch or tangle, but never break. 
It is your fate that makes you happy, not how you meet him or the way you meet with him. I feel like, finally, I meet with end of my red thread of fate. So, I decided to growing old with him  for the entirely of my life...



always, 
M. 
Yogyakarta , A Sunny day in February 2014.

Sabtu, 18 Mei 2013

Membaca Kota Melaka: Napak Tilas Kolonialisme Bangsa Eropa

Dalam setiap perjalanan itu selalu ada cerita dan wawasan baru yang menarik. Tak peduli seberapa singkatnya perjalanan itu. Saya beruntung bisa kembali mendatangi Melaka dan kali ini mempelajari lebih dekat tentang Kota bersejarah ini. Banyak hal menarik yang saya temukan. Tempat ini menyimpan masa lalu bangsa Asia Tenggara; potret kolonialisme bangsa Eropa. Tentang kenyataan adanya penjajahan terhadap bangsa Asia di masa lampau dan bukan hanya sekedar cerita-cerita yang pernah kita baca di buku-buku sejarah. 

Dulu saya sering mendengar nama Kota Melaka lewat buku-buku sejarah ketika di bangku SD atau SMP. Kota Melaka merupakan salah satu pelabuhan terpenting di kawasan Asia Tenggara pada zaman kolonial (sekitar abad ke 15), sebab merupakan tempat dimana kapal-kapal Portugis, Belanda dan Inggris transit sebelum akhirnya menuju pelabuhan-pelabuhan lain di wilayah Asia Tenggara. Selat Malaka sendiri hingga kini merupakan salah satu jalur pelayaran penting di dunia, sama pentingnya seperti Terusan Suez atau Terusan Panama. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga dari negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia: India, Indonesia dan Republik Rakyat Cina. 


pemandangan di Melaka (courtesy ICRS)
Melaka merupakan salah satu provinsi terkecil ketiga di Malaysia setelah Penang dan Perlis. Pemerintah setempat menjadikannya sebagai kota sejarah bahkan UNESCO telah menetapkannya sebagai salah satu World Heritage Site sejak tanggal 6 Juli tahun 2008. Hal itu karena kota ini memang menyimpan banyak hal-hal penting bersejarah terutama tentang masa Kolonial di kawasan Asia Tenggara. 

*** 

Pesawat kami mendarat sekitar pukul 20.00 waktu Malaysia (satu jam lebih awal dari WIB), 1 jam lebih lambat dari yang kami perkirakan. Rencana semula saya dan teman-teman ICRS ingin menikmati makan malam di Jonker Street, salah satu tempat kuliner di Kota Malaka. Namun rencana tersebut batal karena pesawat yang delay, maka malam itu kami harus puas menikmati menu nasi lemak dan ayam panggang di Bandara LCCT. Perjalanan yang harus kami tempuh dari LCCT ke Melaka sekitar 2 jam lebih. Sepanjang perjalanan toko-toko sudah mulai tutup dan jalanan terlihat sepi. Kami pun akhirnya tiba di kota Melaka sekitar pukul 22.00. 

Keesokan harinya, saya sempat berjalan-jalan menikmati kota Melaka, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Stadhuys (dari kata State House atau Kantor Pemerintahan), semua bangunan disini ini sengaja di cat merah, konon hal ini karena kebanyakan etnis yang tinggal di tempat ini adalah orang-orang India, mereka gemar memakan atau mengunyah sirih kemudian membuangnya di sembarang tempat, untuk menutupi kotoran sirih tersebut kemudian orang-orang sekitar mencat seluruh bangunan dengan warna merah. 

Queen Victoria Fountain, Jam Gadang dan Dutch Square

Sedikit kearah barat terdapat Dutch Square, sebuah taman dengan kincir angin buatan nampak berdiri elok, diseberangnya sebuah tugu berukuran besar yang sekilas mirip Jam Gadang di Bukittinggi, Sumatera Barat. Terdapat pula air mancur yang diberi nama Queen Victoria Fountain tegak berdiri indah. Ketika saya tiba disana, Air mancur tersebut baru saja dinyalakan. Tugu air mancur ini sendiri dibangun pada tahun 1901 oleh Inggris ketika berada di Malaysia. tempat ini banyak membangkitkan imajinasi saya tentang zaman-zaman kolonial. Sangat terlihat bahwa Kesultanan Melaka saat itu cukup kooperatif dengan para pendatang. Simbol-simbol budaya Asia dan Eropa juga ditemukan dimana-mana seolah-olah di tempat ini telah bertemu orang-orang dari penjuru dunia seperti Kincir Air Belanda, Kapal Portugis, Gereja gaya Eropa, Pemakaman Cina, Jejak-jejak Laksamana Cheng Ho dan lain sebagainya. 

Disekitaran Malaka

Dari Jl. Merdeka, saya melanjutkan lagi perjalanan ke Portugese Wall, sebuah replika benteng Portugis. Disini saya menemukan kampanye unik anti perdagangan organ ilegal di Cina. Sebuah koran berbahasa Cina sengaja ditinggalkan secara gratis. Tentu saja saya tidak mengambilnya, karena sudah pasti saya tidak bisa membacanya. Isu perdagangan organ di Cina sempat terdengar santer di tahun 2009, tak menyangka bisa menemukan kampanye isu tersebut hingga sekarang. 

Museum Samudra merupakan replika dari ‘Flora de La Mar’, sebuah kapal Portugis.

Pemandangan di dalam the Maritim Museum atau sering disebut juga Musium Samudra

Selanjutnya saya menuju ke kawasan the Maritime Museum.Tempat ini unik karena berbentuk kapal dan merupakan replika dari ‘Flora de La Mar’, sebuah kapal Portugis yang tenggalam di lepas pantai Melaka saat dalam perjalanan ke Portugal dan membawa barang-barang jarahan dari Melaka. Kapal ini berukuran 34 meter, 36 meter panjang dan lebarnya 8 meter. Di dalamnya terdapat benda-benda terkait dengan peralatan kapal seperti senjata, mata uang, diorama momen penting di Malaka, replika cabin kapten kapal dan ada juga replika kapal-kapal yang pernah datang ke Malaka. Disini pula saya dapat memahami perbedaan bentuk dan ciri khas dari setiap kapal Portugis, Inggris, Belanda ataupun India. 

Dataran Sungai Melaka

Di dataran sungai Melaka sebelah barat Kincir Air Melayu, dibangun tempat jalan kaki pinggiran sungai yang terbuat dari kayu. Di sana disediakan bangku-bangku sehingga bisa menikmati pemandangan sepanjang sungai dan pantulan bayangan bangunan hotel Casa del Rio yang cukup indah dan romantis. Suasana ini tidak nampak seperti Asia, terkesan seperti berada di pinggiran Kota Kanal. Melaka sebetulnya mirip dengan Stasiun Kota Tua Jakarta, seandainya pemerintah Jakarta mau lebih serius, mungkin bisa ditata lebih indah dan bersih daripada Kota Melaka.

Melaka River Cruise

Beberapa pemandangan selama menyusuri Sungai Melaka
Saya juga sempat menikmati Melaka River Cruise dengan kapal Memee no. 26, kami menyusuri sungai Melaka. Pemandangan di kanan-kiri cukup menarik. Bangunan rumah-rumah gaya kuno masih tetap dijaga nilai historisnya, selain itu warga setempat juga menghiasinya dengan lukisan dinding (graffiti) yang memiliki nilai seni khas setempat. Sungai Melaka juga dibiarkan natural tetapi dijaga kebersihannya. Beberapa tempat dipinggiran sungai sengaja ditanami Mangrove yang menjadi tempat sarang Biawak. Saya sempat melihat beberapa ekor biawak diantara batang dan akar Mangrove. Sepanjang sungai kami juga melewati berbagai macam jembatan seperti Jambatan Hang Tuah, Jambatan Pasar, Jambatan Kg. Jawa, Jambatan Tan Kim Seng, dan Jambatan Old Bus Station. 

Arsitektur Istana Kesultanan Malaka (Sultanate Palace) berupa Rumah Panggung

Di dalam kompleks Istana Kesultanan Malaka

Di kompleks Istana Kesultanan Malaka (Sultanate Palace) sendiri merupakan replika istana Kesultanan Melayu, bangunan museum ini mirip sekali dengan rumah panggung yang ada di Sumatera. Hal ini semakin membuat saya sadar bahwa Malaysia dan Indonesia benar-benar berasal dari satu rumpun yang sama. Selain itu ada beberapa bangunan peninggalan Portugis yang letaknya mengelilinginya. Yang paling terkenal adalah Benteng A Famosa, nama itu berasal dari kata Fortaleza de Malaca berarti Kubu Malaka atau Benteng Pertanahan Malaka, merupakan benteng pertahanan yang dibuat oleh Portugis setelah menaklukkan Malaka pada tahun 1511. Mereka menawan masyarakat setempat dan menyuruh secara paksa untuk membangun benteng tersebut. Bahan dasar bangunan tersebut diambil dari runtuhan masjid dan bangunan-bangunan sekitar lainnya. 

A famosa dan Reruntuhan Gereja St. Paul

Selain benteng, di kompleks ini bisa ditemui juga reruntuhan gereja tua yang sudah tak lagi terpakai, Gereja St. Paul. Di sebelah gereja ini ada kompleks pemakaman peninggalan Belanda, sementara kompleks kesultanan dikelilingi oleh gereja, benteng dan kuburan Belanda karena Melaka adalah bekas jajahan Inggris, Belanda dan Portugis. Seolah-olah untuk mengekang kekuasaan pihak Istana Melaka mereka mendirikan semacam fortless border di sekeliling istana, berupa benteng, kuburan dan Gereja. 

Museum-museum lain di Melaka

Sebetulnya di Malaka ada beberapa tempat menarik lainnya yang belum sempat saya kunjungi seperti Dataran Pahlawan, Menara Taming Sari, dan St. Francis Xavier’s Church. Ada banyak juga museum menarik yang berkaitan dengan sejarah Melayu dan Asia seperti Museum Kastam, Museum Rakyat, Museum Setem Malaka (Mallaca Stamp Museum), Museum Melayu Dunia Islam, dan Museum UMNO.

***
Saya banyak mendapatkan pengetahuan dengan mengunjungi tempat ini, termasuk bagaimana pemerintah setempat menata dan menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata yang unik dan menarik. Kemajuan Malaysia juga tidak lepas dari bagaimana cara mereka mempelajari sejarah bangsanya. "Study the past if you would define the future", kira-kira begitulah Confucius mendefinisikan betapa pentingnya kita untuk mempelajari sejarah di masa lalu. Bangsa Indonesia juga pernah dijajah selama ratusan tahun dan kita tidak boleh lupa akan hal itu. Masa lalu bagi seorang modern adalah tempat merujuk ke arah perkembangan, sebab hal itu bagian dari proses belajar untuk terus maju dan tumbuh.


M.
Melaka, 10 Mei 2013

Sabtu, 09 Februari 2013

Membaca Perempuan Baik-Baik



“The most painful thing is losing yourself in the process of loving someone too much, and forgetting that you are special too.”
— Ernest Hemingway (Men Without Women) 



Memang tak ada yang lebih menyakitkan selain dinilai rendah oleh orang yang selama ini kita cintai diam-diam, tapi semoga saja aku hanya rendah di matamu bukan di hadapan Tuhan. Sebab aku tahu betul, aku selalu berusaha menjaga hati agar menjadi perempuan baik-baik. 

M.
Yogyakarta, Februari 2013.

Senin, 24 Desember 2012

Membaca Ng-amplaz


Ini postingan sih sebenernya bukan niat nge-posting edisi Natal, cuma aja moment-nya tepat (pas maen ke amplaz ketemu temen lama-pas ada objek unyu2 edisi natal) :D Jadi tujuan utamanya: Temu kangen ama Mega temen pas di Tsanawiyah, entah udah bertahun-tahun gak pernah ketemu, paling terakhir ketemu pas perpisahan akhir tahun ke-enam. Duh tahun 2008, tua! (>.<)
pas ngobrol-ngobrol di Taman Sari Foodcourt :D 

dan tetep foto-foto~ 

Mega ini ternyata pernah juga keliling Eropa selama tiga minggu, tujuan utamanya buat summer course di Belanda tepatnya Groningen. Semoga someday juga bisa kayak Mega, bisa jalan-jalan ke Eropa sekaligus belajar :) eh kebalik ya, belajar di Eropa sekaligus jalan-jalan, yang diinget jalan-jalannya mulu siy! (^,^)
Amiin ya Allah~


mega, santa, and I-sempet-sempetnya foto beginian :D 

foto-fotonya fokus dan maksimal ama objek yang ada XD

 di amplaz :)

with deer~

Dan yang lucu lagi malah jadi ikutan kenalan ama temen-temen SMA Mega pas di Bandung, and they're really nice people :) truz ikutan nemenin makan malem bareng di Warung SS, di Babarsari.

ama temen-temennya Mega: Nunik and Ajeng (semoga namanya gak salah :P)

dan teteup narsis XD

Have nice trip ya meg, moga kagak bosen maen ke Jogja, yang joyo ini :D
Dan buat yang merayakan Hari Natal, selamat hari raya...

Cheers~^^

M.
Yogyakarta, December 2012

Sabtu, 01 Desember 2012

Membaca: Welcome December!



Allahumma yassir wala tu’assir robbi tammim bi’khair...
O Allah, make it easy, and do not make it difficult. O Allah, make it end well...

Memulai bulan desember dengan semangat baru, 
semoga sukses ujian pendadaran, 
semoga sukses peradilan semu PLKH Hukum Perdata, 
semoga sukses interview, 
semoga ibu lebih sehat, 
semoga semua baik-baik saja.
all is well :)

M
Yogyakarta, awal bulan Desember.

Senin, 26 November 2012

Membaca Doa untuk Ibu

Mungkin tulisan ini akan seperti keluh-kesah saja. Namun izinkan aku meluapkan tentang sesal yang begitu berkecamuk dalam hati selama seminggu ini. Tentang seorang perempuan yang begitu berpengaruh dalam hidupku, Ibu. Begitu besar keinginanku untuk mewujudkan impiannya-impian kami bersama. Namun aku justru terlunta dalam bias mimpi-mimpi itu. 

Hari itu aku baru selesai kelas Hukum Perdata Internasional. Diskusi menarik selama di kelas membuatku melupakan getaran-getaran handphoneku yang sedari tadi sudah aku rasakan. Selesai kuliah aku menyempatkan diri untuk mengecek daftar pesanku, kulihat beberapa sms dan panggilan tak terjawab dari bapak. Dia berusaha mengabariku bahwa ibu masuk rumah sakit dan masih di UGD. 

...

Tak ada seorang pun di dunia ini yang senang melihat orang yang benar-benar kita cintai menderita. Melihatnya terbaring lesu tak berdaya pada ranjang besi dengan pipa saluran infus, pemandangan itu benar-benar membuat hatiku terluka. Ada semacam ketakutan besar yang mencekam dalam lubuk hatiku meski aku tak pernah ingin tahu alasan apa yang mendasarinya. Ingin rasanya ku tepis semua pikiran-pikiran buruk itu. Tubuhnya yang semakin lemah, rambutnya yang telah putih dan kulitnya yang juga telah keriput membuatku semakin menyadari bahwa ibu sudah semakin tua. Rapuh. Aku hanya bisa terdiam seribu bahasa disampingnya. Nafasnya terdengar berat dan teratur, aku benahi selimut yang membelit tubuhnya dengan acak-acakan. 


Ibu sudah berumur 62 tahun, dia berumur 40 tahun ketika melahirkanku di dunia, umur yang penuh resiko untuk melahirkan. Beberapa dokter yang ada saat itu mengatakan hal sama, namun ibu tetap istiqamah dan siap dengan apapun yang akan terjadi. Ibu mana yang tak rela berkorban demi anaknya? 

Sejujurnya, aku tak begitu dekat ibu. Kami berbincang-bincang, curhat, membicarakan banyak hal tetapi aku tak benar-benar bercerita sepenuhnya. Terkadang ada beberapa rasa yang aku pendam dan tak kuutarakan secara langsung, terutama tentang cinta. Aku begitu tertutup. Ibuku pun menyadari hal itu. Maka ketika berbicara tentang laki-laki hanya nasehat-nasehat saja tentang bagaimana lelaki yang baik itu. Sifat tertutupku tentang cinta semakin menjadi-jadi ketika tiga tahun lalu. Ibu tak merestuiku dengan lelaki yang aku pacari dan berulang kali membandingkannya dengan lelaki lain yang pernah dekat denganku sebelumnya. Aku menjadi ragu dengannya dan membuatku memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu. Alasan lain mungkin karena semenjak aku memasuki pondok pesantren di Garut. Kami tak banyak berkomunikasi. Ibu jarang sekali mengunjungiku selama enam tahun di sana, mungkin bisa dihitung berapa kali ibu sempat mengunjungiku. Padahal saat itu adalah masa-masa dimana aku tumbuh dewasa. Terkadang aku ingin marah. Rasanya seperti diasingkan. Bahkan semenjak taman kanak-kanak, ibu jarang sekali mengantarkan aku ke sekolah selayaknya ibu teman-temanku sementara rumah mereka juga dekat, aku hanya diantar sampai jalan raya. Akhirnya aku hanya bisa meminta tukang becak di depan rumahku untuk membantu menyebrang di jalan raya itu. 

Tentu saja aku mencintai ibu. Hanya saja aku tak menunjukkannya secara langsung. Diam-diam aku selalu mengagumi ibuku. Dia cantik dan cerdas. Konon ketika dia muda ada begitu banyak lelaki yang mengejar, bahkan sederat nama lelaki yang saat ini terkenal pun ada beberapa diantaranya yang pernah menaruh hati pada ibu. Dia juga sangat aktif berorganisasi, tegas, dan selalu penuh semangat. Ibu senang menulis artikel di koran lokal untuk menyuarakan aspirasinya secara pribadi, dan setiap kali tulisannya dimuat, aku selalu mengklipingnya dan menjadikan tulisannya sebagai inspirasiku. Kini apa yang ditanamkan ibu dalam hidupku begitu menancap kuat dalam benakku, semua nilai itu adalah tentang makna akan hidup mandiri. Betapa pentingnya bagi seorang perempuan untuk hidup mandiri dan kuat. Dulu hal yang kadang membuatku heran adalah entah mengapa ibu memilih bapak. Aku tak mengatakan bapakku bukan lelaki yang baik. Bapakku hanya seorang anak Kyai, miskin, dengan wajah biasa-biasa saja dan saat itu bapak juga belum berpendidikan tinggi. Baru akhir-akhir ini aku mengetahui bahwa ibu begitu mementingkan aspek agama dan kesederhanaan. Ibu bisa saja mencari lelaki lain yang lebih tampan, kaya, anak orang terkenal atau juga lebih pintar. Tapi jika itu terjadi mungkin aku takkan ada di dunia ini. Jadi memang itulah takdir. 

Hubunganku dengan ibu menjadi dekat kembali semenjak beberapa bulan yang lalu. Ibu telah selesai kuliah teori dibangku S2 sejak tahun 2006 namun belum resmi karena belum menyelesaikan tesis-nya. Semenjak aku menulis skripsi, ibu juga menjadi antusias untuk ikut menyelesaikan tesis-nya sehingga kami bercita-cita bisa wisuda secara bersama-sama di bulan Februari nanti. Semangatku juga menjadi terpacu. Aku terus menerus mendorong ibuku segera menyelesaikan dengan berbagai macam cara mulai membantunya mengetik, memberinya motivasi, mendorongnya untuk membaca dan mencarikannya referensi untuk tesis. Terkadang aku memintanya untuk terus terjaga hingga malam untuk membaca buku atau memintanya agar tidak menunda-nunda untuk bimbingan. 

Bodohnya, aku tak pernah menyadari apapun. Aku tak pernah menyadari bahwa aku telah mendorongya terlalu keras hingga akhirnya ibu drop dan masuk UGD. Aku melupakan bahwa ibu tak semuda dan segesit aku. Apa yang dia kerjakan juga lebih banyak dari yang pernah aku bayangkan. Aku memintanya untuk segera menyelesaikan tesis hanya demi acara ceremonial wisuda saja sementara hal itu telah memaksanya mengorbankan kesehatannya dan nyaris nyawanya. Namun demi tuhan apa yang aku lakukan hanya semata-mata karena ingin mewujudkan apa yang telah kami berdua impikan. Ibu maafkan aku. I'm sorry if I'm not a good daughter for you. 



Ingin kudekat dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku 
Dengan apa membalas.. 
Ibu.. 
Ibu...


Suasana hatiku ini membuatku terngiang-ngiang tentang lagu Iwan Fals yang berjudul Ibu dan membuat aku semakin begitu merasa bersalah. Ya Allah sembuhkan ibuku. Bantulah dia untuk menjadi sehat dan mampu bangkit kembali tak peduli kami mampu wisuda bersama atau tidak. Aku hanya ingin ibu tetap hidup lebih lama agar aku mampu membalas semua yang telah dia berikan.




M. 

Hari dimana hujan tak kunjung berhenti, November 2012.

Sabtu, 24 November 2012

Membaca Cerpen: Pada Satu Bangku di Dunstable Downs

Hari itu rasa jenuh kembali muncul, di kantor ini rutinitas selalu saja sama. Setiap tepat pukul 12.00 siang tiba, tak ada yang keluar kantor untuk membeli makan siang. Mereka semua telah menyiapkan bekal masing-masing dari rumah. Di kota Luton, orang kantoran lebih memilih membawa bekal. Alasannya, mereka harus kembali kekantor tepat pukul 12.30. Sementara membeli makan siang diluar lebih mahal dan harus menunggu antrian panjang. “Tidak enak rasanya kembali ke kantor terlambat”, ujar Matt kepadaku. 

Matt adalah seorang key worker di tempat ini dan sekaligus bosku. Dia berperawakan gendut kulit putih. Dia lahir di London dan memilih menetap di Luton setelah bertemu dengan pacarnya, Joey. Matt orang yang baik dan pengertian, ketika aku hendak kembali ke Indonesia. Dia menghadiahiku kumpulan puisi bahasa Inggris terfavorit di Britania Raya edisi BBC. Dia mengetahui bahwa aku suka sastra, hanya karena aku sering mengutip salah satu puisi terkenal berjudul She walks in Beauty karya sastrawan Inggris bernama Lord Byron. Aku tak menyangka dia juga amat menyukai puisi itu. Sejak itu terus saja dia memberitahuku mengenai puisi-puisi yang masyhur lainnya tapi tentu saja aku tak pernah tahu. Aku mengetahui puisi She Walks in Beauty ketika aku berada di bangku Madrasah. Puisi itu sering dipakai lomba membaca puisi dalam bahasa Inggris, aku pernah mengikuti lomba semacam itu walaupun aku tak pernah menang. 

Setelah makan siang usai, kami segera melanjutkan pekerjaan masing-masing. Aku disana bekerja bersama work partner untuk membuat film dokumenter tentang kota Luton. Proyek kecil-kecilan untuk mendokumentasikan tentang suasana multikultur di kota Luton yang begitu erat. Dan aku mendapat bagian mengerjakan naskah dan mengatur jadwal untuk wawancara dengan narasumber dalam film itu. Naskah skenario film dokumenter yang aku tulis ini entah mengapa tak selesai-selesai. Aku merasa begitu jenuh dan sulit mendapatkan ide kala itu. Aku khawatir bahkan sampai waktu aku pulang ke Indonesia nanti, naskah film dokumenter ini juga tak usai. Tiba-tiba temanku satu proyek datang memintaku untuk melanjutkan pengambilan gambar, tentu saja tempat pengambilan gambarnya harus menarik, untuk itu perlu mencari sedikit inspirasi pengambilan gambar. Aku tentu saja tidak menolak ide itu. Akan lebih menyenangkan jika bisa berjalan-jalan ke suatu tempat dari pada berdiam diri di kantor. 

Lalu kukatakan pada Matt bahwa kami membutuhkan beberapa objek menarik tentang Luton. Dia memberikan kepada kami banyak opsi tempat seperti Wardown Park atau Stockwood Museum, sebetulnya aku sudah beberapa kali ketempat itu. Tak lama kemudian dia menyarankan pada kami Dunstable Downs atau Woburn Abbey. Setelah lama berdiskusi akhirnya kami memilih pergi ke Dunstable Downs, karena nampaknya pergi ke Woburn Abbey harus menempuh waktu lebih lama untuk sampai kesana. Padahal aku sangat ingin pergi ke sana, aku membayangkan pemandangan tempat itu seperti rumah dan pekarangan milik keluarga bangsawan Inggris bernama Mr. Darcy di film Pride and Prejudice. Film romantis favoriteku. 

Jalanan menuju Dunstable Down memang menanjak meski tidak terjal. Beruntung kami pergi diantar dengan mobil sehingga tidak harus menggunakan angkutan umum, karena sudah dipastikan kami harus berjalan sangat jauh. Ketika sampai di puncak, aku baru menyadari bahwa tempat ini memiliki pemandangan yang luar biasa. Bukit-bukit yang terbentang luas. Melambung di atas padang rumput yang mempesona. Ini benar-benar indah. Dunstable Downs adalah daerah dengan titik tertinggi di Bedfordshire. Dengan bukit-bukit sedikit landai terdapat tempat khusus yang disediakan untuk olah raga angin, layang-layang terbang atau yang disebut juga gliding. Punggungan angin yang menyapu menjadi kondisi ideal untuk berbagai olahraga layang-layang terbang. Pada hari-hari libur konon tempat ini biasa dijadikan tempat piknik yang menyenangkan. 




Disana sengaja disediakan bangku-bangku taman yang permanen, agar orang-orang yang datang bisa duduk sambil menikmati pemandangan yang indah dan hamparan bukit yang menawan. Tak sedikit pula pasangan-pasangan yang datang dan duduk-duduk disana.

Ketika aku duduk di bangku itu, aku merasakan suasana yang begitu romantis. Di setiap bangku terukir nama sepasang kekasih yang nampaknya sudah lama meninggal dunia. Sekelompok orang sengaja mengukir nama-nama orang tertentu agar selalu terkenang di bangku itu. Juga untuk menunjukkan perasaan betapa berartinya mereka yang telah pergi itu, konon nama mereka yang terukir disana akan bersama-sama bahkan sampai di surga. Harapan tentang suatu keabadian.

Kemudian ide gila ini muncul begitu saja di kepalaku. Aku tuliskan namaku dan namamu disana, sambil melirik kekanan dan kekiri karena takut ada orang yang menangkap basah apa yang telah aku perbuat. Aku sematkan nama kita berdua, entah bagaimana jiwa vandalisme itu muncul hanya untuk berusaha mengabadikan nama kita berdua. Mungkin ada sebersit rasa rinduku yang mengumpal kuat kepadamu. Lalu setelah usai, diam-diam aku berharap dua nama itu tetap ada disana-pada satu bangku di Dunstable Downs. Tanpa pernah tahu sampai kapan...



M.
Yogyakarta, November 2010.

Rabu, 21 November 2012

Reading: The Harsh Realities of Life

You may ask, can we face reality? can we do the right thing? All of those questions always make us worry, even learn to face reality can spend more time doing something constructive about things that you have control over.


Akhir-akhir ini aku sering datang ke pengadilan negri dan entah mengapa suasana di pengadilan selalu membuatku semakin dekat dengan pahitnya realitas. Orang-orang berlalu lalang, sibuk kesana kemari dengan wajah yang penuh kegelisahan. Sikap itu ditunjukkan dengan beberapa orang yang sibuk mengecek hp, membolak-balik berkas-berkas penting, kulihat juga seorang lelaki disudut ruang tunggu tak henti-hentinya merokok demi menghilangkan kecemasannya yang tak kunjung reda. Belum lagi beberapa polisi yang berjaga-jaga dengan membawa senjata berdiri dengan wajah serius di depan pintu masuk pengadilan. Suasana seperti ini memang selalu penuh dengan tekanan. 

Hari ini aku juga harus mengikuti monitoring persidangan di salah satu pengadilan negri di provinsi DIY. Paling tidak sedikitnya aku harus mengikuti lima kali persidangan dan meminta tanda tangan pak Hakim sebagai bukti bahwa aku telah mengikuti jalannya persidangan. Ini membuatkan sering berada di Pengadilan menunggu untuk beberapa jadwal sidang yang kadang juga tak pasti dan bolak-balik untuk mengurus berkas. 

Aku sendiri sudah hampir satu jam menunggu dimulai persidangan perkara perdata yang pertama, persidangan perkara perdata harus selalu menunggu ruang sidang kosong sampai persidangan perkara pidana selesai, bagaimanapun aspek publik harus lebih penting daripada aspek privat. Hasilku bertanya informasi sana-sini, sidang selanjutnya mengenai perbuatan melawan hukum tentang perkara waris dan sengketa tanah. Perkara perebutan harta warisan memang selalu banyak melibatkan penggugat ataupun tergugat. Hari itu yang berperkara adalah kakak yang menggugat adiknya mengenai objek waris yang belum dibagikan akan tetapi si adik sudah menjadikan jaminan agungan kredit di suatu bank. Hal itu terjadi atas inisiatif dari pengurus bank terkait. Persidangan berlangsung cukup menarik karena masing-masing pihak menghadirkan saksi yang memberatkan. 

Hari yang sama, aku mengikuti persidangan perdata terakhir di PN berupa pemohonan. Dua orang perempuan sama-sama datang ke PN memohon atas perwalian anak mereka untuk mengurus harta warisan peninggalan sang suami. Awalnya aku tak paham mengapa kedua perempuan itu memberikan saksi yang sama untuk dikabulkannya permohonan tersebut. Bahkan pak Hakim pun juga heran, ternyata mereka adalah istri pertama dan kedua yang sama-sama tinggal di desa yang sama meskipun rumahnya berbeda. Dengan sedikit guyonan sambil melirik ke arahku yang memang sedikit terkejut kalau mereka memang perempuan-perempuan yang telah dipoligami, pak Hakim berkata, “Ini pasti almarhum suaminya ganteng ya? Sampai bisa punya dua istri dan tinggal di kampung yang sama dengan rukun, bahkan mbaknya mahasiswa sampai terheran-heran”. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi apa kata pak Hakim. Aku bahkan memastikan bahwa kedua perempuan tersebut merupakan istri yang sah atau bukan hasil nikah siri dan memang mereka dinikahi dengan sah, ada bukti surat pernikahan yang ditinggalkan. Bagiku, pemandangan yang jarang melihat dua perempuan rukun hasil dimadu, terkadang ada sinisme dalam hatiku, jangan-jangan mereka rukun hanya saat pembagian harta warisan saja tidak di kehidupan sebelumnya. 

Beberapa hari sebelumnya aku pun sempat mengikuti persidangan gugatan perdata mengenai perkara perceraian. Begitu banyak orang menginginkan pernikahan tapi disisi lain banyak pula yang justru berakhir dengan perceraian. Meski persidangan berakhir dengan adanya upaya damai dari pihak penggugat (suami) namun tetap saja mengirimkan surat gugatan perceraian juga sudah ada niat untuk bercerai. Akhir-akhir ini aku juga banyak berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang berkaitan dengan berkas-berkas perceraian di Hukum Acara. Beberapa hal memang memberiku banyak pelajaran bahwa pernikahan itu bukan hanya berdasarkan perasaan. Cinta saja tidak akan pernah cukup untuk membangun sebuah keluarga. Sifat manusia yang begitu mudah berubah, lupa, dan terlena dengan apa yang mereka miliki menjadikan komitmen begitu penting untuk menjaga keutuhan sebuah hubungan. 


Inilah yang aku katakan dengan pahitnya realitas, hanya demi harta antara kakak-adik saling bersengketa. Padahal mereka berasal dari rahim yang sama, seolah-olah tak ada lagi hubungan darah itu. Atau mengenai perkara perceraian dan poligami, yang memang terasa pahit dan begitu enggan kita membicarakan hal-hal semacam itu meskipun kita juga tahu bahwa hal semua itu bukan hanya cerita bualan, semua itu adalah hal yang mungkin terjadi di kehidupan kita. Meski yang aku ceritakan itu bukan merupakan realita yang harus aku hadapi. Sebetulnya ada banyak hal lain yang harus aku hadapi dan memaksaku untuk berubah. Nobody likes to admit that it is time to change behaviours and attitudes. Yet the time comes where wisdom demands that we acknowledge that what we are doing is not generating the results we want. This is especially true when we know what works because we were doing it long enough to see it work. Yet, out of laziness and foolishness, we stop doing what works and the results we worked so hard to achieve gradually melt away. Semakin kita dewasa semakin kita tahu bahwa hidup tidak akan pernah bisa datar-datar saja. Masalah akan selalu ada. Kita tak akan pernah menyangkal bahwa terkadang pahitnya realita itu adalah bagian dari kehidupan yang harus kita jalani. This is the reason why I’m still nervous to face reality. Reality does sucks. But here's the things is looking at reality does not mean giving up hope. It's where you find hope in what you can change...and not trying to change others.

M.
Yogyakarta, November 2012.

Kamis, 01 November 2012

Welcome November Rain

Di akhir bulan ini hampir setiap hari hujan turun. Kini sudah mulai memasuki November. Dan bulan ini memang selalu identik dengan hujan. Kadang hujan itu menyenangkan, kala udara dingin senyap yang diam-diam memelukku. Irama air menetes dan aroma tanah yang begitu segar menerobos kerongga-rongga hidungku. Langit kelabu membawa suasana seolah-olah sendu namun begitu menenangkan hanya bunyi rintikan air yang terus saja berirama. Seolah-olah irama rintikan itu terus memanggilku. Tik..tik..tik... 

Hujan mengingatkanku pada satu momen tertentu dalam hidupku. Dimana saat itu aku masih amat sangat muda. Kelas 1 SD, sekitar umur 6 tahun, aku selalu memperkenalkan diri dengan nama T-I-K-A. Karena nama itu teman-temanku gemar sekali menggodaku dengan sebuah nyanyian anak-anak. Tik, tik, tik bunyi hujan diatas genting... Begitulah kira-kira salah satu liriknya. Maka teman-temanku yang usil, mereka seolah-olah hendak menegurku, “Tik! Tik!”. Kemudian ketika aku memalingkan muka kearah mereka tiba-tiba mereka kembali menyanyikan lagu itu, tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua. Argh! Tentu saja aku kesal. Namun semua itu nampak lucu sekarang. Menggelikan. Mengesankan. 

Kini hanya orang-orang dekat saja yang memanggilku dengan nama Tika. Tidak banyak tapi justru itu membuktikan kedekatanku dengan mereka. Kebanyakan dari mereka yang memanggilku dengan nama itu, tentu tahu tentang nama kecilku. Nama kesayangan pemberian orang tua. Nama itulah yang terkadang aku rindukan. Oleh sebab itu aku selalu merasa hujan itu terus memanggilku. Seolah-olah kami begitu dekat. In this very moment, I choose to focus on the good feelings of rain. It provides a warm sense of security. Because rain is water and water is life. While there are mishaps caused by rain, rain as a metaphor is invariably life enriching. There is torrential downpour which destroys, but mostly rain is revered because it is a necessary component of growth.

Dulu hujan selalu membuatku menari-nari. Begitu menyenangkan bermain-main kesana-kemari tanpa memikirkan apapun. Tanpa mengkhawatirkan apapun. Tanpa ekspektasi. Kini enam belas tahun kemudian, bulan November menjadi bulan yang semakin penuh misteri. Dan nasibku pun akan ditentukan oleh bulan ini. Aku diam-diam selalu memohon. Berdoa dalam hati kecil. November, jadikanlah semua momen di bulan ini menjadi lebih baik. Less worries. Less impulsive. Less pressure. Hujan di bulan November antarkan aku pada impian-impian itu...

Di telingaku, hujan terus memanggilku dengan nada lagu itu, tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua... 


M. 
Yogyakarta, hujan di awal bulan November 2012.

Senin, 29 Oktober 2012

Tentang Sekaleng Susu yang Selalu Membawa Ingatanku Padamu

Sudah sejak kecil ibuku memberikan sekaleng susu ini setiap kali aku merasa tak enak badan. Namun kenangan tentang ibuku kini telah berubah menjadi kenangan tentangmu. Suatu malam, suhu badanku naik drastis. Tubuhku padu dengan kasurku yang selalu terasa empuk. Aku balut badanku dengan selimut-selimut tebal. Dalam keadaan seperti ini Ibu selalu datang memberiku sekaleng susu. Melihat susu kaleng itu ingatanku melayang padamu. Demamku yang semakin tinggi membuat bayanganmu muncul begitu saja dikepalaku. Senyum itu. Tak pelak aku pun mulai meracau tentangmu.

Kala itu kita berada di sebuah Mall. Wajahmu yang kemerahan menahan demam yang semakin tinggi. Namun tetap saja kau masih bersamaku malam itu. Dan sekaleng susu itu, entah bagaimana bisa berada di dalam tasku. Ku berikan sekaleng susu itu kepadamu. Aku pun memintamu untuk meminumnya. Mungkin saja badanmu akan terasa lebih baik. Kau menatapnya lekat-lekat sebelum kemudian mengenggam erat susu kaleng itu. Tersenyum dan "Cut!" Sampai disana, aku begitu menikmati senyum itu. 

Pada akhirnya memang kau meminum susu kaleng itu dengan sedikit terpaksa. Episode itu ingin selalu kuingat. Hanya saja. Kenangan itu kini mulai samar-samar. Waktu yang telah mengikis ingatanku. Tak apalah, ini tentang sekaleng susu yang selalu membawa ingatanku padamu. 


M. 
Yogyakarta, Oktober 2012.

Kamis, 19 Juli 2012

Marhaban Yaa Ramadhan

Sebuah sms dari seorang sahabat masuk ke handphone saya pagi tadi, sms tersebut berbunyi:
Belajar dari sebuah akar, ia begitu gigih mencari air, menembus tanah  yang keras, demi sebatang pohon. Ketika pohon tumbuh, berdaun rimbun, berbunga indah kemudian berbuah. Maka banyak orang memuji pohon tersebut. Apakah akar juga mendapat pujian khusus? Belum tentu, tetapi akar tak pernah mengeluh, ia tetap bersembunyi dalam tanah dan terus bekerja untuk memberi buah pada pohon tersebut. Dari akar-lah kita belajar ketulusan dan kerendahan hati. Semoga jiwa ini setulus dan seikhlas akar. 
Saya merasa filosofi akar ini baik itu dipahami dan diterapkan. Terkadang kita begitu sulit untuk tetap berada dalam keadaan tulus dan rendah hati dalam menghadapi berbagai macam kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia. Saya terkadang melakukan banyak kesalahan dan menjadi manusia yang lupa diri. Padahal seharusnya kita sering berefleksi dengan firman Allah SWT:
 "Fabiayyi aala i rabbikumaa tukadzibaan…" (maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?) QS. 55:13.
Semoga senantiasa ada peningkatan dalam suasana Ramadhan ini baik perilaku, perkataan dan perbuatan. Tidak hanya sekadar waktu untuk berefleksi tetapi juga meningkatkan keimanan dalam diri. Dengan segenap hati saya ingin mengucapkan kepada seluruh umat muslim di segala penjuru dunia:
Marhaban Yaa Ramadhan.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.
Mohon maaf lahir dan batin.

 M,
Yogyakarta, Juli 2012

Sabtu, 07 Juli 2012

Scar

"And be grateful. Our scars have the power to remind us that the past was real." 

– Dr. Hannibal Lecter, from Red Dragon.

 

Sebuah bekas luka, mungkin setiap orang memilikinya di tubuh mereka. Terkadang terlihat mengerikan atau membuat kita merinding. Tetapi bekas luka itu ada bukan tanpa arti. Selalu ada makna dibalik guratan-guratan luka yang tertorehkan. 


Ada beberapa tokoh dalam fiksi yang membahasakan makna hidup mereka dengan bekas luka, misalnya Harry Potter dengan luka di dahinya yang terjadi karena perlindungan sang ibu dari mantra kutukan mematikan Lord Voldemort. Ada pula tokoh manga Kenshin Himura dalam Samurai X, sebuah luka di sebelah pipi kiri-nya yang berupa huruf X dan membuktikan bahwa dia adalah legenda Batosai si Pembantai di masa lalu, kemudian ada Pangeran Zuko dari serial Avatar: The Last Airbender yang memiliki luka bakar di mata kirinya, yang merupakan hukuman dari Negeri Api dan membuatnya tidak bisa lagi kembali ke tahta Negeri Api kecuali dengan syarat berhasil menangkap Avatar. 

Di kehidupan nyata sikap setiap orang berbeda-beda. Sebagian dari mereka, ada yang mencoba menyembunyikannya karena terlalu menyakitkan. Ada yang sengaja menunjukkannya untuk membuktikan dia adalah seorang yang kuat. Ada yang menjadikannya sebagai ciri khas selama hidupnya. Namun ada juga yang berusaha mati-matian untuk menghilangkan bekas luka itu.

Aku pun memiliki bekas luka. Sebuah bekas luka yang ada di tangan kananku, yang aku dapat dari kecelakan dengan mobil di akhir tahun 2011. Banyak teman ataupun saudara yang menanyakan bekas luka itu. Terkadang aku hanya tersenyum meringis, terkadang menjawab seadanya atau juga berlalu mengabaikan semua pertanyaan-pertanyaan itu. Aku tak banyak memikirkan bekas luka itu hingga saat ini. Entah mengapa akhir-akhir ini setiap kali aku memulai aktivitasku seperti menulis, makan, membaca, ataupun yang lainnya. Dan melihat luka yang ada ditangan kananku itu. Aku seperti dipaksa kembali mengingat bahwa kecelakaan itu memang nyata. Aku benar-benar mengalaminya. Aku merasakan setiap detail dari ingatan akan hari itu. Tentu saja ini membuatku lebih menyadari, apa jadinya jika hari itu, ada mobil lain dari arah berlawanan yang datang dengan begitu cepat dan menabrakku yang terkapar di tengah jalan. Adakah alasan lain dari Tuhan untuk menyelamatkan aku selain dari kesempatan untuk tetap hidup dan memperbaiki diri? Kadang kita memang harus menyadari bahwa manusia memang terbatas, bukan untuk merendahkan diri dan putus asa tetapi untuk lebih mensyukuri kehidupan yang telah kita miliki dan tidak menjadi greedy.

Bekas luka lain yang membuatku terpana adalah guratan-guratan bekas luka yang ada di perut Ibu. Aku sempat memperhatikannya saat membantu mengolesi minyak kayu putih di perut Ibu ketika dia merasa tidak enak badan. Kemudian dengan bodohnya aku justru bertanya, “Ini bekas luka apa Bu?” Dengan suara pelan Ibu menjawab, “Bekas luka hamil dan melahirkan lima orang anak”. 

Aku hanya terdiam seribu bahasa mendengarnya. Aku pun memahami bahwa bekas luka itu memang nyata untuk mengingatkan kita bahwa benar adanya kita pernah berada di dalam perut ibu selama sembilan bulan sebelum akhirnya menghirup udara segar dunia. Bekas luka itu menunjukkan bahwa benar adanya seorang ibu berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan kita di dunia. Bekas luka itu mencoba menjelaskan bahwa kita pernah menjadi bayi tak berdaya dan lemah sebelum akhirnya tumbuh dan bertahan hidup hingga saat ini. Apalagi jika proses melahirkannya melalui jalan operasi caesar, bekas luka itu tentu lebih terlihat jelas. Tidak ada alasan sebetulnya untuk membuat hidup kita menjadi tak berarti. Banyak yang telah diperjuangkan oleh orang-orang disekitar kita hingga bisa bertahan sampai saat ini.

God tries to remembering us with many ways, including with this scar.
It is so true that scars prove you’re vulnerable, but they also show you’re a survivor.
Life and let life...

M.
Yogyakarta, Juli 2012

* Photo by Emilia Tjernström
A nomad girl, who got kicked in the forehead by a donkey when she was little. It is quite a scar. Campement, in the vicinity of the village of Tabrichat, northern Mali, January 2007. 

From: http://www.flickr.com/photos/modern_nomad/with/414643458/

Kamis, 14 Juni 2012

A-C-T-I-O-N

I remember when I was able to just sit at the computer and write, not even thinking about it. Just start typing and let the words flow. 

But sometimes, have you ever feel like... can't even get one line down with over analyzing the hell out of it. The imagination is starting to fade and so is with the concentration. You can't even finish a book. Try to start, but within a few minutes the words clump together and you can't focus. 

Then start asking questions such as; What has become of me? When did I become this person? This isn’t how I imagined myself to be. The person who just can’t get anything done, has the most disturbing thoughts, can’t even do the simplest things anymore, and is just plain pathetic at times. You just stuck and asking desperately for get-me-out-of-here.

I’m reminded that change doesn’t have to keep us S-T-U-C-K like that. I love being stuck in the past. Always thinking of what could of happened. But I also need to learn how to move on to new things. We convince ourselves that things are fine.

It just means we need to take some A-C-T-I-O-N.
Aha! ;) 


Jumat, 01 Juni 2012

It’s already June?!


Halfway through the year! Now usually I don’t pay attention to the dates anymore. I run on two uni every week so I usually don’t know what the date is, or even the day actually, it is examination months (because I have three weeks only for examinations) T.T

I’ve stopped paying attention to time, well dates, ever since the end of uni just because then I think I’ll think too much about it and then it’ll depress me looking back at the year so far and how I haven’t actually achieved anything. And perhaps there’s also other reasons too that stem way too far down where the planting wounds have already healed. So let’s not go there.

Well, the truth is because I tried hard to remembering someone’s birthday recently so that does make sense that I realize fully: it’s already June!

So yeah. I’m quite oblivious to everything until it gets to the end of the year. Then another year. Then the end. Then another...Then yeah. This is Life.

I just wish in the next days, months, years, I can always be better and better, for my own sake and for the sake of the people that I love. Well, this is kind of an early wish, but its okay. Happy June! :)


Selasa, 10 April 2012

Happy Midterm Exam, ganbatte!

Bulan April itu emang bulan UTS-an T.T Okay now I’m beginning to freak out for double-midterm-exam in the next 3 weeks. I’m beginning to feel overwhelmed by all the information. Aghhhh~  
Rada shock pas pertama kali liat jadwal dan ternyata ada jadwal UTS yg bentrok. huhu~ untungnya dosen salah satu dosen dr matkul bentrok yaitu matkul Leadership buaekk banget,hoho~ soalnya boleh dateng telat ujiannya *secara kan udah ijin yak*. So, yang jadi masalah sekarang adalah gimana caranya supaya semester ini tetep survive.^^ Oh Exam-Based-God please bell curve it.  

Nothing limits you but yourself and your fears, don’t even settle for anything other then success. GOOD LUCK TO EVERYONE WRITING EXAMS! 
you are all in my prayers :D