Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Desember 2013

Membaca Mobilitas Manusia dalam “Biennale Jogja XII Equator #2”


photos courtesy of @narastika

Ketika saya memasuki Terminal BJXII Equator #2 di Taman Budaya Yogya (TBY) satu dari lima venue Biennale Jogja, seperti biasa karya seni selalu menunjukan daya tarik tersendiri, saya melihat Tim Artistik dari perhelatan pameran seni rupa ini sengaja mendesain ruangan galeri seperti sebuah Bandara. Saat itulah saya menyadari mengapa disebut Terminal dan arti kata “Welcome to Airport” di salah satu graffiti beranda sebelum memasuki Galeri TBY. Selayaknya memasuki sebuah airport tempat dimana orang datang, pergi dan bersinggah sejenak dari sebuah perjalanan panjang, airport mungkin juga mencerminkan mobilitas dari manusia itu sendiri. Maka, saya pun menerka-nerka; kearah Gate nomor berapa saya harus menuju?



Yang paling saya suka dari mengujungi pameran seni rupa adalah selalu ada makna yang dari setiap karya seni yang dibuat oleh para seniman. Sembari menebak-nebak imajinasi sang seniman, saya hanyut dalam pesan yang muncul dari karya seni tersebut. Saya termasuk orang yang cukup awam dengan dunia seni rupa, tetapi bisa dibilang menyukai dunia tersebut. Sebut saja, penikmat seni rupa. Outliners. 

Karya yang cukup menarik yaitu Berjudul “Deru” karya Ugo Untoro, Kaki-kaki kuda yang sengaja di pasang di langit-langit Galeri TBY. Sedari awal saya sudah menduga kaki-kaki Kuda itu merupakan kaki asli, karena bentuknya begitu mirip. Namun teman saya mengatakan itu hanya kayu yang dibentuk kaki kuda, sampai saya menemukan sebuah artikel yang menyatakan bahwa puluhan kaki kuda itu betul-betul asli. Memang sangat mengecoh, untuk apa sang seniman harus mengumpulkan kaki-kaki itu? Kuda adalah hewan tunggangan kuat yang berpengaruh bagi mobilitas manusia di masa lalu.  Melihat kaki-kaki di langit-langit itu seperti melihat kuda-kuda kuat berlarian dalam pikiran saya. Menderu; Gedebak...gedebuk...gedebak...gedebuk. Karya seni itu cukup meninggalkan kesan yang mendalam akan keberadaan kuda dalam realitasnya. 

Karya instalasi berjudul "Deru" oleh seniman Ugo Untoro

Karya lain cukup menyita perhatian adalah adanya loker, loker, dan lagi-lagi loker dibeberapa tempat pameran Biennale Jogja XII Equator #2. Sama. Pertanyaan menarik adalah apa maksudnya? Loker-loker tersebut sebuah karya seni dengan judul “100 Moving Numbers” karya Syagini Ratna Wulan yang menunjukkan bahwa satu tempat berkesinambungan dengan yang lain. Di dalam loker tersebut juga terdapat benda-benda sederhana yang kadang muncul dalam kehidupan kita sehari-hari. Sembari ada kartu pos di dalam setiap loker yang berisi nomor dan memberikan narasi tertentu. Sekali lagi, ini semacam menumbuhkan imajinasi bagi para penikmat seni seperti saya. 


Karya seni dengan judul “100 Moving Numbers” karya Syagini Ratna Wulan


Acara ini diselenggarakan pada 16 November 2013 sampai 6 Januari 2014, bagi belum sempat mengunjungi, tidak ada salahnya jika ingin meluangkan waktunya sejenak untuk menikmati karya seni. Beberapa diantara Karya seni yang ditampilkan telah memberikan impuls; membuka mata, hati dan pikiran bagi setiap pengunjung yang menikmatinya. 

M.
Yogyakarta dan Hujan di Akhir tahun 2013.

Senin, 25 November 2013

Interfaith Youth Pilgrimage: 10 Hari Perjalanan Ziarah Penuh Makna

“Experiencing the Sacred Spaces of the others” atau merasakan ruang suci dari (agama) lain inilah tagline dari program Interfaith Youth Pilgrimage (IYP), merupakan salah satu alasan diselenggarakan program ini. Berangkat dari keprihatinan atas peristiwa-peristiwa konflik yang kerap terjadi dengan mengatasnamakan agama di Indonesia, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama di kalangan kaum muda, yang kelak akan menjadi penerus kepemimpinan di Indonesia. Para peserta IYP telah diajak untuk mempelajari mengenai bagaimana toleransi dan keberagaman dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam “ruang suci” masing-masing agama.


Belajar dari Pengalaman Live in
Program ini telah berhasil memberikan pengalaman nyata utamanya dalam menghapus stigma atau prasangka buruk terhadap agama lain, seperti yang dialami oleh Masduri, peserta dari Madura yang merasa tersentuh dengan dalamnya umat Nasrani dalam melantunkan doa-doanya. Masduri menambahkan setelah mengikuti program ini menjadi lebih terbuka kepada siapa saja, tanpa melihat agamanya, karena kebaikan bisa datang dari siapa saja, termasuk dari umat beragama yang lain. 
Salah satu peserta bernama Firman, menyatakan perasaannya dengan mengikuti seperti menemukan kembali damai yang telah lama hilang di Negeri Indonesia ini. Firman yang juga merupakan mahasiswa Universitas Pattimura datang jauh-jauh dari Ambon Manise, Maluku khusus untuk mengikuti program ini, “Saya berangkat menuju Yogyakarta dengan meninggalkan rutinitas kuliah dan aktivitas lain dikampus biruku yaitu Universitas Pattimura Ambon hanya karena satu hal yakni lewat IYP ini dapat tercipta kembali trust diantara kami anak muda Indonesia yang berbeda-beda agama dan suku bangsa”. Keluarga Firman merupakan salah satu korban dari konflik agama yang terjadi di Maluku tahun 1999. “Bagiku semua momen dalam 10 hari perjalanan bermakna ini sangatlah berharga. Namun, momen yang tak kulupakan yakni ketika saya (sebagai seorang muslim) live in dirumah jemaat GKJ Sidomukti, Salatiga. Pada awalnya, saya merasa ada yang berbeda seperti ada semacam gejolak batin dalam jiwaku. Bagaimana tidak, saya berasal dari daerah konflik yang mengatasnamakan agama kemudian cara pandang saya telah dibentuk oleh sejarah atas duka masa lalu, dengan menyatakan, diluar agama saya (Islam) terutama Kristen adalah musuh (stigma dalam komunitasku). Kini saya diperhadapkan dengan realitas yang berbeda, tinggal serumah dengan mereka (keluarga jemaat)”. Namun, Firman justru menjadikan pengalaman berharga tersebut sebagai sebuah refleksi, dengan memaafkan dan tidak menyimpan dendam dari luka masa lalu. Dia menyadari bahwa perbedaan keyakinan tidak bisa dijadikan alasan untuk memicu permusuhan dan konflik. Agama bukanlah sumber kekerasan melainkan sumber kedamaian bagi sesama dan semesta alam.
Kisah lain datang dari Susanto, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Budha (STAB) Syailendra. Susanto terkesan dengan pengalamannya live in di Pondok Pesantren, “Dari pengalaman tinggal di dua tempat pondok pesantren yang berbeda, disitulah saya mengetahui bahwa tidak semua pondok pesantren adalah sarang dari teroris atau gerakan kekerasan yang selama ini saya lihat di beberapa media masa”. Peserta yang lain, Geraldi D. Kongkoli berasal dari Poso, yang juga pernah live in di Pondok Pesantren Edi Mancoro Semarang, sangat terkesan dengan upaya transformatif pesantren tersebut dan mengubah stigma selama ini tentang pesantren dan tentang buruknya citra Islam.

Mencetuskan Petisi Perdamaian
Setelah mengikuti 10 hari perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci, berdialog dengan berbagai komunitas agama dan live in di masyarakat, 28 peserta IYP merumuskan 7 poin petisi perdamaian sebagai hasil dari kesadaran mereka. Peserta adalah perwakilan dari berbagai daerah di provinsi Sumatra, Sulawesi, Jawa, Bali, Kalimantan, NTT, NTB, dan Maluku. Petisi ini menghimbau kepada generasi muda, masyarakat dan pemerintah Indonesia untuk lebih menghargai perbedaan nilai-nilai agama, menghapus prasangka, merawat keragaman, lebih menghayati nilai-nilai agama, menolak kekerasan atas nama agama dan secara khusus mengajak generasi muda Indonesia untuk menjadi inspirator dan agen perdamaian.


Program IYP ini di dukung oleh Kedutaan Besar Amerika Sertikat melalui program Alumni Engagement Innovation Fund (AEIF) 2013, dan dengan dukungan dari berbagai lembaga seperti Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Centre for Religious and Cultural Studies(CRCS) UGM, PSPP Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), PERCIK, Peace Generation Bandung, Pondok Pesantren Edi Mancoro, Seminari Mertoyudan Magelang dan DIAN-Interfidei. IYP diselenggarakan dari tanggal 10-20 November 2013 di beberapa kota: Yogyakarta, Surakarta, Karanganyar, Salatiga, Semarang, Magelang dan Yogyakarta.
Tujuan IYP ini, seperti yang disampaikan Team Leader IYP, Elis Z. Anis, M.A. dalam pembukaan IYP (10/10) adalah untuk membangun pemahaman yang mendalam mengenai akar persoalan konflik agama di Indonesia dan menciptakan  strategi yang relevan dalam mengatasi konflik atau persoalan antar iman. Di akhir program, peserta IYP diharapkan mampu membangun komitmen dalam memperjuangkan perdamaian diantara umat beragama. Peserta menandatangani petisi perdamaian dan akan membagi pengalaman mereka melalui komunitas masing-masing dan melalui media massa.


Mazia Rizqi Izzatika,
Organizing Committee IYP Indonesia

Selasa, 23 Juli 2013

The Other Side of Us

Dinginnya malam tidak membuat kita menyerah untuk kembali ke pondokan dan membungkus diri dengan selimut hangat. Kita justru melanjutkan perjalanan untuk menghabis sisa-sisa waktu menuju tengah malam. Hingga sampailah pada sebuah cafe yang sebetulnya berada tak jauh dari campus yang telah lama kita kenal. Malam itu kita bertujuh seperti masuk pada sisi lain dari pribadi masing-masing. Hingga percakapan tentang rasa dan ketertarikan dengan lawan jenis pun tak bisa dihindari. Entah mengapa selalu ada saja rasa ingin tahu tentang perasaan orang lain. 


Jika kalian selalu bertanya; mengapa malam itu aku menjadi begitu pendiam? Sifat asliku memang tak banyak bicara, introvert dan membenci keramaian. Dulu aku lebih memilih diam daripada mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku, kemudian aku berubah, lebih baik aku mengungkapkan daripada mengganjal dan menjadi luka. Namun kini aku paham, keduanya sama saja, jika tak digunakan tepat pada waktunya justru akan menjadi luka, yang berbeda hanya waktu. Kita setiap manusia memiliki bara di dalam dirinya, yang bisa tersulut kapan saja. Kita yang harus menjaga agar perasaan itu tetap pada porsinya.

Entah itu tentang perasaan perempuan yang mudah untuk direkayasa? atau tentang perbedaan antara rasa kagum dan rasa cinta? atau tentang perjalananmu untuk mengenali karakter setiap perempuan? Aku tak peduli. Aku tak punya niat terselubung untuk mengatakan bahwa "aku sedang ingin bermain-main". Aku hanya baru saja terluka. Semua tentang laki-laki serasa begitu skeptis, hingga membuatku berpikir "semua laki-laki itu sama saja, berbagi pada siapa saja dan lupa pada semua". Tapi yang pasti, hati manusia memang sangat mudah untuk berubah.

Aku menikmati setiap percakapan yang sama-sama kita semua lewati. Tak ada salahnya memang untuk lebih mengenali sisi lain dari seseorang. Meski ada segeliat pertanyaan; bukankah lebih baik jika kita diam dan hanyut dalam perasaan masing-masing tanpa perlu mengenal satu sama lain? Sebab kita adalah kumpulan peristiwa-peristiwa yang telah kita lewati. Kita semua berbeda dalam menjalani kehidupan. Namun disisi lain, bukan berarti kita dipertemukan hanya untuk sekadar berkenalan dan berkerja sama selama dua bulan, fate did not bring us together for nothing, isn't it?

Lesson learned. Proceed onward. Life, love and work, awaits.

M.
Yogyakarta, Juli 2013.

Selasa, 09 Juli 2013

Membaca ART|JOG|13 : Sisa-sisa Identitas Indonesia Negara Maritim

Apa yang kau suka dari mengunjungi sebuah galeri seni? 
Terkadang mengunjungi galeri seni atau pameran seni itu dapat memunculkan ide-ide kreatif sekaligus merasakan suasana artistik, keunikan yang mengena dengan objek yang penuh makna. Para seniman terbiasa berpikir diluar normalitas, dengan imajinasinya yang tinggi, pada titik-titik itulah rasa artistik itu begitu terasa bagi para penikmat seni. 


Dan entah mengapa sejak dua tahun yang lalu saya tidak pernah absen mengunjungi JOG|ART. Karya seni yang ditampilkan di JOG|ART selalu mengena; unik dan penuh imajinasi. Bagi saya, mengunjungi galeri seni merupakan cara lain untuk menumbuhkan inspirasi. Seperti tahun-tahun sebelumnya JOG|ART selalu ingin lebih daripada sekedar pameran seni. Untuk itu mengusung tema adalah suatu hal penting agar lebih memfokuskan diri bagi para seniman untuk menyampaikan kritik melalui karya seni. Tema yang dipilih kali ini adalah tentang Laut atau Marine, sesuatu hal yang sangat dekat dengan identitas Indonesia, namun menjadi kabur dan samar-samar karena tenggelam oleh berbagai macam problematika yang menjerat negara Indonesia.
Di depan pintu masuk JOG|ART|13

Jika melihat halaman depan Taman Budaya Yogyakarta (TBY), yang dikreasikan dengan bekas drum sehingga nampak seperti dinding kapal, dan beranda atas gedung juga disulap selayaknya dek-dek kapal pesiar. Para seniman ini dengan gaya artistik seolah-olah berupaya menunjukkan "Maritime Culture" dengan halus. 


Kini disela-sela kesibukan KKN, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk mengunjungi JOG|ART|13. Sesampai di muka gedung TBY, kami disambut oleh semacam carousel atau merry-go-around yang berisi boneka-boneka putih botak, yang sekilas sebetulnya nampak menyeramkan. Karya tersebut merupakan hasil dari Iwan Effendi berkolaborasi dengan Papermoon Puppet Theatre.  Karya ini diberi judul "Finding Lunang". 

Iwan Effendi berkolaborasi dengan Papermoon Puppet Theatre,"Finding Lunang"

Karya yang ditampilkan di ART|JOG|13 bukanlah karya-karya sembarangan saja, Direktur Eksekurif Art Jog, Satriagama Rakantaseta menjelaskan pihaknya menerima 1.423 proposal karya dari 829 seniman dari 5 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Jepang, Australia, dan Amerika. Kemudian 139 karya dari 188 seniman pun terpilih untuk diikutsertakan dalam bursa pameran ART|JOG|13. Sementara karya-karya yang ditampilkan di JOG|ART|13 memang banyak mengingatkan kita akan sejarah negara kita yang pernah dikenal dengan negara Maritim.

Karya Agapetus A. Kristiandana, Surabaya
Sebuah karya unik yang tampilkan antara lain patung lumba-lumba dan buaya sedang bertarung, sehingga memunculkan legenda asal mula nama kota Surabaya, yang diambil dari kata suro dan boyo.
Borderless: Floating Islands oleh Entang Wiharso
Sebuah karya lain yaitu tentang pulau terapung dengan tema Borderless: Floating Islands karya Entang Wiharso, yang menggambarkan pergeseran generasi, dari masa muda, menjalin kehidupan bersama hingga akhirnya tua. Namun karya favorite saya adalah sebuah patung keramik polyester dengan bentuk seorang anak kecil sedang mengangkat ikan di atas kepalanya. 
Little Girl and the Fish karya Bunga Jeruk
See Through Rose-Colored Glasses karya Erika Ernawan dan Erik Pauhrizi
Atau karya Yani Mariani bertajuk "Samudra, Cakrawala, Garis Tangan", menyatir sebuah laku yang begitu dekat dengan kita "Nenek Moyangku seorang Pelaut", Yani mencoba mnegimajinasikan dalam karyanya agar kelak kita selalu mengenang bahwa kita pernah ada lahir dari garis tangan para pelaut, a tribute to the Mariners of the Archipelago.
Karya Yani Mariani bertajuk "Samudra, Cakrawala, Garis Tangan".
Teman-teman KKN :) 
Berhubung saya dan teman-teman KKN sendiri tidak memiliki banyak waktu, kami hanya sempat mengunjungi ART|JOG|13 pada pukul 21.00 sementara pukul 22.00 sendiri tempat tersebut sudah harus ditutup. Kurang puas rasanya jika harus menikmati pameran JOG|ART|13 dalam waktu yang begitu singkat. 

M. 
Yogyakarta, Juli 2013

Sabtu, 09 Februari 2013

Membaca Perempuan Baik-Baik



“The most painful thing is losing yourself in the process of loving someone too much, and forgetting that you are special too.”
— Ernest Hemingway (Men Without Women) 



Memang tak ada yang lebih menyakitkan selain dinilai rendah oleh orang yang selama ini kita cintai diam-diam, tapi semoga saja aku hanya rendah di matamu bukan di hadapan Tuhan. Sebab aku tahu betul, aku selalu berusaha menjaga hati agar menjadi perempuan baik-baik. 

M.
Yogyakarta, Februari 2013.

Selasa, 01 Januari 2013

Membaca 2013

It's time to welcome the fresh New Year with fresh hope, fresh expectations, forget the past just think about ahead. Happy New Year 2013 to all :)

Wishing you all the courage to continue, along with a happy, healthy, and prosperous New Year! 

M, 
Yogyakarta, January 2013. 

Selasa, 04 Desember 2012

Reading Law Student's Life :)

In this last month, I found myself having a conversation with some friends regarding our shock over the fact that we are now start third year of our law school experience.

This milestone caused all of us to reflect on our time at Faculty of Law in UGM and there seemed to be one thing in particular that was at the forefront of our minds: law school experiences. It might seem as though not that much could change in a year, but there were many marked shifts that all of us had picked up on, and more busy in many activities. In first year, I think the intense fear and confusion as to how to approach law school exams probably led a lot of the class to get bogged down in a lot of irrelevant details when reading. By second year, you develop the ability to become more intuitive about the facts that are going to actually be worth knowing. I have often heard people comment that second year is harder than first year then third is harder than second.

From an academic perspective, this is probably true. The first year are long gone and it is sometimes only when you are a day into studying for an exam that you really start to get a picture of how the cases of a course tie together. However, I don’t think that this year is harder on the whole. Yes, the volume of reading is greater, but you can get through it faster. Yes, the courses are harder in terms of the law being more challenging, but they are courses that you have chosen and thus are more likely to be interesting to you.

The main difference that I would like to explore here is the way that you learn. I still remember sitting down with my first case on PLKH is Tort (Deed of tort/Perbuatan Melawan Hukum) and not knowing where to begin. But from this kind of studying method, I was actually learn a lot rather than when I am just sitting in the class.

December instilled a small amount of confidence that we could at least make it through a law exam without fainting, but I think for most of us, we saw what changes we had made worked, and those that didn't  This was so important because it enabled us to start to truly figure out what professors look for when we are writing an exam, and in turn this greatly influenced the approach to studying.

So, i am looking forward for the next session, focusing study on international law. 








All of this, are my pics gallery when studying Law on practice, so much fun since I was so lucky for having nice friends and good team, thank you for all of  PLKH team F2 \(^.^)/

~cheers :)

M, 
Yogyakarta, December 2012

Rabu, 18 Juli 2012

Membaca ART|JOG|12

ART|JOG|12 adalah sebuah art fair yang diselenggarakan pada 14-28 Juli 2012 di Taman Budaya Yogyakarta. Perhelatan seni ini memamerkan 195 Karya yang dikerjakan oleh 150 seniman. ART|JOG kelima kalinya ini hadir semenjak tahun 2008 untuk menyemarakkan dunia seni rupa Indonesia dan Asia. Panitia membuka diri selebar-lebarnya kepada para seniman untuk mengajukan aplikasi yang telah dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2012 lalu. Hasilnya departemen arstistik  ART|JOG|12  harus melakukan seleksi terhadap 883 aplikasi dengan karya berjumlah 1.692 buah. 
Tema dari ART|JOG|12 di pintu masuk.

 
Gambar baliho dari ART|JOG|12

Mengetahui ada event semenarik ini sebetulnya setelah membaca berita di Koran Kompas kolom Galeri. Saya sempat tertarik dengan  ART|JOG  yang diadakan tahun lalu, karena karya seni yang dipamerkan sangat aktual dan syarat nilai-nilai refleksi baik itu permasalahan sosial, ekonomi, politik ataupun budaya itu sendiri. Tema yang ditampilkan pada  ART|JOG|12  kali ini yaitu “Looking East: A Gaze upon Indonesia Contemporary Art” artinya Art-Fair ini diangkat sebagai suatu upaya untuk (kembali) mencari dunia (yang disebut) timur; sebagaimana dahulu negara-negara Barat berlomba-lomba mencari hasil bumi dan bahan mentah sampai di kawasan Timur, termasuk Indonesia. Acara ini seolah-olah menunjukkan keadaan Indonesia dari kacamata para seniman.

Pintu masuk TBY yang juga dijadikan buah karya berjudul "The Lost Vegetation" karya Joko Dwi Avianto, merupakan simbolisasi vegetasi "hutan" yang berubah wujud bahkan hilang. 

Karya yang dipamerkan di depan pintu masuk Taman Budaya Yogyakarta berjudul, "Hope and Hold" karya I Made Widya Diputra, sebuah kritik terhadap bangsa Indonesia. Negara yang kaya akan pangan tetapi masih banyak warganya yang tidak sejahtera ibarat 'Kelaparan di Lumbung Pangan' divisualisasikan melalui gajah yang mati kehausan diantara tumpukkan kelapa (air kelapa). 

Pada dasarnya  ART|JOG|12  dibagi menjadi tiga seksi yaitu art fair, commission work dan special presentation. Pada seksi commission work akan tampil tiga seniman yaitu I Made Widya Diputra, Joko Dwi Avianto, dan Angki Purbandono. Sementara special presentation menampilkan Ashley Bickerton (AS) dan Wim Delfoye (Belgia). Perhelatan seni ini  menampilkan karya-karya seniman pemula dan senior.


sebuah karya, perpaduan antara wayang dan robot


conscience (suara hati)


Karya ini berjudul "They Say, Upright to me, Upside Down to you" karya Ivan Sagita, merupakan wujud alam sadar yang menggerakan individu-individu.

Laksmi Sitaresmi menciptakan karya ini untuk menerangkan bahwa gajah merupakan simbol kekuatan yang bermartabat, di karyanya tersebut gajah yang memiliki payudara banyak menjadi sebuah harapan bagi kediriannya untuk menjadi seorang perempuan yang  berguna dan berlaku adil bagi semua terutama anak-anak, karya ini diberi judul "The Rhythm of the Balance of My Life".

Karya Endang Lestari berjudul "Blow Me (I want to be primitive without culture)" merupakan kisah meniup yang dikenal di berbagai kisah reliji dan mitologi. Ini merupakan salah satu karya yang menjadi favorit saya, karena ssangat detail dan mengena. 

 replika tempat jenazah

Bagi saya  ART|JOG|12  ini menarik untuk dinikmati, kita bisa berefleksi sebagai bangsa besar yang telah banyak mengalami peristiwa yang patut untuk dokumentasi. Para seniman berupaya untuk divisualisasikan melalui karya-karya seni yang diimbuhi banyak kritik, misalnya dalam sebuah lukisan yang dipenuhi oleh branch atau merk dagang kemudian ada tulisan "Hello, rich people...!".

lukisan merk dan brand: Hello rich people..!! Merupakan sindiran terhadap kesuksesan perusahaan-perusahaan besar dalam sistem kapitalisme.

penggambaran kekuasaan perempuan yang ironis

Berjudul "Wayang Lakon Terwelu Girl Band" karya Agustina Tri Wahyuningsih, sebuah kritik terhadap fenomena menjamurnya Girl Band dan Boy Band di Indonesia



lukisan dua wajah, yang jika dilihat dari kanan tanpa topeng dan jika dilihat dari kiri menggunakan topeng, seolah-olah cermin sikap dan perilaku manusia.

kaki kuda dan jas

Berjudul "The Wild and The Beast" karya Sri Astari, pengambaran bahwa dari setiap diri manusia terdapat kekuatan naluri alamiah, semangat kekuatan dan indera mengenali yg jernih, perempuan liar yang mewakili naluri alamiah. Sedangkan komodo merupakan pengambaran hewan liar dan langka yang menapaki pantai-pantai kehidupan.



Berjudul "Mythic Airways" karya Pintor Sirait, sebuah refleksi untuk memahami mitologi dasar budaya Indonesia, mengambil sejarah ringkas industri dirgantara Indonesia sebagai sebuah metafora untuk menyampaikan pola-pola budaya cetakan secara mendalam yang ditampilkan melalui judul-judul bermacam-macam media cetak.


Karya Adi Panuntun ini berjudul "Constellation Neverland", penggambaran kerinduan akan hujan dan salju diwujudkan dengan pembuatan lingkungan artifisial. Semua ini diwujudkan untuk membangun suasana hati penontonnya sehingga dapat mempengaruhi pengalaman emosi dan pikiran-pikiran manusia.

Merupakan gerobak yang ditarik oleh kuda, namun seekor kuda tersebut hanya divisualisasikan melalui ekor-nya yang dapat bergerak-gerak setiap beberapa detik. Sehingga jika didekati cukup mengagetkan.


Video ini menggambarkan lukisan yang terbakar, tertiup angin, dan disiram hingga luber namun tetap kembali eksis seperti semua. Perwujudan semangat yang tak hilang meski menghadapi berbagai tantangan.

Penggabungan antara lukisan dan video. Tentu tahu ini objek dari karya ini merupakan mata dan bibir indah dari aktris Hollywood, Angelina Jolie. Menonjolkan sisi-sisi keindahan perempuan yang biasa dinikmati secara visual.  

Lukisan wajah perempuan berbagai ekspresi, lukisan ini cukup unik karena lukisan ini timbul serta memiliki ekspresi kuat yang cukup mengerikan.


Foto Marilyn Monroe yang dibuat dari tuts-tuts aksara berbagai bahasa, bahkan jika dilihat secara jeli ada yang merupakan aksara jawa.


Hasil fotografi unik yang memadukan antara hal biasa dengan hal yang tak biasa.

Sebuah piringan hitam yang disusun dan dipahat hingga membentuk tengkorak.

Berjudul "Red Cycle" karya Erianto, sangat unik dengan roda bersegi enam.

Karya Budi Kustarto bertajuk "On the Move", merupakan penggambaran tubuh manusia dalam patung menghadapi banyak persoalan-persoalan hidup ada yang dipisah-pisah, dikotak-kotakkan selayaknya sebuah barang yang hanya dilandaskan kepentingan hidup semata. 

Dagadu yang merupakan merk souvenir terkenal di Yogyakarta juga menyediakan souvenir khusus di acara ini.


Para perusahaan yang telah memberikan sponsor dalam terselenggaranya event ART|JOG|12 ini.


pintu keluar ART|JOG|12


Sebetulnya masih banyak karya seni luar biasa yang dipamerkan di ART|JOG|12 ini. Beberapa diantara menyiratkan makna filosofi hidup dan menunjukkan realitasnya kepada manusia dan khalayak. Bagi para pengunjung, ART|JOG|12 bukan saja sekedar arena transaksi jual beli karya seni. Lebih dari itu, ART|JOG|12 menawarkan ruang pertemuan dan interaksi langsung antara karya seni, seniman, dan publik seni dari beragam latar belakang profesi dan geografis, yang disatukan dalam satu peristiwa: pengalaman artistik yang unik dan eksklusif, yang tidak akan bisa tergantikan di tempat atau kegiatan lainnya. Maka memang  sangat berkesan jika bisa datang langsung mengunjungi event ini. Untuk informasi lebih lengkap bisa juga membuka website resminya di artfairjogja .


enjoy~

M.
Yogyakarta, Juli.