Tampilkan postingan dengan label Reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reflection. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Januari 2013

Membaca 2013

It's time to welcome the fresh New Year with fresh hope, fresh expectations, forget the past just think about ahead. Happy New Year 2013 to all :)

Wishing you all the courage to continue, along with a happy, healthy, and prosperous New Year! 

M, 
Yogyakarta, January 2013. 

Rabu, 21 November 2012

Reading: The Harsh Realities of Life

You may ask, can we face reality? can we do the right thing? All of those questions always make us worry, even learn to face reality can spend more time doing something constructive about things that you have control over.


Akhir-akhir ini aku sering datang ke pengadilan negri dan entah mengapa suasana di pengadilan selalu membuatku semakin dekat dengan pahitnya realitas. Orang-orang berlalu lalang, sibuk kesana kemari dengan wajah yang penuh kegelisahan. Sikap itu ditunjukkan dengan beberapa orang yang sibuk mengecek hp, membolak-balik berkas-berkas penting, kulihat juga seorang lelaki disudut ruang tunggu tak henti-hentinya merokok demi menghilangkan kecemasannya yang tak kunjung reda. Belum lagi beberapa polisi yang berjaga-jaga dengan membawa senjata berdiri dengan wajah serius di depan pintu masuk pengadilan. Suasana seperti ini memang selalu penuh dengan tekanan. 

Hari ini aku juga harus mengikuti monitoring persidangan di salah satu pengadilan negri di provinsi DIY. Paling tidak sedikitnya aku harus mengikuti lima kali persidangan dan meminta tanda tangan pak Hakim sebagai bukti bahwa aku telah mengikuti jalannya persidangan. Ini membuatkan sering berada di Pengadilan menunggu untuk beberapa jadwal sidang yang kadang juga tak pasti dan bolak-balik untuk mengurus berkas. 

Aku sendiri sudah hampir satu jam menunggu dimulai persidangan perkara perdata yang pertama, persidangan perkara perdata harus selalu menunggu ruang sidang kosong sampai persidangan perkara pidana selesai, bagaimanapun aspek publik harus lebih penting daripada aspek privat. Hasilku bertanya informasi sana-sini, sidang selanjutnya mengenai perbuatan melawan hukum tentang perkara waris dan sengketa tanah. Perkara perebutan harta warisan memang selalu banyak melibatkan penggugat ataupun tergugat. Hari itu yang berperkara adalah kakak yang menggugat adiknya mengenai objek waris yang belum dibagikan akan tetapi si adik sudah menjadikan jaminan agungan kredit di suatu bank. Hal itu terjadi atas inisiatif dari pengurus bank terkait. Persidangan berlangsung cukup menarik karena masing-masing pihak menghadirkan saksi yang memberatkan. 

Hari yang sama, aku mengikuti persidangan perdata terakhir di PN berupa pemohonan. Dua orang perempuan sama-sama datang ke PN memohon atas perwalian anak mereka untuk mengurus harta warisan peninggalan sang suami. Awalnya aku tak paham mengapa kedua perempuan itu memberikan saksi yang sama untuk dikabulkannya permohonan tersebut. Bahkan pak Hakim pun juga heran, ternyata mereka adalah istri pertama dan kedua yang sama-sama tinggal di desa yang sama meskipun rumahnya berbeda. Dengan sedikit guyonan sambil melirik ke arahku yang memang sedikit terkejut kalau mereka memang perempuan-perempuan yang telah dipoligami, pak Hakim berkata, “Ini pasti almarhum suaminya ganteng ya? Sampai bisa punya dua istri dan tinggal di kampung yang sama dengan rukun, bahkan mbaknya mahasiswa sampai terheran-heran”. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi apa kata pak Hakim. Aku bahkan memastikan bahwa kedua perempuan tersebut merupakan istri yang sah atau bukan hasil nikah siri dan memang mereka dinikahi dengan sah, ada bukti surat pernikahan yang ditinggalkan. Bagiku, pemandangan yang jarang melihat dua perempuan rukun hasil dimadu, terkadang ada sinisme dalam hatiku, jangan-jangan mereka rukun hanya saat pembagian harta warisan saja tidak di kehidupan sebelumnya. 

Beberapa hari sebelumnya aku pun sempat mengikuti persidangan gugatan perdata mengenai perkara perceraian. Begitu banyak orang menginginkan pernikahan tapi disisi lain banyak pula yang justru berakhir dengan perceraian. Meski persidangan berakhir dengan adanya upaya damai dari pihak penggugat (suami) namun tetap saja mengirimkan surat gugatan perceraian juga sudah ada niat untuk bercerai. Akhir-akhir ini aku juga banyak berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang berkaitan dengan berkas-berkas perceraian di Hukum Acara. Beberapa hal memang memberiku banyak pelajaran bahwa pernikahan itu bukan hanya berdasarkan perasaan. Cinta saja tidak akan pernah cukup untuk membangun sebuah keluarga. Sifat manusia yang begitu mudah berubah, lupa, dan terlena dengan apa yang mereka miliki menjadikan komitmen begitu penting untuk menjaga keutuhan sebuah hubungan. 


Inilah yang aku katakan dengan pahitnya realitas, hanya demi harta antara kakak-adik saling bersengketa. Padahal mereka berasal dari rahim yang sama, seolah-olah tak ada lagi hubungan darah itu. Atau mengenai perkara perceraian dan poligami, yang memang terasa pahit dan begitu enggan kita membicarakan hal-hal semacam itu meskipun kita juga tahu bahwa hal semua itu bukan hanya cerita bualan, semua itu adalah hal yang mungkin terjadi di kehidupan kita. Meski yang aku ceritakan itu bukan merupakan realita yang harus aku hadapi. Sebetulnya ada banyak hal lain yang harus aku hadapi dan memaksaku untuk berubah. Nobody likes to admit that it is time to change behaviours and attitudes. Yet the time comes where wisdom demands that we acknowledge that what we are doing is not generating the results we want. This is especially true when we know what works because we were doing it long enough to see it work. Yet, out of laziness and foolishness, we stop doing what works and the results we worked so hard to achieve gradually melt away. Semakin kita dewasa semakin kita tahu bahwa hidup tidak akan pernah bisa datar-datar saja. Masalah akan selalu ada. Kita tak akan pernah menyangkal bahwa terkadang pahitnya realita itu adalah bagian dari kehidupan yang harus kita jalani. This is the reason why I’m still nervous to face reality. Reality does sucks. But here's the things is looking at reality does not mean giving up hope. It's where you find hope in what you can change...and not trying to change others.

M.
Yogyakarta, November 2012.

Kamis, 01 November 2012

Welcome November Rain

Di akhir bulan ini hampir setiap hari hujan turun. Kini sudah mulai memasuki November. Dan bulan ini memang selalu identik dengan hujan. Kadang hujan itu menyenangkan, kala udara dingin senyap yang diam-diam memelukku. Irama air menetes dan aroma tanah yang begitu segar menerobos kerongga-rongga hidungku. Langit kelabu membawa suasana seolah-olah sendu namun begitu menenangkan hanya bunyi rintikan air yang terus saja berirama. Seolah-olah irama rintikan itu terus memanggilku. Tik..tik..tik... 

Hujan mengingatkanku pada satu momen tertentu dalam hidupku. Dimana saat itu aku masih amat sangat muda. Kelas 1 SD, sekitar umur 6 tahun, aku selalu memperkenalkan diri dengan nama T-I-K-A. Karena nama itu teman-temanku gemar sekali menggodaku dengan sebuah nyanyian anak-anak. Tik, tik, tik bunyi hujan diatas genting... Begitulah kira-kira salah satu liriknya. Maka teman-temanku yang usil, mereka seolah-olah hendak menegurku, “Tik! Tik!”. Kemudian ketika aku memalingkan muka kearah mereka tiba-tiba mereka kembali menyanyikan lagu itu, tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua. Argh! Tentu saja aku kesal. Namun semua itu nampak lucu sekarang. Menggelikan. Mengesankan. 

Kini hanya orang-orang dekat saja yang memanggilku dengan nama Tika. Tidak banyak tapi justru itu membuktikan kedekatanku dengan mereka. Kebanyakan dari mereka yang memanggilku dengan nama itu, tentu tahu tentang nama kecilku. Nama kesayangan pemberian orang tua. Nama itulah yang terkadang aku rindukan. Oleh sebab itu aku selalu merasa hujan itu terus memanggilku. Seolah-olah kami begitu dekat. In this very moment, I choose to focus on the good feelings of rain. It provides a warm sense of security. Because rain is water and water is life. While there are mishaps caused by rain, rain as a metaphor is invariably life enriching. There is torrential downpour which destroys, but mostly rain is revered because it is a necessary component of growth.

Dulu hujan selalu membuatku menari-nari. Begitu menyenangkan bermain-main kesana-kemari tanpa memikirkan apapun. Tanpa mengkhawatirkan apapun. Tanpa ekspektasi. Kini enam belas tahun kemudian, bulan November menjadi bulan yang semakin penuh misteri. Dan nasibku pun akan ditentukan oleh bulan ini. Aku diam-diam selalu memohon. Berdoa dalam hati kecil. November, jadikanlah semua momen di bulan ini menjadi lebih baik. Less worries. Less impulsive. Less pressure. Hujan di bulan November antarkan aku pada impian-impian itu...

Di telingaku, hujan terus memanggilku dengan nada lagu itu, tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua... 


M. 
Yogyakarta, hujan di awal bulan November 2012.

Minggu, 28 Oktober 2012

Reading : Contemplation

Kemana sajakah kau beberapa bulan terakhir ini? 
Sudah terbangunkah dari tidur-mu yang panjang itu? 

Aku membaca koran-koran itu setiap hari. Berbagai peristiwa dan fenomena terus berubah seperti pementasan wayang non-stop 24 jam. Aku tidak tidur dan tidak pula benar-benar sadar akan apa yang terjadi. Aku hanya merasa seperti zombie yang terus bergerak sama. Tapi pikiranku tidak benar-benar mati. Layaknya menyaksikan pertunjukkan tanpa sedikitpun ingin menjadi bagian dari pertunjukkan itu. Aku membiarkan diri melayang sejenak namun berusaha untuk tetap berpikir: lalu munculah kata 'kontemplasi' itu. Semua orang butuh berkontemplasi, menenangkan diri barang semenit kemudian beranjak. 


Apa yang sebetulnya terjadi diluar sana? 

Para sosiologis sibuk membicarakan zaman macam apa yang sedang kita hadapi. Para sastrawan sibuk merangkai kata-kata yang mampu melukiskan fenomena demi fenomena yang ada di masa ini. Para ilmuwan sibuk mengutak-atik rumus-rumus untuk memecahkan misteri-misteri kehidupan yang tak kunjung terpecahkan. Para ahli hukum sibuk mendefinisikan keadilan macam apa lagi yang harus ditegakkan di dunia ini. Para dokter sibuk menemukan obat-obat ajaib untuk memusnahkan penyakit-penyakit yang semakin misterius. Para agamawan sibuk berdakwah perihal surga dan neraka yang semakin sulit dipahami oleh orang-orang di zaman yang semakin sekuler ini. Para politisi semakin sibuk meracau karena makin banyak orang ingin saling membongkar di zaman ini. 

Semua sibuk. Namun dimanakah aku diantara orang-orang yang sibuk itu? 

Padahal aku juga merasa sibuk. Aku merasa tak pernah berhenti bergerak tapi entah mengapa diriku dimataku seolah-olah serupa. Aku terus merenungi diri memandangi tabiat-tabiatku dimasa lalu. Melintasi setiap untaian ruang dan waktu yang telah terlewati. Apakah yang sudah terlewati itu? Melihat sekelilingku dan mendapati begitu banyak perubahan. Betapa waktu itu telah mengikis kehidupan. Sementara aku hanya berjalan ditempat yang sama dengan kondisi yang sama pula. Ataukah aku yang berjalan terlalu lambat? Hingga dunia ini terasa begitu cepat menggerakan waktu. Missing the achievements. Less productivity. Mungkin itulah yang menjadi jawabannya. 

Sudah saat untuk menggertak sebetulnya. Membangkit soul dalam diri yang sudah lama mati. 
Heh, BANGUN!

M.
Yogyakarta, minggu malam di akhir Oktober 2012.

Sabtu, 07 Juli 2012

Scar

"And be grateful. Our scars have the power to remind us that the past was real." 

– Dr. Hannibal Lecter, from Red Dragon.

 

Sebuah bekas luka, mungkin setiap orang memilikinya di tubuh mereka. Terkadang terlihat mengerikan atau membuat kita merinding. Tetapi bekas luka itu ada bukan tanpa arti. Selalu ada makna dibalik guratan-guratan luka yang tertorehkan. 


Ada beberapa tokoh dalam fiksi yang membahasakan makna hidup mereka dengan bekas luka, misalnya Harry Potter dengan luka di dahinya yang terjadi karena perlindungan sang ibu dari mantra kutukan mematikan Lord Voldemort. Ada pula tokoh manga Kenshin Himura dalam Samurai X, sebuah luka di sebelah pipi kiri-nya yang berupa huruf X dan membuktikan bahwa dia adalah legenda Batosai si Pembantai di masa lalu, kemudian ada Pangeran Zuko dari serial Avatar: The Last Airbender yang memiliki luka bakar di mata kirinya, yang merupakan hukuman dari Negeri Api dan membuatnya tidak bisa lagi kembali ke tahta Negeri Api kecuali dengan syarat berhasil menangkap Avatar. 

Di kehidupan nyata sikap setiap orang berbeda-beda. Sebagian dari mereka, ada yang mencoba menyembunyikannya karena terlalu menyakitkan. Ada yang sengaja menunjukkannya untuk membuktikan dia adalah seorang yang kuat. Ada yang menjadikannya sebagai ciri khas selama hidupnya. Namun ada juga yang berusaha mati-matian untuk menghilangkan bekas luka itu.

Aku pun memiliki bekas luka. Sebuah bekas luka yang ada di tangan kananku, yang aku dapat dari kecelakan dengan mobil di akhir tahun 2011. Banyak teman ataupun saudara yang menanyakan bekas luka itu. Terkadang aku hanya tersenyum meringis, terkadang menjawab seadanya atau juga berlalu mengabaikan semua pertanyaan-pertanyaan itu. Aku tak banyak memikirkan bekas luka itu hingga saat ini. Entah mengapa akhir-akhir ini setiap kali aku memulai aktivitasku seperti menulis, makan, membaca, ataupun yang lainnya. Dan melihat luka yang ada ditangan kananku itu. Aku seperti dipaksa kembali mengingat bahwa kecelakaan itu memang nyata. Aku benar-benar mengalaminya. Aku merasakan setiap detail dari ingatan akan hari itu. Tentu saja ini membuatku lebih menyadari, apa jadinya jika hari itu, ada mobil lain dari arah berlawanan yang datang dengan begitu cepat dan menabrakku yang terkapar di tengah jalan. Adakah alasan lain dari Tuhan untuk menyelamatkan aku selain dari kesempatan untuk tetap hidup dan memperbaiki diri? Kadang kita memang harus menyadari bahwa manusia memang terbatas, bukan untuk merendahkan diri dan putus asa tetapi untuk lebih mensyukuri kehidupan yang telah kita miliki dan tidak menjadi greedy.

Bekas luka lain yang membuatku terpana adalah guratan-guratan bekas luka yang ada di perut Ibu. Aku sempat memperhatikannya saat membantu mengolesi minyak kayu putih di perut Ibu ketika dia merasa tidak enak badan. Kemudian dengan bodohnya aku justru bertanya, “Ini bekas luka apa Bu?” Dengan suara pelan Ibu menjawab, “Bekas luka hamil dan melahirkan lima orang anak”. 

Aku hanya terdiam seribu bahasa mendengarnya. Aku pun memahami bahwa bekas luka itu memang nyata untuk mengingatkan kita bahwa benar adanya kita pernah berada di dalam perut ibu selama sembilan bulan sebelum akhirnya menghirup udara segar dunia. Bekas luka itu menunjukkan bahwa benar adanya seorang ibu berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan kita di dunia. Bekas luka itu mencoba menjelaskan bahwa kita pernah menjadi bayi tak berdaya dan lemah sebelum akhirnya tumbuh dan bertahan hidup hingga saat ini. Apalagi jika proses melahirkannya melalui jalan operasi caesar, bekas luka itu tentu lebih terlihat jelas. Tidak ada alasan sebetulnya untuk membuat hidup kita menjadi tak berarti. Banyak yang telah diperjuangkan oleh orang-orang disekitar kita hingga bisa bertahan sampai saat ini.

God tries to remembering us with many ways, including with this scar.
It is so true that scars prove you’re vulnerable, but they also show you’re a survivor.
Life and let life...

M.
Yogyakarta, Juli 2012

* Photo by Emilia Tjernström
A nomad girl, who got kicked in the forehead by a donkey when she was little. It is quite a scar. Campement, in the vicinity of the village of Tabrichat, northern Mali, January 2007. 

From: http://www.flickr.com/photos/modern_nomad/with/414643458/

Jumat, 01 Juni 2012

It’s already June?!


Halfway through the year! Now usually I don’t pay attention to the dates anymore. I run on two uni every week so I usually don’t know what the date is, or even the day actually, it is examination months (because I have three weeks only for examinations) T.T

I’ve stopped paying attention to time, well dates, ever since the end of uni just because then I think I’ll think too much about it and then it’ll depress me looking back at the year so far and how I haven’t actually achieved anything. And perhaps there’s also other reasons too that stem way too far down where the planting wounds have already healed. So let’s not go there.

Well, the truth is because I tried hard to remembering someone’s birthday recently so that does make sense that I realize fully: it’s already June!

So yeah. I’m quite oblivious to everything until it gets to the end of the year. Then another year. Then the end. Then another...Then yeah. This is Life.

I just wish in the next days, months, years, I can always be better and better, for my own sake and for the sake of the people that I love. Well, this is kind of an early wish, but its okay. Happy June! :)


Rabu, 01 Februari 2012

Welcoming February


Sometimes memories are the reasons why we can’t move on. All these memories I looked past as I tried so hard to hold onto us, have found their way to the surface where they belong. And you float away, hooked under the tide, taken below to the deep dark depths of my head. You are memories. Those memories not worth keeping, and the ones that will eventually fade away.
Aku tidak pernah membenci Februari hanya karena aku punya banyak silly-memories di bulan ini. Bagiku bulan Maret selalu lebih menyenangkan karena my-special-month-ever ;) Sama seperti jeda dimana kamu menunggu sesuatu hal yang spesial. Masa sebelum hal-spesial-itu-tiba dibandingkan dengan masa-spesial-tiba tentu lebih menyenangkan masa-spesial-tiba bukan?

Aku punya banyak kenangan spesial di bulan Februari. Selalu ada perayaan kecil dan tradisi yang ingin terus aku imajinasikan di bulan Februari, meskipun aku sudah tak lagi merayakannya, meskipun aku sudah tak bisa lagi menikmati kesempurnaan disetiap momen-momen indah yang dulu bisa aku rayakan, meskipun aku sudah tak sama. Tetapi kenangan memberikan ingatan yang hidup bahkan untuk sekedar tersenyum.


So, i’m welcoming you February ;)
Regards *hug*

Minggu, 01 Januari 2012

New Year’s Reflection: Destination, Goal, or Resolution?


Kadang kalo kita ngobrol soal masa depan, banyak banget yang pengen kita lakuin, apalagi setiap pergantian akhir tahun. Kita bahkan bikin resolusi ini atau itulah. Beberapa hari lalu, aku sendiri bikin loo list-nya. Apa yang ingin aku capai, apa ingin aku lakuin. Tapi sepanjang aku alamin dari bikin list Resolusi buat tahun baru, terkadang aku bingung sama diri aku sendiri, apakah semua list itu bener-bener kamu kejar karena kamu ingin capai atau kamu hanya bingung dan takut tentang masa depan kamu? Apa tujuan hidup kamu? Jadi apa kamu suatu hari nanti? Sampai terkadang kita lupa untuk sekedar look around.

Aku terlampau sibuk kuliah dan sibuk kegiatan organisasi, sibuk memikirkan gebetan, sibuk memikirkan diri sendiri dan masa depan sendiri sampai aku lupa bahwa aku selama ini terlalu cuek dengan keluargaku. Aku terlampau egois. Aku lupa kalau salah satu dari seribu alasan kenapa harus stay di jogja supaya aku deket dengan keluarga. Dekat dengan ibu dan bapak, karena aku perempuan dan bungsu, sudah enam tahun merantau ke Garut, jauh dari orang tua sudah banyak waktu yang aku buang untuk lebih mengenali orang tuaku, untuk dekat, berbagi dan membalas cinta mereka. Padahal kalo suatu hari nanti aku menikah, aku-harus-mau-ngikut-ke-suami walaupun aku cinta mati ama kota Jogja. Kadang kita gak pernah sadar bahwa saat muda dan dekat dengan orang tua itu adalah saat terbaik dalam hidup kita. Dan sampai saat ini, i missed all the great things along the way.

Yes, i really want to have A GRATEST LIFE! But hey, do you ever realize that being life is a greatest thing ever! Banyak sekali kebingungan yang kita hadapi di dunia ini. Banyak temen yang nanya, kalo kamu sudah menggapai semua mimpi kamu terus kamu mau ngapain? Kalo udah lulus terus mau kemana? Kalo udah nikah terus mau punya anak berapa? (kok kayak iklan KB? TT) Blah...blah... kita selalu terpaku dengan tujuan, goal dari semua resolusi yang kita tulis tanpa kita sadar berapa banyak hal berarti yang sudah kita dapat dari hidup, kayak sahabat, ilmu, cinta dan keluarga. Aku bukan Mama Lauren for God’s sake yang bisa ngeramal apa yang aku omoningin ini seriously true or just simple-mature-syndrome (emang Mama Lauren tau juga?^^) Aku jelas bukan orang yang selalu benar, aku bisa salah juga. Ini cuma masalah perspektif hidup aja. Ini adalah pemikiran aku tentang perjalanan hidup, dan seperti apa yang dibilang dalam buku the Journey, “hal paling menarik dari sebuah perjalanan adalah menemukan”. Aku selalu mencoba untuk bisa menemukan makna, menemukan diriku sendiri, menemukan cinta (menemukan kamu woy, my future’s husband!!! ~galau^^) dan juga menemukan kehidupan. Sebuah pepatah filosofis dari Søren Kierkegaard yang selalu aku ingat, soalnya aku tulis di buku diary tugas Sosiologi jaman-jaman Madrasah,
“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards."
.
So,it's not about destination, goal, or resolution? Destination is just a tiny slice of the journey. We’re so worried about goals, about our future, we miss all the great things along the way. If you’re fixated on the goal, on the end, you won’t enjoy it when you get there. You’ll be worried about the next goal and the next destination.
Happy New Year!!
Regards.
^^

Selasa, 06 Desember 2011

Reflection: Clear, Forgive, and Accept

After those terrible accident.

Finally I found my courage to accept, move on, and most importantly heal. Things never get exactly easier, but things don’t have to be a constant struggle either. I just expected for so long for things to blow over on their own, with my luck they always do. To assume I didn’t need to accept responsibility for any of the mishaps.

Everything is coming to a closing this year, and as with such things- some things you take with you and the majority of it you leave behind. After all, life is based on experiences not perceptively how much you have in the here and now. I’ve just got to remind myself of that, how fortunate life truly has been for me. And it feels so perfect to know the majority of what I’ve wanted throughout life, I’ve had. I’m just far too hard on myself.
~thanks God ;)

*pictures from tumblr.com