Jumat, 30 November 2012

Membaca: Apakah Kita


Apakah kita?
Siapakah aku?
Dan siapakah kamu?
Apakah benar ada benang merah diantara kita?
Apakah kita api yang bertemu dengan api sehingga mengobarkan?
Apakah kita air yang bertemu dengan api sehingga memadamkan?
Ataukah kita air yang bertemu dengan air sehingga menghanyutkan?
Mungkinkah kita hanya akan terus melukai satu sama lain?
Dan ketidakbersamaan itu adalah hal terbaik yang kita miliki.
Sampai kita mampu meredam emosi dan menilap rasa.
Sehingga aku bisa menjawab sebuah pertanyaan janggal yang ada dalam hati:
Mengapa begitu sulit untuk saling bertemu?


M.
Yogyakarta, Akhir November 2012.

Senin, 26 November 2012

Membaca Doa untuk Ibu

Mungkin tulisan ini akan seperti keluh-kesah saja. Namun izinkan aku meluapkan tentang sesal yang begitu berkecamuk dalam hati selama seminggu ini. Tentang seorang perempuan yang begitu berpengaruh dalam hidupku, Ibu. Begitu besar keinginanku untuk mewujudkan impiannya-impian kami bersama. Namun aku justru terlunta dalam bias mimpi-mimpi itu. 

Hari itu aku baru selesai kelas Hukum Perdata Internasional. Diskusi menarik selama di kelas membuatku melupakan getaran-getaran handphoneku yang sedari tadi sudah aku rasakan. Selesai kuliah aku menyempatkan diri untuk mengecek daftar pesanku, kulihat beberapa sms dan panggilan tak terjawab dari bapak. Dia berusaha mengabariku bahwa ibu masuk rumah sakit dan masih di UGD. 

...

Tak ada seorang pun di dunia ini yang senang melihat orang yang benar-benar kita cintai menderita. Melihatnya terbaring lesu tak berdaya pada ranjang besi dengan pipa saluran infus, pemandangan itu benar-benar membuat hatiku terluka. Ada semacam ketakutan besar yang mencekam dalam lubuk hatiku meski aku tak pernah ingin tahu alasan apa yang mendasarinya. Ingin rasanya ku tepis semua pikiran-pikiran buruk itu. Tubuhnya yang semakin lemah, rambutnya yang telah putih dan kulitnya yang juga telah keriput membuatku semakin menyadari bahwa ibu sudah semakin tua. Rapuh. Aku hanya bisa terdiam seribu bahasa disampingnya. Nafasnya terdengar berat dan teratur, aku benahi selimut yang membelit tubuhnya dengan acak-acakan. 


Ibu sudah berumur 62 tahun, dia berumur 40 tahun ketika melahirkanku di dunia, umur yang penuh resiko untuk melahirkan. Beberapa dokter yang ada saat itu mengatakan hal sama, namun ibu tetap istiqamah dan siap dengan apapun yang akan terjadi. Ibu mana yang tak rela berkorban demi anaknya? 

Sejujurnya, aku tak begitu dekat ibu. Kami berbincang-bincang, curhat, membicarakan banyak hal tetapi aku tak benar-benar bercerita sepenuhnya. Terkadang ada beberapa rasa yang aku pendam dan tak kuutarakan secara langsung, terutama tentang cinta. Aku begitu tertutup. Ibuku pun menyadari hal itu. Maka ketika berbicara tentang laki-laki hanya nasehat-nasehat saja tentang bagaimana lelaki yang baik itu. Sifat tertutupku tentang cinta semakin menjadi-jadi ketika tiga tahun lalu. Ibu tak merestuiku dengan lelaki yang aku pacari dan berulang kali membandingkannya dengan lelaki lain yang pernah dekat denganku sebelumnya. Aku menjadi ragu dengannya dan membuatku memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu. Alasan lain mungkin karena semenjak aku memasuki pondok pesantren di Garut. Kami tak banyak berkomunikasi. Ibu jarang sekali mengunjungiku selama enam tahun di sana, mungkin bisa dihitung berapa kali ibu sempat mengunjungiku. Padahal saat itu adalah masa-masa dimana aku tumbuh dewasa. Terkadang aku ingin marah. Rasanya seperti diasingkan. Bahkan semenjak taman kanak-kanak, ibu jarang sekali mengantarkan aku ke sekolah selayaknya ibu teman-temanku sementara rumah mereka juga dekat, aku hanya diantar sampai jalan raya. Akhirnya aku hanya bisa meminta tukang becak di depan rumahku untuk membantu menyebrang di jalan raya itu. 

Tentu saja aku mencintai ibu. Hanya saja aku tak menunjukkannya secara langsung. Diam-diam aku selalu mengagumi ibuku. Dia cantik dan cerdas. Konon ketika dia muda ada begitu banyak lelaki yang mengejar, bahkan sederat nama lelaki yang saat ini terkenal pun ada beberapa diantaranya yang pernah menaruh hati pada ibu. Dia juga sangat aktif berorganisasi, tegas, dan selalu penuh semangat. Ibu senang menulis artikel di koran lokal untuk menyuarakan aspirasinya secara pribadi, dan setiap kali tulisannya dimuat, aku selalu mengklipingnya dan menjadikan tulisannya sebagai inspirasiku. Kini apa yang ditanamkan ibu dalam hidupku begitu menancap kuat dalam benakku, semua nilai itu adalah tentang makna akan hidup mandiri. Betapa pentingnya bagi seorang perempuan untuk hidup mandiri dan kuat. Dulu hal yang kadang membuatku heran adalah entah mengapa ibu memilih bapak. Aku tak mengatakan bapakku bukan lelaki yang baik. Bapakku hanya seorang anak Kyai, miskin, dengan wajah biasa-biasa saja dan saat itu bapak juga belum berpendidikan tinggi. Baru akhir-akhir ini aku mengetahui bahwa ibu begitu mementingkan aspek agama dan kesederhanaan. Ibu bisa saja mencari lelaki lain yang lebih tampan, kaya, anak orang terkenal atau juga lebih pintar. Tapi jika itu terjadi mungkin aku takkan ada di dunia ini. Jadi memang itulah takdir. 

Hubunganku dengan ibu menjadi dekat kembali semenjak beberapa bulan yang lalu. Ibu telah selesai kuliah teori dibangku S2 sejak tahun 2006 namun belum resmi karena belum menyelesaikan tesis-nya. Semenjak aku menulis skripsi, ibu juga menjadi antusias untuk ikut menyelesaikan tesis-nya sehingga kami bercita-cita bisa wisuda secara bersama-sama di bulan Februari nanti. Semangatku juga menjadi terpacu. Aku terus menerus mendorong ibuku segera menyelesaikan dengan berbagai macam cara mulai membantunya mengetik, memberinya motivasi, mendorongnya untuk membaca dan mencarikannya referensi untuk tesis. Terkadang aku memintanya untuk terus terjaga hingga malam untuk membaca buku atau memintanya agar tidak menunda-nunda untuk bimbingan. 

Bodohnya, aku tak pernah menyadari apapun. Aku tak pernah menyadari bahwa aku telah mendorongya terlalu keras hingga akhirnya ibu drop dan masuk UGD. Aku melupakan bahwa ibu tak semuda dan segesit aku. Apa yang dia kerjakan juga lebih banyak dari yang pernah aku bayangkan. Aku memintanya untuk segera menyelesaikan tesis hanya demi acara ceremonial wisuda saja sementara hal itu telah memaksanya mengorbankan kesehatannya dan nyaris nyawanya. Namun demi tuhan apa yang aku lakukan hanya semata-mata karena ingin mewujudkan apa yang telah kami berdua impikan. Ibu maafkan aku. I'm sorry if I'm not a good daughter for you. 



Ingin kudekat dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku 
Dengan apa membalas.. 
Ibu.. 
Ibu...


Suasana hatiku ini membuatku terngiang-ngiang tentang lagu Iwan Fals yang berjudul Ibu dan membuat aku semakin begitu merasa bersalah. Ya Allah sembuhkan ibuku. Bantulah dia untuk menjadi sehat dan mampu bangkit kembali tak peduli kami mampu wisuda bersama atau tidak. Aku hanya ingin ibu tetap hidup lebih lama agar aku mampu membalas semua yang telah dia berikan.




M. 

Hari dimana hujan tak kunjung berhenti, November 2012.

Sabtu, 24 November 2012

Membaca Cerpen: Pada Satu Bangku di Dunstable Downs

Hari itu rasa jenuh kembali muncul, di kantor ini rutinitas selalu saja sama. Setiap tepat pukul 12.00 siang tiba, tak ada yang keluar kantor untuk membeli makan siang. Mereka semua telah menyiapkan bekal masing-masing dari rumah. Di kota Luton, orang kantoran lebih memilih membawa bekal. Alasannya, mereka harus kembali kekantor tepat pukul 12.30. Sementara membeli makan siang diluar lebih mahal dan harus menunggu antrian panjang. “Tidak enak rasanya kembali ke kantor terlambat”, ujar Matt kepadaku. 

Matt adalah seorang key worker di tempat ini dan sekaligus bosku. Dia berperawakan gendut kulit putih. Dia lahir di London dan memilih menetap di Luton setelah bertemu dengan pacarnya, Joey. Matt orang yang baik dan pengertian, ketika aku hendak kembali ke Indonesia. Dia menghadiahiku kumpulan puisi bahasa Inggris terfavorit di Britania Raya edisi BBC. Dia mengetahui bahwa aku suka sastra, hanya karena aku sering mengutip salah satu puisi terkenal berjudul She walks in Beauty karya sastrawan Inggris bernama Lord Byron. Aku tak menyangka dia juga amat menyukai puisi itu. Sejak itu terus saja dia memberitahuku mengenai puisi-puisi yang masyhur lainnya tapi tentu saja aku tak pernah tahu. Aku mengetahui puisi She Walks in Beauty ketika aku berada di bangku Madrasah. Puisi itu sering dipakai lomba membaca puisi dalam bahasa Inggris, aku pernah mengikuti lomba semacam itu walaupun aku tak pernah menang. 

Setelah makan siang usai, kami segera melanjutkan pekerjaan masing-masing. Aku disana bekerja bersama work partner untuk membuat film dokumenter tentang kota Luton. Proyek kecil-kecilan untuk mendokumentasikan tentang suasana multikultur di kota Luton yang begitu erat. Dan aku mendapat bagian mengerjakan naskah dan mengatur jadwal untuk wawancara dengan narasumber dalam film itu. Naskah skenario film dokumenter yang aku tulis ini entah mengapa tak selesai-selesai. Aku merasa begitu jenuh dan sulit mendapatkan ide kala itu. Aku khawatir bahkan sampai waktu aku pulang ke Indonesia nanti, naskah film dokumenter ini juga tak usai. Tiba-tiba temanku satu proyek datang memintaku untuk melanjutkan pengambilan gambar, tentu saja tempat pengambilan gambarnya harus menarik, untuk itu perlu mencari sedikit inspirasi pengambilan gambar. Aku tentu saja tidak menolak ide itu. Akan lebih menyenangkan jika bisa berjalan-jalan ke suatu tempat dari pada berdiam diri di kantor. 

Lalu kukatakan pada Matt bahwa kami membutuhkan beberapa objek menarik tentang Luton. Dia memberikan kepada kami banyak opsi tempat seperti Wardown Park atau Stockwood Museum, sebetulnya aku sudah beberapa kali ketempat itu. Tak lama kemudian dia menyarankan pada kami Dunstable Downs atau Woburn Abbey. Setelah lama berdiskusi akhirnya kami memilih pergi ke Dunstable Downs, karena nampaknya pergi ke Woburn Abbey harus menempuh waktu lebih lama untuk sampai kesana. Padahal aku sangat ingin pergi ke sana, aku membayangkan pemandangan tempat itu seperti rumah dan pekarangan milik keluarga bangsawan Inggris bernama Mr. Darcy di film Pride and Prejudice. Film romantis favoriteku. 

Jalanan menuju Dunstable Down memang menanjak meski tidak terjal. Beruntung kami pergi diantar dengan mobil sehingga tidak harus menggunakan angkutan umum, karena sudah dipastikan kami harus berjalan sangat jauh. Ketika sampai di puncak, aku baru menyadari bahwa tempat ini memiliki pemandangan yang luar biasa. Bukit-bukit yang terbentang luas. Melambung di atas padang rumput yang mempesona. Ini benar-benar indah. Dunstable Downs adalah daerah dengan titik tertinggi di Bedfordshire. Dengan bukit-bukit sedikit landai terdapat tempat khusus yang disediakan untuk olah raga angin, layang-layang terbang atau yang disebut juga gliding. Punggungan angin yang menyapu menjadi kondisi ideal untuk berbagai olahraga layang-layang terbang. Pada hari-hari libur konon tempat ini biasa dijadikan tempat piknik yang menyenangkan. 




Disana sengaja disediakan bangku-bangku taman yang permanen, agar orang-orang yang datang bisa duduk sambil menikmati pemandangan yang indah dan hamparan bukit yang menawan. Tak sedikit pula pasangan-pasangan yang datang dan duduk-duduk disana.

Ketika aku duduk di bangku itu, aku merasakan suasana yang begitu romantis. Di setiap bangku terukir nama sepasang kekasih yang nampaknya sudah lama meninggal dunia. Sekelompok orang sengaja mengukir nama-nama orang tertentu agar selalu terkenang di bangku itu. Juga untuk menunjukkan perasaan betapa berartinya mereka yang telah pergi itu, konon nama mereka yang terukir disana akan bersama-sama bahkan sampai di surga. Harapan tentang suatu keabadian.

Kemudian ide gila ini muncul begitu saja di kepalaku. Aku tuliskan namaku dan namamu disana, sambil melirik kekanan dan kekiri karena takut ada orang yang menangkap basah apa yang telah aku perbuat. Aku sematkan nama kita berdua, entah bagaimana jiwa vandalisme itu muncul hanya untuk berusaha mengabadikan nama kita berdua. Mungkin ada sebersit rasa rinduku yang mengumpal kuat kepadamu. Lalu setelah usai, diam-diam aku berharap dua nama itu tetap ada disana-pada satu bangku di Dunstable Downs. Tanpa pernah tahu sampai kapan...



M.
Yogyakarta, November 2010.

Kamis, 22 November 2012

Membaca Adora Svitak: An Inspiring Girl

Adora Svitak adalah seseorang yang akhir-akhir ini memberi saya inspirasi, sering juga dipanggil dengan sebutan "a tiny literary giant". Dia adalah seorang anak muda Amerika yang baru berumur 15 tahun dan telah menulis begitu banyak karya mulai dari tulisan feature, puisi, atau esai baik di blog pribadinya (http://adorasv.blogspot.com/ dan http://www.adorasvitak.com/) atau pun di media massa, tulisannya mulai di publish dalam bentuk buku sejak dia berumur 7 tahun berjudul Flying Fingers (kumpulan cerita pendek yang berisi tips dan petunjuk untuk penulis) dan Dancing Fingers (buku koleksi puisi yang ini dibantu oleh saudari perempuannya bernama Andrianna). Sedangkan dia mulai mengenal dunia menulis sejak umur 4 tahun! 



Apa yang sebetulnya yang dilakukan Adora? 

Adora adalah tipe anak yang memiliki kemampuan cepat dalam menulis, dia bisa menulis antara 80-112 kata per menit, membaca 2-3 buku per hari, dan menulis sekitar 330.000 kata per tahun. Adora begitu percaya diri dengan melihat dirinya sebagai "pendidik, penyair dan kemanusiaan," tetapi bagi orang-orang di seluruh dunia dia hanyalah seorang anak dengan otak orang dewasa dan jadwal harian yang melelahkan bahkan sering tidak berakhir sampai 11 malam. Dia betul-betul tidak ingin membatas dirinya sendiri untuk terus berkarya. 

Pertama kali saya mengetahui tentang Adora ketika kebetulan menyaksikan video TED dia menjadi pembicara dengan judul “What Adult can Learn from Kids?”. Kala itu dia baru saja berumur 10 tahun, tetapi sudah bisa tampil dengan sangat percaya diri di acara seprestisius TED dihadapan beribu orang-orang yang notabene intelektual dan berpengalaman. Bahkan saat ini dia juga sudah memiliki kolom pribadi di media massa sekaliber Huffington Post Teen dan banyak menuliskan bermacam-macam esai (adora-svitak di huffington). 



Tentu saja ini membuatku semakin iri. Kemana saja saya saat sedang berumur 4 tahun? 10 tahun? Atau bahkan 15 tahun? 

Dulu ketika kita masih muda, banyak hal yang ingin kita lakukan namun kita justru menunda dengan dalih “Ah, nanti saja kalo sudah besar atau dewasa”, sementara begitu kita tumbuh besar dan dewasa cita-cita itu sedikit demi sedikit menjadi luntur dan terlupakan. Selama ini, kita memang selalu menyembunyikan diri dibalik topeng “anak-anak” karena orang dewasa selalu menghambat anak-anak untuk tidak terlalu banyak bertingkah, beraktivitas, berekplorasi atau berpetualang, sehingga anak-anak merasa minder dan begitu mudah tergantung dengan orang yang lebih tua. Adora membuka mata saya bahwa dunia anak-anak itu tidak seharusnya dibatasi tetapi dibimbing, mereka juga harus diberikan kebebasan untuk berekplorasi atau bahkan berkarya. Adora meyebutkan dengan istilah “the oppression of attention”, kekhawatiran dan pembatasan perhatian yang terlalu berlebihan dari orang tua terhadap anak-anak yang dikritik oleh Adora, “So how do people grow up in ways that minimize conflicting feelings of independence desired versus dependence missed? Perhaps as the children start to fly from the quintessential "nest," parents can find some new "children" of sorts to lavish attention on”. Karena larangan-larangan yang berlebihan dari orang tua yang posesif terhadap pehatian sang anak terkadang justru menimbulkan konflik batin bagi sang anak yang menyebabkan anak tersebut justru menjadi pasif atau pemberontak. 


Tetapi tentu saja, apa yang di raih oleh Adora tidaklah terlepas dari jasa kedua orang tuanya terutama ibunya yang mendorong Adora untuk bisa berprestasi sedemikian hebatnya. Adora Svitak bersekolah dasar dengan ibunya. Hasil pendidikan ibunya tersebut memang luar biasa, pada umur 11 tahun Adora bukanlah lagi seorang murid dia bahkan menjadi guru. Dia mengaku orang tuanya memang tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bahan buku bacaan bagi Adora. Dia pun melahap berbagai macam jenis buku, seolah-olah buku itu adalah perman atau coklat bagi anak-anak pada umumnya. Sejak mengetahui kesukaan dan bakat Adora dalam hal menulis dan kritis berpendapat, ibarat gayung bersambut, kedua orang tuanya segera saja memberikannya laptop pribadi untuk menyalurkan bakat yang ada dalam diri Adora. 

Memang selalu ada pertanyaan seperti: apakah akan ada masalah ketika dia menjadi tumbuh dewasa? Dimana dia harus mulai berbaur dengan masyarakat normal dan mulai menjalani masa remaja selayaknya. Setiap orang tentu mempunyai masalah masing-masing. Tetapi apa yang dia lakukan di masa muda memberikan banyak inspirasi bagi saya, bahkan kini dia aktif dalam berbagai kegiatan social-activism dan menjadi pembicara untuk anak muda diberbagai tempat di dunia dan mempromosikan kebiasaan membaca dan mencintai literatur (interview with adora). So, nobody can stops you to be creative or productive person, not even age or others people

Semoga tulisan ini juga memberi inspirasi. Selamat Berkarya! ;) 

M. 


Yogyakarta, November 2012.

Rabu, 21 November 2012

Reading: The Harsh Realities of Life

You may ask, can we face reality? can we do the right thing? All of those questions always make us worry, even learn to face reality can spend more time doing something constructive about things that you have control over.


Akhir-akhir ini aku sering datang ke pengadilan negri dan entah mengapa suasana di pengadilan selalu membuatku semakin dekat dengan pahitnya realitas. Orang-orang berlalu lalang, sibuk kesana kemari dengan wajah yang penuh kegelisahan. Sikap itu ditunjukkan dengan beberapa orang yang sibuk mengecek hp, membolak-balik berkas-berkas penting, kulihat juga seorang lelaki disudut ruang tunggu tak henti-hentinya merokok demi menghilangkan kecemasannya yang tak kunjung reda. Belum lagi beberapa polisi yang berjaga-jaga dengan membawa senjata berdiri dengan wajah serius di depan pintu masuk pengadilan. Suasana seperti ini memang selalu penuh dengan tekanan. 

Hari ini aku juga harus mengikuti monitoring persidangan di salah satu pengadilan negri di provinsi DIY. Paling tidak sedikitnya aku harus mengikuti lima kali persidangan dan meminta tanda tangan pak Hakim sebagai bukti bahwa aku telah mengikuti jalannya persidangan. Ini membuatkan sering berada di Pengadilan menunggu untuk beberapa jadwal sidang yang kadang juga tak pasti dan bolak-balik untuk mengurus berkas. 

Aku sendiri sudah hampir satu jam menunggu dimulai persidangan perkara perdata yang pertama, persidangan perkara perdata harus selalu menunggu ruang sidang kosong sampai persidangan perkara pidana selesai, bagaimanapun aspek publik harus lebih penting daripada aspek privat. Hasilku bertanya informasi sana-sini, sidang selanjutnya mengenai perbuatan melawan hukum tentang perkara waris dan sengketa tanah. Perkara perebutan harta warisan memang selalu banyak melibatkan penggugat ataupun tergugat. Hari itu yang berperkara adalah kakak yang menggugat adiknya mengenai objek waris yang belum dibagikan akan tetapi si adik sudah menjadikan jaminan agungan kredit di suatu bank. Hal itu terjadi atas inisiatif dari pengurus bank terkait. Persidangan berlangsung cukup menarik karena masing-masing pihak menghadirkan saksi yang memberatkan. 

Hari yang sama, aku mengikuti persidangan perdata terakhir di PN berupa pemohonan. Dua orang perempuan sama-sama datang ke PN memohon atas perwalian anak mereka untuk mengurus harta warisan peninggalan sang suami. Awalnya aku tak paham mengapa kedua perempuan itu memberikan saksi yang sama untuk dikabulkannya permohonan tersebut. Bahkan pak Hakim pun juga heran, ternyata mereka adalah istri pertama dan kedua yang sama-sama tinggal di desa yang sama meskipun rumahnya berbeda. Dengan sedikit guyonan sambil melirik ke arahku yang memang sedikit terkejut kalau mereka memang perempuan-perempuan yang telah dipoligami, pak Hakim berkata, “Ini pasti almarhum suaminya ganteng ya? Sampai bisa punya dua istri dan tinggal di kampung yang sama dengan rukun, bahkan mbaknya mahasiswa sampai terheran-heran”. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi apa kata pak Hakim. Aku bahkan memastikan bahwa kedua perempuan tersebut merupakan istri yang sah atau bukan hasil nikah siri dan memang mereka dinikahi dengan sah, ada bukti surat pernikahan yang ditinggalkan. Bagiku, pemandangan yang jarang melihat dua perempuan rukun hasil dimadu, terkadang ada sinisme dalam hatiku, jangan-jangan mereka rukun hanya saat pembagian harta warisan saja tidak di kehidupan sebelumnya. 

Beberapa hari sebelumnya aku pun sempat mengikuti persidangan gugatan perdata mengenai perkara perceraian. Begitu banyak orang menginginkan pernikahan tapi disisi lain banyak pula yang justru berakhir dengan perceraian. Meski persidangan berakhir dengan adanya upaya damai dari pihak penggugat (suami) namun tetap saja mengirimkan surat gugatan perceraian juga sudah ada niat untuk bercerai. Akhir-akhir ini aku juga banyak berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang berkaitan dengan berkas-berkas perceraian di Hukum Acara. Beberapa hal memang memberiku banyak pelajaran bahwa pernikahan itu bukan hanya berdasarkan perasaan. Cinta saja tidak akan pernah cukup untuk membangun sebuah keluarga. Sifat manusia yang begitu mudah berubah, lupa, dan terlena dengan apa yang mereka miliki menjadikan komitmen begitu penting untuk menjaga keutuhan sebuah hubungan. 


Inilah yang aku katakan dengan pahitnya realitas, hanya demi harta antara kakak-adik saling bersengketa. Padahal mereka berasal dari rahim yang sama, seolah-olah tak ada lagi hubungan darah itu. Atau mengenai perkara perceraian dan poligami, yang memang terasa pahit dan begitu enggan kita membicarakan hal-hal semacam itu meskipun kita juga tahu bahwa hal semua itu bukan hanya cerita bualan, semua itu adalah hal yang mungkin terjadi di kehidupan kita. Meski yang aku ceritakan itu bukan merupakan realita yang harus aku hadapi. Sebetulnya ada banyak hal lain yang harus aku hadapi dan memaksaku untuk berubah. Nobody likes to admit that it is time to change behaviours and attitudes. Yet the time comes where wisdom demands that we acknowledge that what we are doing is not generating the results we want. This is especially true when we know what works because we were doing it long enough to see it work. Yet, out of laziness and foolishness, we stop doing what works and the results we worked so hard to achieve gradually melt away. Semakin kita dewasa semakin kita tahu bahwa hidup tidak akan pernah bisa datar-datar saja. Masalah akan selalu ada. Kita tak akan pernah menyangkal bahwa terkadang pahitnya realita itu adalah bagian dari kehidupan yang harus kita jalani. This is the reason why I’m still nervous to face reality. Reality does sucks. But here's the things is looking at reality does not mean giving up hope. It's where you find hope in what you can change...and not trying to change others.

M.
Yogyakarta, November 2012.

Jumat, 02 November 2012

Be strong!


When life seems grey~
Give a little colour,
imagine your dreams then
keep going and don't give up :)

M.
Yogyakarta, November 2012.


Kamis, 01 November 2012

Welcome November Rain

Di akhir bulan ini hampir setiap hari hujan turun. Kini sudah mulai memasuki November. Dan bulan ini memang selalu identik dengan hujan. Kadang hujan itu menyenangkan, kala udara dingin senyap yang diam-diam memelukku. Irama air menetes dan aroma tanah yang begitu segar menerobos kerongga-rongga hidungku. Langit kelabu membawa suasana seolah-olah sendu namun begitu menenangkan hanya bunyi rintikan air yang terus saja berirama. Seolah-olah irama rintikan itu terus memanggilku. Tik..tik..tik... 

Hujan mengingatkanku pada satu momen tertentu dalam hidupku. Dimana saat itu aku masih amat sangat muda. Kelas 1 SD, sekitar umur 6 tahun, aku selalu memperkenalkan diri dengan nama T-I-K-A. Karena nama itu teman-temanku gemar sekali menggodaku dengan sebuah nyanyian anak-anak. Tik, tik, tik bunyi hujan diatas genting... Begitulah kira-kira salah satu liriknya. Maka teman-temanku yang usil, mereka seolah-olah hendak menegurku, “Tik! Tik!”. Kemudian ketika aku memalingkan muka kearah mereka tiba-tiba mereka kembali menyanyikan lagu itu, tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua. Argh! Tentu saja aku kesal. Namun semua itu nampak lucu sekarang. Menggelikan. Mengesankan. 

Kini hanya orang-orang dekat saja yang memanggilku dengan nama Tika. Tidak banyak tapi justru itu membuktikan kedekatanku dengan mereka. Kebanyakan dari mereka yang memanggilku dengan nama itu, tentu tahu tentang nama kecilku. Nama kesayangan pemberian orang tua. Nama itulah yang terkadang aku rindukan. Oleh sebab itu aku selalu merasa hujan itu terus memanggilku. Seolah-olah kami begitu dekat. In this very moment, I choose to focus on the good feelings of rain. It provides a warm sense of security. Because rain is water and water is life. While there are mishaps caused by rain, rain as a metaphor is invariably life enriching. There is torrential downpour which destroys, but mostly rain is revered because it is a necessary component of growth.

Dulu hujan selalu membuatku menari-nari. Begitu menyenangkan bermain-main kesana-kemari tanpa memikirkan apapun. Tanpa mengkhawatirkan apapun. Tanpa ekspektasi. Kini enam belas tahun kemudian, bulan November menjadi bulan yang semakin penuh misteri. Dan nasibku pun akan ditentukan oleh bulan ini. Aku diam-diam selalu memohon. Berdoa dalam hati kecil. November, jadikanlah semua momen di bulan ini menjadi lebih baik. Less worries. Less impulsive. Less pressure. Hujan di bulan November antarkan aku pada impian-impian itu...

Di telingaku, hujan terus memanggilku dengan nada lagu itu, tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua... 


M. 
Yogyakarta, hujan di awal bulan November 2012.